Opini - Mengkritisi OSOP
January 29, 2026 03:40 PM

Oleh: Tans Feliks
(Dosen FKIP Undana)

POS-KUPANG.COM - Program OSOP ( One School  One Product ) atau Satu Sekolah Satu Produk (Unggulan) diluncurkan secara resmi pada tanggal 24 Juli 2025, oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena di hadapan para kepala sekolah  SMA/SMK/SLB se-NTT, di Aula Komodo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.  

Pada kesempatan itu, Gubernur Melki menegaskan: “Ke depan, setiap sekolah harus punya produk unggulan.  Yang jago tata boga, produksi makanan; yang jago pertanian, hasilkan produk pertanian; yang jago digital, hasilkan aplikasi dan media. Semua harus berdampak langsung ke masyarakat.“ 

Program ini bertujuan menjadikan sekolah tidak hanya tempat belajar secara akademis, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi murid dan lingkungan sekitarnya“(https://cakrawalantt.com/2026/01/pak-gubernur-dunia-pendidikan-ntt-mau.htm?m=1).

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, sebagai perpanjangan tangan Gubernur, Program OSOP memiliki manfaat besar untuk menciptakan SDM yang bermutu yang  mandiri, kreatif, kompetitif, inovatif, berjiwa bisnis, terampil, berkarakter mulia, khas, kolaboratif, dan siap bekerja dan/atau menciptakan lapangan kerja karena terbiasa dengan learning by doing ketika belajar di sekolah. Tulisan  Agung Hermanus Riwu, yang berjudul “OSOP: Transformasi Pendidikan NTT” (Korannttnews, 26 Januari, 2025) menegaskan dukungan yang total terhadap Program OSOP tersebut.

Walaupun demikian, jika dikritisi secara lebih dalam, OSOP, tampaknya, punya banyak kelemahan (baca, misalnya, Dr. Yustina Ndung, “Membongkar Ideologi di Balik OSOP NTT : Antara Sekolah sebagai 'Inkubator UMKM ' dan ' Laboratorium Hidup,' 25 Januari, 2026, https://www.cakrawalantt.com; Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom, “OSOL dan/atau OSOP? Derma Gagasan untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partispatif, dan Cerdas,” Januari 2026, https://www.cakrawalantt.com; dan, Tans Feliks, Program OSOP dan Ide “Freedom to Learn” yang Terlupakan, Januari 2026, https://www.cakrawalantt.com).  

Persoalannya, kemudian, adalah apakah karena kritik tersebut OSOP harus dibatalkan.  Saya pikir, tidak.  Tetap harus diteruskan, tetapi dengan beberapa penyesuaian untuk membuatnya lebih selaras dengan prinsip pedagogis yang berterima secara universal.  Apa saja penyesuaian itu?  Ada dua hal penting.

Pertama, kata “One“ atau “Satu” dalam frasa “OSOP“ harus dipertegas, yaitu bahwa „satu“ itu tidak berarti “hanya satu,“ dan mengabaikan 1001 talenta/bakat, minat dan kebutuhan belajar setiap anak dalam sebuah sekolah.

Dengan demikian, setiap anak dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya masing-masing, apapun itu, tetap mendapat tempat terhormat dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar di sebuah sekolah.

Artinya, fokus kegiatan belajar dan mengajar di sebuah sekolah tidak hanya terpusat pada anak-anak yang sangat cerdas dan/atau sangat terampil, tetapi juga pada anak-anak yang, mungkin, tampak kurang cerdas dan kurang terampil karena alasan tertentu.  Mereka semua harus diperlakukan sama.  

Bagaimana itu diterjemahkan dalam filosofi ”satu sekolah satu produk unggulan?  Sejatinya sederhana. Jika sebuah sekolah, misalnya, memutuskan untuk membuka kebun terung sebagai produk unggulan, para murid yang bakat, minat dan kebutuhannya terkait dengan itu, kemudian, boleh fokus bekerja dan belajar untuk membuat kebun terung itu berhasil.

Sedangkan murid yang bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya tidak terkait dengan itu, harus diberi ruang untuk mengerjakan aktivitas lain yang terkait dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya.

Apapun itu: entah itu menulis puisi atau membuat kursi atau melukis atau menjahit atau  memperkuat kemampuan matematikanya atau berlatih main bola kaki atau apapun.  

