TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Simak sejumlah informasi menarik seputar Kota Padang dirangkum dalam populer Padang setelah tayang 24 jam terakhir di TribunPadang.com.
Pertama, upaya mengatasi kekeringan yang melanda Kota Padang tidak cukup hanya dengan penanganan darurat.
Pengamat Lingkungan Universitas Andalas (Unand), Syofiarti, menilai diperlukan solusi jangka panjang, mulai dari reboisasi atau penanaman pohon, pengelolaan sumber daya air yang terencana, hingga peningkatan peran serta masyarakat untuk mencegah kerusakan hutan.
Selanjutnya, Wali Kota Padang Fadly Amran merespons sejumlah kritik yang disampaikan Anggota DPRD Kota Padang terkait penanganan kekeringan di beberapa wilayah.
Ia menilai masukan tersebut sebagai bagian dari dinamika pengawasan dan kerja bersama, namun menekankan pentingnya penyampaian kritik yang didukung data serta kondisi faktual di lapangan.
Terakhir, penyintas korban galodo atau banjir bandang yang menempati hunian sehat dan layak (hunsela) di Kampung Tanjung, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mengeluhkan minimnya WC dan aliran listrik.
Hal itu disampaikan oleh penghuni hunsela yang sebelumnya kehilangan rumahnya akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 yang lalu.
Simak selengkapnya berikut ini:
Upaya mengatasi kekeringan yang melanda Kota Padang tidak cukup hanya dengan penanganan darurat. Pengamat Lingkungan Universitas Andalas (Unand), Syofiarti, menilai diperlukan solusi jangka panjang, mulai dari reboisasi atau penanaman pohon, pengelolaan sumber daya air yang terencana, hingga peningkatan peran serta masyarakat untuk mencegah kerusakan hutan.
Diketahui bahwa telah terjadi kekeringan pada beberapa lokasi yang ada di Kota Padang akibat rusaknya irigasi pascabencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 yang lalu.
Wilayah yang paling terdampak kekeringan berada di Kelurahan Lambung Bukit kawasan Batu Busuk hingga ke Kelurahan Kapalo Koto.
Kekeringan sudah membuat masyarakat sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih, sehingga harus bergantung pada bantuan air bersih yang setiap hari disalurkan.
Baca juga: Kekeringan Bikin Warga Padang Menderita, Pengamat Lingkungan Sebut Deforestasi Kurangi Resapan Air
Kondisi ini diperparah dengan terjadinya musim kemarau cukup panjang usai Kota Padang dilanda hujan lebat.
Aliran sungai, mata air hingga sumur warga ikut mengering. Sehingga warga membutuhkan ulur tangan pemerintah dalam penyediaan air bersih.
Syofiarti memberikan beberapa tips jangka pendek agar pemanfaatan air di musim kekeringan bisa maksimal.
Solusi pertama, masyarakat dapat menghemat air dengan memanfaatkannya secara efisien.
Tips kedua, warga juga bisa menggunakan sumber air alternatif seperti sumur bor, jika sumur galian tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Baca juga: Air Bersih jadi Kemewahan: Cerita Pengorbanan dari Kaki Jembatan Kuranji Padang
Sementara, untuk solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan dapat dilakukan berbagai pihak dengan cara reboisasi atau menanam pohon.
Kemudian, pengelolaan sumber daya air dengan perencanaan dalam penggunaan air, dan meningkatkan peran serta dan partisipasi masyarakat dalam rangka mencegah perusakan hutan.
"Peran serta dan partisipasi masyarakat ini merupakan bagian dari hak atas lingkungan hidup sebagaimana diatur pada Pasal 65 UU No.32 Tahun 2009 dan Pasal 70 UUPPLH," ujar Syofiarti.
Sedangkan untuk penyebab kekeringan, Syofiarti menyebut akibat deforestasi (penebangan hutan) dan perubahan iklim.
Baca juga: Dinilai Gagal Atasi Krisis Air Bersih Pascabencana, Wako Fadly Amran Minta Kritik Berbasis Data
Diketahui, deforestasi adalah proses penghilangan hutan secara permanen atau pengurangan luas hutan secara signifikan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (seperti penebangan liar, konversi menjadi perkebunan/pertambangan) atau bencana alam.
