Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Selama kurang lebih 20 tahun dikurung di dalam kandang besi, Mbah Kirno (60) warga Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo akhirnya dibebaskan.
Padahal Mbah Kirno bukan narapidana, bukan pula pelaku kejahatan, melainkan seorang warga yang oleh lingkungan sekitarnya dianggap sakti dan membahayakan.
Mbah Kirno dibebaskan oleh Ipda Purnomo. Diketahui Ipda Purnomo adalah anggota Polres Lamongan yang telah bergelut membebaskan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) selama 10 tahun ini,
Pak Purnomo—sapaan akrab—Ipda Purnomo mendatangi rumah Mbah Kirno.
Pak Purnomo tak sendiri namun bersama Kapolsek Sawoo AKP Tutut Aryanto dan Kasat Binmas Ponorogo AKP Agus Syaiful Bahri.
Mereka datang di lokasi, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 16.25 wib. Hanya saja Pak Purnomo tak bisa langsung eksekusi.
Baca juga: 20 Tahun Mbah Kirno Dikurung di Kandang Besi karena Dianggap Punya Ilmu Sakti, Minum Oli 1 Liter
Lantaran keluarga Mbah Kirno sempat menolak dalam hal ini Sarti, adik dari Kirno,
Alasannya, keselamatan dari keluarga Sarti sendiri. Cerita Mbah Kirno sampai dikurung juga lantaran mengancam membunuh, menganiaya keluarga Sarti.
“Saya cuma minta jaminan, jika Mbah Kirno dibebaskan keluarga saya aman. Beberapa tahun lalu pernah saya bawa ke orang pintar. Tapi nyatanya dia sudah balik terlebih dahulu,” ungkap Sarti kepada Pak Purnomo,
Hingga, beberapa kali adu pendapat. Pak Purnomo juga berjanji jika membawa Mbah Kirno selamanya jika keluarga belum siap menerimanya.
Baca juga: Dikira Buaya Masuk Kamar, PNS di Ponorogo Teriak Histeris hingga Panggil Damkar: Ternyata Biawak
Tak hanya alot dengan keluarga. Untuk membebaskan Mbah Kirno dari kandang besi yang dimaksud terbuat dari jeruji besi berukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter dan panjang 2 meter juga kesulitan.
Lantaran, kunci gembok hilang. Warga harus mencari las-lasan untuk melepaskan Mbah Kirno dari kandang besi tersebut. Kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit.
Pintu kandang yang selama bertahun-tahun tertutup rapat akhirnya terbuka, menandai berakhirnya pengurungan panjang Mbah Kirno dan membuka bab baru tentang kemanusiaan, stigma, serta keberanian melawan ketakutan.
Saat pertama kali dikeluarkan, Mbah Kirno mengamuk dan merancau. Namun kemudian menurut apa yang dibilang oleh Pak Purnomo. Rambut hingga kuku dibersihkan.
Terakhir Mbah Kirno juga dimandikan oleh Pak Purnomo. Hingga diberi baju ganti dan dibawa ke Lamongan rumah dari Pak Purnomo
“Hari ini saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh yang hadir disini, dari Polres, Dinkes, Pemerintah Desa, koramil.Jadi kami menjemput salah satu warga Ponorogo, atasnama Pak Kirno,” ungkap Pak Purnomo, Kamis (29/1/2026).
Dia menjelaskan bahwa Mbah Kirno sudah 20 tahun tinggal dalam kurungan kandang besi. Mbah Kirno dianggap sakti dan membahayakan warga sekitar.
“Jadi pak Kirno ini sudah hampir 20 tahun dipasung. Mungkin karena pengetahuan atau SDM, pak Kirno dianggap kebal. Tidak boleh menyentuh tanah. Sehingga dalam proses di dalam kurungan, beliau tidak menginjak tanah,” katanya.
Dia mohon doa kepada masyarakat. Mbah Kirno dibawa ke Lamonhan. “Saya mohon doanya, mudah-mudahan pak Kirno bisa kami bawa, kami rawat, insya Allah, pulih sehat kembali,” tegasnya.
Menurut Pak Purnomo, jika dilihat secara medis, Mbah Kirno mengalami gangguan jiwa. Mungkin ada permasalahan keluarga hingga akhirnya menjadi seperti saat ini,
“Kalau kami berbicara secara medis, pak Kirno mengalami gangguan kejiwaan. Kalau melihat tadi permasalahan keluarga, rasa dendam ada,” urainya.
Sementara cerita ketika dibawa berobat ngamuk, Pak Purnomo menduga Mbah Kirno sadar dan ingat masalahnya.
“Kenapa pak Kirno dibawa berobat ngamuk mungkin karena sadar dan ingat masalahnya jadi ngamuk ya wajar. Kalau menurut saya tidak ada ilmu (jawa) seperti itu. Kenapa pak Kirno ngamuk ya mungkin dia diobati pulang sehat. Ingat masa lalunya, mungkin seperti itu,” pungkasnya.
Kisah pilu dialami Mbah Kirno (60) warga Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jatim.
Bagaimana tidak, selama 20 tahun hidupnya dikurung dalam kandang besi di sebuah ruangan di belakang rumahnya.
Pantauan Tribunjatim Network di lokasi, kandang beso yang dimaksud terbuat dari jeruji besi berukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter dan panjang 2 meter.
Sehingga, sehari-hari Mbah Kirno hanya hidup di balik kandang besi. Itu pun tidak menyentuh tanah sama sekali. Sehari-hari, keluarganya memberikan makan serta minum. Tidak melepaskan Mbah Kirno.
Alasannya, keluarga Mbah Kirno ketakutan. Lantaran dianggap membahayakan dan mempunyai ilmu sakti.