Sosok Bu Budi, 30 Tahun Jadi Guru Dipolisikan Gegara Nasihati Murid, Dapat 25 Ribu Petisi Keadilan 
January 29, 2026 03:38 PM

 

BANGKAPOS.COM – Sosok Christiana Budiyati, Guru SDK Mater Dei Pamulang Tangerang Selatan Banten mendadak jadi perbincangan setelah dilaporkan ke polisi. 

Bu Budi, panggilan akrab Christiana Budiyati kini haruis berhadapan dengan hukum karena dilaporkan atas kasus dugaan kekerasan verbal terhadap murid.

Kasus ini bermula orang tua murid di SD tempatnya mengajar merasa tak terima anaknya ditegur hingga melaporkan Bu Budi ke Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Pendidikan, serta Polres Tangerang Selatan dengan tuduhan melakukan kekerasan verbal.

Baca juga: Kronologi Awal Mula Suderajat Dicecar dan Dipaksa Oknum Aparat Makan Es Gabus Jualannya Sendiri 

Setelah dilaporkan, kini Bu Budi mendapat 25 ribu dukungan petisi.

Lantas siapa Bu Budi yang namanya viral di jejaring media sosial?

Berikut ulasannya yang dirangkum Tribunnews.com. 

Sosok Bu Budi 

Lantas, siapa Bu Budi? Sosoknya bukan orang baru di dunia pendidikan.

Sudah 30 tahun karier pendidik dijalani Bu Budi. 

Sebagai anak, Dino menggambarkan Ibu Budi sebagai sosok pendidik sejati. 

20260128 Bu Budi1
PETISI KEADILAN GURU - Bu Budi, guru SDK Mater Dei Pamulang Tangsel Banten viral setelah dilaporkan ke polisi oleh orang tua Murid. Ia mendapatkan 25 ribu petisi dukungan. 

Ia menyebut ibunya telah mengajar sejak awal 1990-an, bahkan jauh sebelum dirinya lahir.

“Ibu sudah jadi guru sejak sebelum saya lahir. Lebih dari 30 tahun,” katanya.

Menurut Dino, dunia pendidikan sudah menjadi bagian dari hidup ibunya.

“Ibu itu memang suka mengajar. Di sekolah, di gereja, orang-orang juga sering minta bantuannya. Dia keibuan banget,” tuturnya.

Dalam mendidik, Budi dikenal tegas namun penuh perhatian.

"Tegas pasti ada, tapi bukan keras. Itu bentuk tanggung jawab. Ibu mengajarkan disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab,” ujar Dino.

Ia mengungkap bagaimana ibunya rela meluangkan waktu hingga sore hari demi murid-muridnya.

“Kalau murid belum selesai mencatat atau mengerjakan tugas, ibu rela menunggu sampai sore. Bahkan sampai malam masih buka laptop bikin soal,” katanya.

Tak heran, setelah petisi disebarluaskan, banyak kesaksian dari para alumni dan murid yang menyampaikan pengalaman positif selama dididik oleh Ibu Budi.

"Banyak banget kesaksian di kolom komentar. Dari situ aku baru benar-benar lihat bagaimana ibu mendidik selama 30 tahun,” ucap Dino.

Sejumlah orangtua murid dan alumni yang diwawancara Tribunnews.com pun mengutarakan penilaian senada soal sosok Bu Budi. 

"Bu Budi ini orangnya tegas. Tegas lo ya, bukan galak. Dan wajar dan itu malah bagus, saya sebagai orangtua senang dengan pola beliau mendidik," ucap Yani, salah seorang orangtua alumni SD Mater Dai. 

Petisi Viral Beredar

Kasus Bu Budi mencuat setelah viral sebuah petisi beredar mengajak mendukung pada sosok guru ini. 

Menurut Dino Gabriel anak Christiana Budiyati, keluarga kemudian mengambil langkah dengan membuat petisi sebagai bentuk dukungan moral. 