Menurut Syofiarti, deforestasi menyebabkan kurangnya penyerapan air, karena hutan yang selama ini memiliki kemampuan menyerap air hujan sudah ditebang.
Sehingga dampaknya, air hujan lebih cepat mengalir ke laut dan tidak bisa diserap oleh tanah secara maksimal.
"Penyebab awalnya dari deforestasi, hingga berdampak pada kekeringan saat ini. Faktor lain, dipicu oleh perubahan iklim," ungkapnya.
Di sebuah sudut Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, martabat sebuah keluarga kini diukur dari seberapa kuat mereka memikul jerigen.
Selasa (27/1/2026) siang, matahari tepat di atas kepala, namun Rosi masih setia berdiri di samping deretan ember yang mulai memudar warnanya akibat sengatan surya.
Bagi Rosi dan puluhan warga di RT 001 RW 008, air bersih kini telah berubah menjadi kemewahan yang harus diperjuangkan dengan peluh.
Sejak akhir tahun lalu, sumur-sumur yang selama puluhan tahun menghidupi mereka mendadak bungkam, menyisakan lubang tanah yang tandus dan berdebu.
Kekeringan yang melanda kawasan ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian ketangguhan mental bagi para orangtua.
Baca juga: Krisis Air Bersih di Kuranji Padang: Warga Menanti Solusi di Tengah Kekeringan Panjang
“Sumur di rumah benar-benar kering. Sejak musibah kekeringan ini melanda, tidak ada lagi air yang tersisa meski sudah digali dalam," ujar Rosi dengan tatapan kosong menghadap tumpukan galon kosong di hadapannya.
Di tengah krisis ini, sebuah pembagian peran yang haru terjadi di dalam rumah tangga.
Rosi dan suaminya, Yuhandri Syaf, sepakat untuk memprioritaskan air bersih hasil jerih payah mereka hanya untuk anak-anak.
Air yang mereka jemput dari kejauhan itu dianggap terlalu berharga jika digunakan untuk orang dewasa.
Setiap tetes air bersih yang berhasil dikumpulkan digunakan secara sangat hemat.
Fokus utamanya hanya satu, memastikan anak-anak mereka tetap bisa mandi dengan layak sebelum berangkat ke sekolah.
Bagi Rosi, pendidikan anak tidak boleh terganggu hanya karena badan yang tak terbasuh air bersih.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar: Hujan Lebat Berpotensi di Wilayah Palembayan dan Kayu Tanam
"Kebutuhan air yang kami jemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kami ingin mereka tetap percaya diri dan bersih saat belajar di kelas," tutur Rosi.
Ada harga yang harus dibayar demi kebersihan sang buah hati, yaitu kenyamanan orangtua itu sendiri.
Untuk urusan mandi dan mencuci pakaian, Rosi dan Yuhandri memilih untuk mengalah pada alam.
Mereka terpaksa menempuh perjalanan menuju Batang Air di bawah Jembatan Kuranji.
Di sana mereka membasuh diri dan mencuci sisa-sisa keringat harian.
"Kami biarlah mandi ke sungai saja. Biar anak-anak saja yang menggunakan air bersih di rumah," kata Rosi.
Pernyataan sederhana ini mencerminkan potret pengorbanan tanpa pamrih yang kini jamak ditemui di kawasan Pasa Ambacang akibat krisis air yang berkepanjangan.
Baca juga: Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Cek Prakiraan Cuaca 19 Daerah Sumatera Barat Hari Ini
Sang suami, Yuhandri, memikul beban fisik yang tak kalah berat. Saban hari, pagi dan sore, ia harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer dengan sepeda motor menuju sumur di dekat jembatan. Sembilan jerigen air menjadi beban tetap yang harus ia angkut setiap harinya.
Ada jalan pintas yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, jaraknya tak sampai setengah kilometer. Namun, rute itu menjadi mustahil dilewati saat tangan harus menjinjing jerigen-jerigen berat. Motor pun menjadi tumpuan satu-satunya meski harus memutar lebih jauh.
