TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN-Terbakarnya Masjid Assolihin di Jalan Aki Pingka RT 8 Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Utara, Tarakan, Kalimantan Utara ini menyisahkan kesedihan bagi warga sekitar.
Pasalnya Masjid Assolihin ini masih dalam proses pembangunan. Masjid yang berdiri sejak sekitar tahun 1983 itu awalnya hanya bangunan kayu sederhana. Perlahan, dengan gotong royong dan donasi warga, Masjid dipugar menjadi bangunan beton hingga seperti sekarang.
“Masjid ini dibangun pelan-pelan, dari kayu, sedikit demi sedikit jadi beton,” ujar Pengelola Masjid Assolihin, Sutitik Rahayu.
Jika dilihat di lokasi, Masjid ini di bagian depan baru berdiri pondasi dan beberapa tiang yang belum sempurna.
Baca juga: Detik-detik Api Terlihat di Masjid Assolihin, Sutitik Rahayu: Habis Salat Saya Cium Bau Terbakar
Sutitik Rahayu mengatakan, ketika ia masih gadis dan almarhum orangtuanya masih hidup. Masjid tersebut dikelola orangtuanya bersama warga lainnya.
Menurutnya dan dibenarkan warga lainnya, Masjid Assolihin adalah Masjid tertua dan pertama dibangun di Kecamatan Tarakan Utara.
“Masjid ini sudah ada dari sekitar tahun 1983. Bapak saya, Pak Miran, ikut mendirikan Masjid pertama di sini. Dulu bangunannya masih kayu,” ungkapnya.
Masjid Assolihin berdiri di atas tanah milik almarhum Ajiz Muhammad Saleh. Pembangunan awalnya dilakukan secara swadaya oleh warga dengan menghimpun dana dari masyarakat, yang salah satunya digerakkan oleh almarhum Pak Selamet.
“Dulu belum ada Masjid lain di wilayah Kecamatan Tarakan Utara sini. Ini Masjid pertama. Jamaahnya bukan cuma satu RT, tapi banyak RT,” jelas Sutitik.
Baca juga: Polisi Masih Selidiki Kebakaran Masjid Assolihidi Tarakan, Tak Ditemukan Indikasi Korsleting Lstrik
Pada awal berdirinya, Masjid hanya berukuran sekitar 12 x 5 meter dan seluruhnya berbahan kayu. Seiring bertambahnya jumlah jamaah dan kebutuhan ruang, warga mulai merencanakan perluasan.
Sekitar tahun 2015, pembangunan mulai diarahkan ke struktur permanen dengan pemasangan pondasi dan dinding beton. Saat ini, masjid berada di atas lahan seluas kurang lebih 50 x 53 meter persegi.
Bangunan Masjid dikembangkan bertingkat, dengan lantai bawah difungsikan sebagai gudang dan ruang pendukung, lantai dua untuk area ibadah, serta lantai atas untuk fasilitas lainnya, termasuk akses menuju pesantren yang berada di bagian belakang Masjid.
"Kan dulunya Masjid ini kayu, materialnya sebagian disimpan di lantai satu jadi gudang sementara karena masih pembangunan," ujarnya,
(*)
Penulis: Andi Pausiah