TRIBUNJATIM.COM - Momen haru terjadi saat Mbah Kirno warga Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo mau dibawa Ipda Purnomo ke Lamongan.
Kakek berusia 60 tahun ini akhirnya bebas keluar dari kurungan kandang besi yang membelenggunya selama kurang lebih 20 tahun.
Pantauan Tribun Jatim Network, Wahyudi memeluk sang ayah sebelum Mbah Kirno masuk ke mobil milik Pak Purnomo, sapaan akrab Ipda Purnomo.
"Gek ndang mari bapak (cepat sembuh bapak)," ungkap Wahyudi sambil memeluk Mbah Kirno dengan kencan, Rabu (28/1/2026) sore,
Tak hanya sang anak, Sarti adik dari Mbah Kirno turut mendoakan yang sama. Pun memeluk Mbah Kirno.
"Silakan keluarga jika mau menjenguk. Saya persilakan. Jika mau mengambil tidak apa-apa. Tetapi jika tidak siap, biar saya yang meramutnya," kata Pak Purnomo.
Mbah Kirno dibebaskan oleh Ipda Purnomo, anggota kepolisian yang dijuluki polisi baik asal Lamongan.
Diketahui Ipda Purnomo adalah anggota Polres Lamongan yang telah bergelut membebaskan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) selama 10 tahun ini.
Pak Purnomo yang terkenal dengan akun Instagram @purnomopolisibaik ini tak sendiri mendatangi rumah Mbah Kirno.
Ia datang bersama Kapolsek Sawoo AKP Tutut Aryanto dan Kasat Binmas Ponorogo AKP Agus Syaiful Bahri.
Baca juga: 20 Tahun Mbah Kirno Dikurung di Kandang Besi karena Dianggap Punya Ilmu Sakti, Minum Oli 1 Liter
Mereka datang di lokasi, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 16.25 WIB.
Hanya saja Pak Purnomo tak bisa langsung eksekusi. Lantaran keluarga Mbah Kirno sempat menolak dalam hal ini Sarti, adik dari Kirno.
Untuk membebaskan Mbah Kirno dari kandang besi yang dimaksud terbuat dari jeruji besi berukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter dan panjang 2 meter juga kesulitan.
Lantaran kunci gembok hilang, warga harus mencari las-las an untuk melepaskan Mbah Kirno dari kandang besi tersebut.
Kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit.
Pintu kandang yang selama bertahun-tahun tertutup rapat akhirnya terbuka, menandai berakhirnya pengurungan panjang Mbah Kirno dan membuka bab baru tentang kemanusiaan, stigma, serta keberanian melawan ketakutan.
Saat pertama kali dikeluarkan, Mbah Kirno mengamuk dan merancau.
Namun kemudian menurut apa yang dibilang oleh Pak Purnomo. Rambut hingga kuku dibersihkan.
Terakhir Mbah Kirno juga dimandikan oleh Pak Purnomo. Hingga diberi baju ganti dan dibawa ke Lamongan rumah dari Pak Purnomo.
"Hari ini saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh yang hadir di sini, dari Polres, Dinkes, Pemerintah Desa, koramil. Jadi kami menjemput salah satu warga Ponorogo, atasnama Pak Kirno," tegasnya.
Dia menjelaskan Mbah Kirno sudah 20 tahun tinggal dalam kurungan kandang besi. Mbah Kirno dianggap sakti dan membahayakan warga sekitar.
“Jadi pak Kirno ini sudah hampir 20 tahun dipasung. Mungkin karena pengetahuan atau SDM, pak Kirno dianggap kebal. Tidak boleh menyentuh tanah. Sehingga dalam proses di dalam kurungan, beliau tidak menginjak tanah,” katanya.
Dia mohon doa kepada masyarakat. Mbah Kirno dibawa ke Lamongan.
“Saya mohon doanya, mudah-mudahan Pak Kirno bisa kami bawa, kami rawat, insya Allah, pulih sehat kembali,” urainya.
Menurut Pak Purnomo, jika dilihat secara medis, Mbah Kirno mengalami gangguan jiwa.
Mungkin ada permasalahan keluarga hingga akhirnya menjadi seperti saat ini,
“Kalau kami berbicara secara medis, Pak Kirno mengalami gangguan kejiwaan. Kalau melihat tadi permasalahan keluarga, rasa dendam ada,” urainya.
Sementara cerita ketika dibawa berobat ngamuk, Pak Purnomo menduga Mbah Kirno sadar dan ingat masalahnya.
“Kenapa Pak Kirno dibawa berobat ngamuk mungkin karena sadar dan ingat masalahnya jadi ngamuk ya wajar. Kalau menurut saya tidak ada ilmu (jawa) seperti itu. Kenapa Pak Kirno ngamuk ya mungkin dia diobati pulang sehat. Ingat masa lalunya, mungkin seperti itu,” paparnya.
Baca juga: Ipda Purnomo Bebaskan Mbah Kirno dari Kandang Besi Selama 20 Tahun: Gangguan Jiwa Bukan Sakti
Sarti adik dari Mbah Kirno berharap kakaknya sembuh seperti semula.
“Saya sebagai keluarga ya minta doa semoga dia tidak ada apa-apa. Pak Pur dilindungi Allah SWT dalam merawat kakak saya,” pungkasnya.
Kisah pilu dialami Mbah Kirno (60) warga Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.
Selama 20 tahun hidupnya dikurung dalam kandang besi di sebuah ruangan di belakang rumahnya.
Sehari-hari Mbah Kirno hanya hidup di balik kandang besi.
Itupun tidak menyentuh tanah sama sekali.
Sehari-hari, keluarganya memberikan makan serta minum. Tidak melepaskan Mbah Kirno.
Alasannya, keluarga Mbah Kirno ketakutan. Lantaran dianggap membahayakan dan mempunyai ilmu sakti.