Kekeringan ini juga mengubah ritme hidup warga lainnya, seperti Yani. Baginya, sumur yang mengering sejak dua bulan lalu telah merenggut ketenangan hidupnya. Ia kini sangat bergantung pada aliran sungai Gunung Nago yang seringkali bermasalah.
Yani menuturkan, untuk sekadar memasak dan minum satu keluarga selama sehari, ia harus menguras energi untuk mengangkut sedikitnya tujuh ember air.
Jumlah ini sebenarnya jauh dari standar kecukupan, namun ia tak punya pilihan lain selain mencukup-cukupkan apa yang ada.
Baca juga: 312 Ribu Warga Sumbar Masih Miskin, Pengeluaran Rokok Kalahkan Telur Ayam dan Daging
Di sisi lain, ancaman kesehatan mulai membayangi pemukiman mereka. Yuhandri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap limbah rumah tangga yang kini menumpuk di saluran belakang rumah karena tidak ada air untuk menggelontorkannya. Tumpukan limbah itu kini mulai mengundang kawanan nyamuk.
Kehadiran mobil tangki dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Padang siang itu memang memberikan sedikit napas lega. Namun, bantuan tersebut dirasakan belum mampu menjawab dahaga warga secara tuntas karena jadwal kedatangannya yang tidak menentu.
Harapan warga kini membubung pada pemerintah dan relawan agar bantuan air bersih bisa datang lebih rutin, setidaknya dua tangki setiap hari.
Apalagi, bayang-bayang bulan suci Ramadan sudah di depan mata, di mana kebutuhan air untuk beribadah dan keperluan rumah tangga dipastikan akan meningkat dua kali lipat.
Wali Kota Padang Fadly Amran merespons sejumlah kritik yang disampaikan Anggota DPRD Kota Padang terkait penanganan kekeringan di beberapa wilayah.
Ia menilai masukan tersebut sebagai bagian dari dinamika pengawasan dan kerja bersama, namun menekankan pentingnya penyampaian kritik yang didukung data serta kondisi faktual di lapangan.
Fadly Amran menjelaskan, Pemerintah Kota Padang telah lebih dulu mengambil langkah konkret dengan menggelar rapat koordinasi lintas instansi bersama BPBPK dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat guna memetakan persoalan kekeringan yang terjadi di sejumlah titik.
Baca juga: Warga Kapalo Koto Keluhkan Minimnya WC dan Listrik Usai Huni Hunsela, 10 Unit MCK Segera Rampung
“Sekitar lima hari lalu kami sudah duduk bersama untuk memetakan persoalan ini. Alhamdulillah, hasilnya mulai terlihat," ujar Fadly Amran melalui keterangan resminya, Rabu (28/1/2026).
Kata dia, daerah Irigasi Lubuk Minturun yang menjadi kewenangan Pemko Padang saat ini sudah kembali dialiri air.
"Bahkan sebelumnya, aliran di sisi kanan dI Koto Tuo juga sudah normal,” sebutnya.
Selain itu, Pemko Padang juga telah melakukan pendataan menyeluruh terhadap wilayah terdampak kekeringan.
Data tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengajuan permohonan dukungan penanganan kepada Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK).
Menurut Fadly, sedikitnya terdapat 264 titik kekeringan yang telah didata secara rinci, lengkap dengan nama dan alamat lokasi.
Baca juga: Andre Rosiade Nilai Lambannya Respons Pemko Hambat Penanganan Krisis Air Padang
Selama proses penanganan berlangsung, pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait tetap menjalankan langkah darurat berupa pendistribusian air bersih ke masyarakat.
“Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 27 hingga 28 juta meter kubik ke wilayah-wilayah yang membutuhkan,” ungkapnya.
Fadly Amran menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintahan dan pemangku kepentingan terus bekerja dengan intensitas tinggi dalam menangani dampak pascabencana hidrometeorologi.
Ia menyebut, sinergi antar pihak menjadi kunci utama dalam upaya pemulihan.
“Kami melihat semua pihak bergerak maksimal, mulai dari DPR RI, kementerian melalui balai, pemerintah provinsi, perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat dan relawan. Meski setiap lembaga memiliki kewenangan dan tugas masing-masing, yang terpenting adalah kesamaan semangat untuk segera memulihkan kondisi masyarakat pascabencana,” tutupnya.
Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Padang melayangkan kecaman terbuka kepada Pemerintah Kota Padang atas belum tertanganinya krisis air bersih yang terus membebani warga.
Ketua Fraksi Gerindra, Wahyu Hidayat, menilai persoalan tersebut merupakan akibat langsung dari buruknya pengelolaan pemerintahan dan lemahnya respons jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Wali Kota Padang.
Wahyu menegaskan, masalah air bersih yang berkepanjangan tidak bisa lagi dialihkan sebagai dampak cuaca atau bencana semata.
Menurutnya, krisis ini justru mencerminkan ketidakmampuan pemerintah kota dalam mengelola sektor pelayanan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Ia menyebut, jika Pemko Padang bekerja secara serius dan terencana, peluang penyelesaian krisis air bersih sebenarnya terbuka lebar.
Baca juga: 11 KK Mulai Tempati Hunsela Kapalo Koto Padang, Korban Banjir Bandang Pindah Sejak Selasa Sore
Pemerintah pusat, lanjut Wahyu, telah menawarkan berbagai bentuk dukungan, namun tidak dimaksimalkan oleh pemerintah daerah.
“Kesempatan bantuan itu ada dan besar, tetapi tidak ditindaklanjuti dengan kerja nyata. Ini menunjukkan lemahnya kesiapan dan kesungguhan Pemko Padang,” ujar Wahyu, Rabu (28/1/2026).
Ia juga mengungkapkan, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (PBPK) Sumbar telah menawarkan pembangunan ratusan sumur bor sebagai solusi jangka pendek bagi warga terdampak.
Namun, rencana itu tersendat karena Pemko Padang dinilai gagal memenuhi kebutuhan data dan perencanaan teknis.
“Pemerintah pusat siap membangun hingga 300 sumur bor. Tapi yang diajukan Pemko Padang hanya lima titik. Ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya kapasitas manajerial,” katanya.
Baca juga: Cek Harga Kebutuhan Pokok Operasi Pasar Padang Panjang, MinyaKita Dijual Rp15.700 per Liter
Wahyu menilai, akar persoalan krisis air bersih bukan terletak pada ketersediaan anggaran atau dukungan pusat, melainkan pada buruknya koordinasi, rendahnya kecepatan kerja, dan minimnya kepemimpinan yang tegas di lingkungan Pemko Padang.
Kondisi ini, menurutnya, berdampak langsung pada terabaikannya kebutuhan dasar masyarakat.
Ia juga mengkritik sikap Wali Kota Padang yang dinilai lebih sibuk membangun narasi politik ketimbang menyelesaikan persoalan mendesak warga.
Wahyu meminta kepala daerah kembali fokus pada tugas utama sebagai pelayan publik, bukan pada kepentingan politik jangka panjang.
“Warga Padang hari ini butuh air bersih, bukan wacana politik. Hentikan pencitraan dan fokus bekerja. Ini soal hak dasar masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: Solok Selatan Sabet UHC Award 2026, Bupati Khairunas Pastikan Warga Tak Perlu Cemas Biaya Berobat
Atas kondisi tersebut, Fraksi Gerindra DPRD Kota Padang menyatakan tengah mengkaji langkah pengawasan lanjutan, termasuk kemungkinan penggunaan hak interpelasi terhadap Wali Kota Padang.
Langkah itu dinilai perlu sebagai bentuk tekanan politik agar eksekutif segera mengambil tindakan nyata.
“Rakyat tidak membutuhkan simbol dan janji. Yang mereka tunggu adalah tindakan konkret untuk mengakhiri krisis air bersih yang sudah terlalu lama dibiarkan,” tutupnya.
Terik matahari menyengat di kawasan RT 001 RW 008, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (27/1/2026) siang.
Di tengah suhu udara yang cukup panas, puluhan warga tampak berkerumun di sekitar mobil tangki milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Padang yang baru saja tiba.
Pantaun Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda Sejak pukul 11.00 WIB, pemandangan antrean wadah air mulai terlihat.
Puluhan ember, baskom, hingga jerigen berbagai ukuran berjejer rapi di pinggir jalan, silih berganti menampung kucuran air bersih dari selang tangki menuju tedmond biru yang disediakan sebagai bak penampung sementara.
