TRIBUNMADURA.COM - Pemanfaatan dana Program Indonesia Pintar (PIP) oleh seorang warga Kabupaten Sukabumi, viral di media sosial (medsos), setelah dinilai tak biasa namun inspiratif.
Dana bantuan pendidikan sebesar Rp 450 ribu yang diterima seorang siswa SD Negeri Cisitu 2 Sukabumi tidak langsung digunakan untuk perlengkapan sekolah, melainkan dibelikan seekor kambing sebagai bentuk tabungan jangka panjang untuk masa depan pendidikan anak.
Keputusan tersebut diambil oleh Weni, orang tua siswa, karena kebutuhan sekolah anaknya telah terpenuhi.
Ia memilih berinvestasi melalui ternak kambing agar dana bantuan tidak habis terpakai dan justru bisa berkembang.
Seiring waktu, kambing tersebut berkembang biak hingga menghasilkan keuntungan setelah sebagian dijual, sementara hasil penjualannya tetap disimpan khusus untuk biaya pendidikan anak.
Kisah ini menuai apresiasi luas dari netizen dan dinilai sebagai contoh pemanfaatan dana bantuan secara bijak.
Selain mengajarkan nilai menabung dan investasi sejak dini, langkah tersebut juga menunjukkan upaya orang tua menjaga keberlanjutan pendidikan anak.
Weni berharap dukungan pemerintah melalui bantuan pendidikan dapat terus berlanjut agar anaknya bisa melanjutkan sekolah hingga jenjang lebih tinggi.
Awal cerita ini mencuat setelah pengelola akun Instagram @mood.jakar*** pada Rabu (14/1/2026), mengunggah ulang sebuah video dari TikTok @sukabumi577 yang menampilkan pengalaman seorang ibu penerima bantuan pendidikan.
Dalam video tersebut, sang ibu menceritakan bahwa dana PIP sebesar Rp 450 ribu yang diterima anaknya tidak langsung digunakan untuk kebutuhan sekolah.
Baca juga: Baru 81 Siswa, Pendamping PKH Kejar Target Sekolah Rakyat di Sumenep
Ia memilih membelikan seekor kambing sebagai bentuk tabungan jangka panjang.
Kompas.com telah menghubungi pihak yang bersangkutan dan memperoleh konfirmasi bahwa dana PIP yang diterima keluarga siswa SD Negeri Cisitu 2, Kampung Cisitu, Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dimanfaatkan untuk berinvestasi melalui ternak kambing.
Pemanfaatan tersebut dilakukan sebagai bentuk tabungan jangka panjang bagi kebutuhan pendidikan anak.
Weni, orang tua siswa SD Negeri Cisitu 2, menceritakan bagaimana ia memanfaatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang diterima anaknya, Zahra.
Ia mengaku kondisi ekonomi keluarganya tergolong pas-pasan, namun bersyukur Zahra terdata sebagai penerima bantuan pendidikan dari pemerintah.
“Keluarga kami kalau dari segi ekonomi sedang lah. Karena di sini semua anak di sekolah didata, cuma mungkin sudah rezeki anak aku juga dia dapat PIP,” ujar Weni saat dihubungi Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Karena perlengkapan sekolah Zahra sudah terpenuhi saat pertama masuk SD, Weni memilih tidak langsung menggunakan dana PIP untuk kebutuhan sekolah.
Ia justru mengambil langkah yang tak biasa: membelikan seekor kambing agar uang bantuan tersebut tidak habis terpakai.
“Saya sengaja belikan anak kambing karena waktu masuk SD anak saya perlengkapan alhamdulillah sudah ada semua, sudah lengkap. Jadi pas dapat PIP yang pertama nggak beli perlengkapan sekolah dulu,” tuturnya.
Baca juga: Jadi 176, Kuota Beasiswa Pemkab Sumenep Bertambah di Tahun 2026, Terbagi dalam 4 Kategori
Weni mengaku keputusan itu diambil agar dana PIP benar-benar tersimpan dan berkembang.
Ia khawatir jika hanya disimpan dalam bentuk uang tunai, nilainya tidak akan bertambah.
“Karena niat saya nabung buat anak saya masuk ke jenjang berikutnya. Kalau cuma ditabung uangnya nggak akan bertambah, cuma segitu saja,” katanya.
Keputusan tersebut ternyata membawa hasil. Kambing yang dibeli dari dana PIP berkembang biak, hingga akhirnya sebagian dijual.
Dari penjualan itu, uang yang semula Rp 450 ribu kini bertambah dan tetap disimpan khusus untuk kebutuhan pendidikan Zahra.
“Alhamdulillah uang yang awalnya 450 ribu sekarang sudah bertambah karena kambing yang saya beli waktu itu sudah beranak-pinak. Saya sudah menjual dua ekor dan uangnya masih saya tabung,” ungkap Weni.
Untuk kebutuhan sekolah sehari-hari, Weni mengandalkan dana PIP yang diterima pada tahun-tahun berikutnya.
“Perlengkapan sekolah saya beli dari PIP yang tahun berikutnya, yang dapat tiap satu tahun sekali,” jelasnya.
Ia menegaskan, keputusan tersebut juga diketahui dan disetujui oleh sang anak.
Weni mengaku selalu menjelaskan bahwa tabungan itu ditujukan demi masa depan Zahra.
“Anak saya juga tidak keberatan uang PIP-nya saya belikan kambing, karena saya jelaskan itu tabungan untuk masa depan dia juga,” katanya.
Menurut Weni, pihak sekolah pun tidak pernah mempersoalkan penggunaan dana tersebut.
Bahkan, ia menyebut kepala sekolah sebelumnya justru mendorong siswa penerima PIP dan PKH agar menyisihkan sebagian dana untuk pendidikan lanjutan.
“Di sekolah kami juga tidak ada larangan. Waktu itu kepala sekolah yang dulu malah menyarankan setiap siswa yang dapat PIP atau PKH agar uangnya ditabung sebagian untuk pendidikan selanjutnya,” ujarnya.
Ke depan, Weni berharap dukungan pemerintah terhadap pendidikan anaknya tidak terhenti setelah lulus SD.
Ia ingin Zahra bisa terus melanjutkan sekolah, bahkan hingga perguruan tinggi.
“Harapan saya ke pemerintah, semoga setelah lulus sekolah dasar anak saya masih tetap dapat bantuan, biar anak saya bisa sekolah ke jenjang berikutnya, kalau bisa sampai kuliah,” ucapnya lirih.
“Karena saya selalu berharap anak saya tidak seperti saya. Saya ingin dia punya masa depan yang lebih baik,” jelasnya.