Ini pada giliarannya akan membuat mereka sangat total dalam belajar sambil bekerja (learning by doing di sekolah), dalam mengerjakan kebun tomat, misalnya, jika itu menjadi produk unggulan sekolahnya. Juga sangat total dalam bekerja setelah selesai sekolahnya karena dia tahu apa yang dikerjakannya adalah masa depannya, masa depan keluarganya dan, bahkan, masa depan bangsanya.

Kedua, dalam konteks itu, kurikulum yang berlaku di sebuah sekolah tidak lagi bersifat satu dan sama untuk semua anak dan semua sekolah yang sederajat.

Kurikulum itu harus disesuaikan dengan bakat/potensi, minat, dan kebutuhan belajar anak-anak.  Itulah, sejatinya, esensi dari “freedom to learn“ (baca, misalnya, Carl R Rogers, Freedom to Learn for the 80’s, 1983), merdeka belajar bagi semua murid, apapun kondisinya.

Jika kurikulumnya masih satu dan seragam untuk semua anak dan semua sekolah, dan isi kurikulum itu berlebihan seperti sekarang, serta kurang relevan dengan potensi unik dari setiap anak, kemampuan riil setiap anak pun tidak akan pernah bisa ditumbuhkembangkan di dan setelah sekolah secara maksimal.

Itu, pada gilirannya, menimbulkan masalah sosial seperti sekarang ini: kemiskinan, termasuk prevalensi stunting yang tinggi, pengangguran, dan sikap/karakter yang tidak terpuji, seperti korupsi, intoleransi, kurang kritis, kurang kreatif, antikolaborasi, dan kurang komunikatif.

Masalah sosial itu terjadi karena, antara lain, ketika masih di sekolah, anak-anak itu sulit menjadi mandiri dan berkembang secara maksimal. Sebab apa yang dipelajarinya atau yang diajarkan kepadanya tidak selalu sesuai dengan potensi/bakat, minat dan kebutuhan belajarnya.

Padahal, sejatinya, inti dari filosofi student-centered learning, adalah kegiatan belajar dan mengajar yang berpusat pada bakat, minat dan kebutuhan belajar seorang murid.  

Pada titik ini penting untuk guru dan orang tua melakukan dialog pendidikan secara rutin dengan seorang anak untuk mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan seorang anak dalam hidupnya, yaitu apa cita-cita atau imajinasi masa depannya sesuai bakat dan minatnya (Bdk. Paulo Freire, Cultural Action for Freedom, 1970).

Mengetahui imajinasi masa depan itu membantunya  menemukan kegiatan belajar yang sesuai yang membuat cita-citanya, pada saatnya, tercapai.  Tanpa dialog itu, seorang guru, termasuk orang tua si anak, tidak akan pernah tahu apa sesungguhnya cita-cita anak itu dalam hidupnya.  Jika itu tidak diketahui, bagaimana mungkin seorang guru atau orang tua bisa membimbingnya untuk menggapai cita-citanya?

Jadi, pada tataran ideal, Program OSOP, sejatinya, baik.  Walaupun demikian, untuk membuat lebih relevan dengan kebutuhan setiap murid di setiap sekolah, di NTT secara khusus, di Indonesia secara umum, perlu ada penyesuaian dalam hal praktiknya di sekolah.  

Termasuk dalam penyesuaian itu adalah perlunya perlakuan inklusif untuk juga  tetap ikut menumbuhkembangkan bakat, minat, dan aspirasi murid yang tidak masuk dalam kategori “satu produk” unggulan sekolahnya.

Itu, sejatinya, dapat dilakukan jika kurikulum di setiap sekolah di manapun disesuaikan dengan potensi, minat, dan kebutuhan belajar setiap murid. Ini penting karena bisa membuat mereka bisa total dalam belajar dan bekerja di dan setalah sekolah.  

Tidak ada orang yang tidak rajin bekerja, termasuk belajar, jika yang dilakukan sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhan belajarnya, bukan? Karena itu, mungkin, istilah OSOP kurang tepat.  Yang tepat, kiranya, OSMPs, One School Many Products. Satu sekolah banyak produk (unggulan).  Namun apa arti sebuah nama? (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.