Bagi warga setempat, air kini menjadi komoditas paling berharga. Kekeringan ekstrem yang melanda kawasan ini bukan terjadi dalam satu atau dua hari, melainkan telah berlangsung sejak akhir tahun lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar: Hujan Lebat Berpotensi di Wilayah Palembayan dan Kayu Tanam
Rosi, salah seorang warga terdampak, menuturkan betapa sulitnya menjalani aktivitas harian tanpa pasokan air bersih.
Menurutnya, sumur-sumur warga yang biasanya menjadi tumpuan kebutuhan pokok kini telah mengering total tanpa menyisakan setetes air pun.
"Air sumur sudah tidak ada lagi, kering sama sekali. Padahal sumur kami sudah digali cukup dalam, tetapi tetap tidak keluar air," ujar Rosi saat ditemui di tengah antrean bantuan air bersih, Selasa siang.
Kondisi ini memaksa warga mencari alternatif lain yang menguras tenaga. Rosi bersama suaminya, Yuhandri Syaf, setiap hari harus berjuang menjemput air ke sumber lain yang berada di dekat Jembatan Kuranji demi memenuhi kebutuhan domestik.
Prioritas utama penggunaan air yang mereka ambil secara mandiri tersebut adalah untuk kebutuhan anak-anak, terutama mandi sebelum berangkat sekolah. Sementara untuk kebutuhan orang dewasa, mereka terpaksa mengalah dengan kondisi yang ada.
Baca juga: Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah, Cek Prakiraan Cuaca 19 Daerah Sumatera Barat Hari Ini
"Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja," tutur Rosi dengan nada getir.
Bantuan air bersih dari pemerintah daerah sebenarnya ada, namun kedatangannya tidak menentu. Letak permukiman yang berada agak masuk ke dalam membuat truk tangki tidak bisa setiap hari menjangkau titik tersebut secara maksimal.
Yuhandri Syaf, suami Rosi, menjelaskan bahwa ia harus menempuh perjalanan lebih dari satu kilometer jika menggunakan sepeda motor untuk mengambil air di sumur dekat jembatan. Ada jalan pintas bagi pejalan kaki, namun mustahil dilakukan jika harus memikul beban berat.
"Kalau jalan kaki memang lebih dekat, tidak sampai setengah kilometer. Tapi susah membawa airnya. Makanya pakai motor, meski jaraknya jadi lebih jauh satu kilometer lebih," kata Yuhandri.
Setiap harinya, Yuhandri setidaknya harus mengangkut sembilan jerigen air, baik pada pagi maupun sore hari. Rutinitas ini telah menjadi beban tambahan di tengah pekerjaan harian yang harus tetap ia jalani sebagai kepala keluarga.
Baca juga: 312 Ribu Warga Sumbar Masih Miskin, Pengeluaran Rokok Kalahkan Telur Ayam dan Daging
Selain masalah sanitasi dan konsumsi, kekeringan ini juga mulai memicu masalah lingkungan baru.
Yuhandri membeberkan bahwa limbah rumah tangga di saluran belakang rumah warga mulai menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap karena tidak ada air yang mengalir.
Kondisi limbah yang menggenang dan statis tersebut kini menjadi sarang nyamuk. Warga mulai merasa cemas akan ancaman penyakit menular seperti demam berdarah yang mungkin muncul di tengah krisis air yang sedang melanda.
Warga berharap pemerintah Kota Padang dapat memberikan solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan tangki air yang bersifat sementara.
Harapan ini kian mendesak mengingat bulan suci Ramadan yang akan segera tiba dalam waktu dekat.
"Sebentar lagi masuk bulan Ramadan. Kami berharap ada solusi permanen supaya tidak lagi kesusahan menjemput air untuk berwudhu dan kebutuhan sahur nantinya," tutupnya.
Penyintas korban galodo atau banjir bandang yang menempati hunian sehat dan layak (hunsela) di Kampung Tanjung, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mengeluhkan minimnya WC dan aliran listrik.
Hal itu disampaikan oleh penghuni hunsela yang sebelumnya kehilangan rumahnya akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 yang lalu.
