DLHK Jateng Cek Potensi Pembalakan di Gunung Slamet, Teliti Kayu Gelondongan dari Banjir Bandang
January 28, 2026 10:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Kementerian Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah (Jateng) melakukan penelusuran asal-usul kayu gelondongan yang terbawa dalam banjir bandang dari Gunung Slamet.

Kayu-kayu tersebut bakal diteliti untuk memastikan apakah ada pembalakan liar di Gunung Slamet atau kayu dari pohon yang tergerus banjir.

"Kami masih teliti untuk jenis kayunya, dari mana."

"Hari ini masih jalan dengan tim Balai Hutan Lestari Kementerian Kehutanan," ujar Kepala DLHK Jateng Widi Hartanto selepas acara diskusi publik bertajuk "Bencana Ekologis, Tanggung Jawab Hukum dan Pertobatan Ekologis: Mencari Jalan Pemulihan Lingkungan Hidup" pada Forum Ikatan Sarjana Katolik (Iska) di Wisma Keuskupan, Kota Semarang, Rabu (28/1/2026).

Baca juga: 146 Rumah Rusak Akibat Banjir Bandang Gunung Slamet di Purbalingga, Warga Butuh Bantuan Pakaian

Sejauh ini, lanjut Widi, kayu-kayu gelondongan yang hanyut berupa pohon sengon yang diduga berasal dari lahan hutan rakyat. 

Sementara, kayu gelondongan yang berada di kawasan pantai Tegal, berupa ranting dan batangan kayu tidak berukuran besar. 

Ketika disinggung di kawasan Brebes, yang diduga kayu berasal dari bekas pembukaan lahan perusahaan geotermal, Widi membantah.

"Kan geotermal itu sudah berhenti ya untuk eksplorasinya. Sudah berhenti beberapa tahun yang lalu."

"Namun, nanti kami cek sebenarnya, kayu-kayu itu berasal dari mana," katanya.

Selepas penelitian asal-usul kayu itu terungkap, Widi menyebut, ketika ditemukan pelanggaran maka akan koordinasi dengan tim perlindungan hutan dari Kementerian Kehutanan. 

"Kami juga akan koordinasi dengan Perhutani," bebernya.

Lahan Kritis di Gunung Slamet

Ia menambahkan, di kawasan lereng Slamet ada sejumlah luasan lahan kristis. 

Akan tetapi, ia tidak mengetahui jumlah pasti luasan lahan tersebut. 

Adanya lahan kritis itu, katanya, mengakibatkan tutupan lahan di lereng Gunung Slamet juga berkurang. 

"Ya kami harapkan untuk bisa secepatnya ada rehabilitasi atau menggunakan pola Agroforestry (wana tani)."

"Kemudian, kami juga mendorong misalnya untuk tanaman semusim, nanti bisa ada terasering supaya laju erosi ini ini bisa bertahan," terangnya. 

Baca juga: Gunung Malang Purbalingga Terisolasi Akibat Banjir Bandang Gunung Slamet, Warga Pengungsi Jalan Kaki

Banjir bandang ini menerjang sejumlah wilayah, di antaranya Tegal, Pemalang, Brebes, Purbalingga, dan Banyumas.

Banjir membawa material tanah, batu, dan pohon.

Di Purbalingga, banjir bandang merusak ratusan rumah dan memaksa 1.121 warga mengungsi.

Sementara, di Tegal dan Banyumas, banjir bandang merusak tempat wisata air di Guci dan Baturraden.

Sementara, di Tegal, banjir membawa gelondongan kayu hingga ke pantai. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.