Diketahui, warga pindah ke bangunan hunsela pada Selasa (27/1/2026) sore, usai diresmikan bersama Wali Kota Padang, Fadly Amran, Senin (26/1/2026) lalu.
Usai menempati bangunan tersebut selama semalam, warga merasa cukup terbantu.
Akan tetapi, beberapa fasilitas penunjang seperti WC yang minim dan jaraknya yang jauh, menjadi keluhan warga.
Tak hanya itu, di kawasan hunsela juga menggunakan panel surya yang ramah lingkungan, namun saat siang hari tidak bisa memanfaatkannya.
"Lampunya kalau malam hidup, kalau siang mati, apalagi saat ingin menghidupkan kipas tidak bisa, karena panas," ujar Ermawati, penghuni hunsela di Kampung Tanjung, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Andre Rosiade Nilai Lambannya Respons Pemko Hambat Penanganan Krisis Air Padang
Kemudian, penghuni hunsela juga mengeluhkan WC yang lokasinya berada di luar bangunan dan jumlahnya sedikit.
"Kadang antre saat sore, kalau malam ibu-ibu enggan keluar," ungkap Ermawati, kepada TribunPadang.com.
Senada, Erda juga menyebut untuk fasilitas lainnya sudah termasuk lengkap dan mumpuni di hunsela tersebut.
Hanya saja, warga berharap ditambah pembangunan WC dan listrik yang bisa dimanfaatkan saat siang hari.
Baca juga: Siasat Warga Kuranji Padang Hadapi Kekeringan, Tadah Air Hujan Subuh hingga Kelola Limbah Manual
Sedangkan untuk kebutuhan air bersih masih bisa terpenuhi oleh warga, lantaran ada mata air di lokasi hunsela.
Meski beberapa titik di Kota Padang, termasuk Kapalo Koto kekeringan usai bencana, namun korban galodo di hunsela mengaku tidak ada kendala terkait kebutuhan air.
"Kalau air bersih tidak terkendala, kami ambil di dekat mata air, lokasinya 20 meter dari sini. Tapi kami berharap ada tambahan WC dan listrik," harapnya.
Menanggapi itu, Ketua Karang Taruna Kapalo Koto, Muhammad Ilham, menyebut korban galodo memang sudah pindah sejak Selasa sore kemarin.
Ia mengaku kendala yang terjadi saat ini adalah menyediakan listrik bagi para warga yang menetap di hunsela.
Untuk sekarang, sebanyak 11 unit hunsela masih menggunakan aliran listrik dari panel surya yang disediakan oleh donatur.
"Kendala kami memang di listrik, panel surya ini cuma 3.000 Watt, tidak mencukupi untuk 11 unit hunsela ini," ungkapnya di lokasi.
Baca juga: Gerindra Semprot Wali Kota Padang, Sebut Gagal Atasi Krisis Air Bersih, Minta Hentikan Pencitraan
Kendati demikian, pihaknya sudah bekerja sama dengan PLN dan bakal menambah tiang listrik di daerah tersebut.
Sedangkan untuk meteran, diserahkan kepada warga, bisa menggunakan yang lama atau pemasangan baru.
"Kita serahkan ke warga, bisa pakai meteran lama lalu dipindahkan ke hunsela atau pemasangan baru," tambahnya.
Sedangkan untuk WC, saat sekarang memang masih minim dan baru tersedia empat unit di kawasan hunsela.
Baca juga: 11 KK Mulai Tempati Hunsela Kapalo Koto Padang, Korban Banjir Bandang Pindah Sejak Selasa Sore
Namun, pihaknya sudah melakukan pembangunan untuk menambah WC ataupun kamar mandi bagi warga.
Saat ini, pembangunan tersebut sudah sampai di tahap pemasangan batu bata, dan ditargetkan rampung dalam lima hari ke depan.
"Kita sedang membangun 10 unit fasilitas Mandi, Cuci dan Kakus (MCK), ditargetkan dalam lima hari rampung," katanya.
"Tetapi, ke depan dibangun hunian tetap (huntap). Sehingga masing-masing unit ada satu kamar mandi nantinya," tambah Ilham. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)