Petisi itu direncanakan sejak awal Januari dan mulai disebarluaskan pada 27 Januari.

Petisi ini diunggah di sebuah platform petisi chage.org.

"Kami mengajak masyarakat luas untuk bersuara dan menunjukkan solidaritas demi keadilan bagi Ibu Christiana Budiyati, yang dikenal sebagai Bu Budi, seorang guru di SDK Mater Dei, Pamulang, Tangerang Selatan, yang saat ini menghadapi pelaporan atas tuduhan kekerasan verbal terhadap murid," demikian tertera di change.org.

Kronologi Kasus Bu Budi

Tertera Elia Siagian sebagai pembuka petisi menjelaskan kronologis kasus Bu Budi. 

Peristiwa ini bermula pada Agustus 2025, saat kegiatan lomba sekolah berlangsung. 

Dalam sebuah kejadian yang disaksikan oleh banyak pihak, seorang murid meminta temannya untuk menggendong. 

Baca juga: Cerita Hogi Minaya Sempat Pakai Gelang GPS di Kaki, Jadi Tersangka Kejar Penjambret Tas Istrinya

Karena temannya tidak siap, murid tersebut terjatuh. Murid yang meminta digendong tidak menolong, bahkan meninggalkan temannya, diikuti oleh murid-murid lain yang juga tidak menunjukkan kepedulian. 

Anak yang terjatuh akhirnya ditolong oleh orang tua murid yang berada di lokasi.

Sebagai wali kelas, Bu Budi menyayangkan kejadian tersebut dan menegur serta menasihati murid-muridnya secara umum agar bertanggung jawab, saling peduli dan menghayati nilai-nilai Pancasila sebagai dasar pembentukan karakter. 

Dalam petisi juga disebutkan jika tidak ada satu kata kasar pun yang terucap. 

"Lagi pula teguran tersebut tidak ditujukan kepada satu murid secara personal, melainkan sebagai pembelajaran bersama bagi seluruh kelas. Namun, nasihat edukatif tersebut kemudian dipersepsikan oleh salah satu murid sebagai dimarahi di depan kelas," tulis petisi ini. 

Mediasi secara kekeluargaan telah dilakukan, tetapi pihak keluarga merasa tidak puas dan memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Tak sampai di sana, ternyata nasihat Bu Budi berujung ke Kepolisian. 

"Beberapa hari kemudian, Bu Budi dilaporkan ke Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Pendidikan, serta Polres Tangerang Selatan dengan tuduhan melakukan kekerasan verbal," tulis petisi ini. 

Pembuat petisi yakin jika sikap Bu Budi merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab seorang pendidik. 

Menegur, menasihati, dan mengingatkan murid tentang sikap serta nilai moral adalah esensi pendidikan karakter. 

"Jika tindakan edukatif seperti ini dipidanakan, maka guru akan bekerja dalam ketakutan, dan ruang pendidikan akan kehilangan keberanian untuk mendidik secara utuh," 

Petisi ini juga menyatakan:

 • Penolakan terhadap kriminalisasi guru yang menjalankan tugas pendidikan secara wajar dan proporsional
 • Dorongan agar persoalan ini diselesaikan secara adil, bermartabat, dan mengedepankan prinsip pendidikan
 • Perlunya perlindungan terhadap martabat dan hak guru sebagai pendidik generasi muda bangsa

Petisi ini rupanya memancing reaksi publik cukup banyak. 

Pantauan Tribunnews.com, petisi ini mendapatkan 25.000 tandatangan dukungan hingga Kamis (29/1/2026) pagi. 

Bu Budi Penuhi Panggilan Penyidik 

Dino Gabriel, anak Bu Budi mengatakan kondisi sang ibu usai mendapatkan dukungan di petisi keadilan guru ini. 

Bu Budi tetap menjalani hari-harinya sebagai guru seperti rutinitas hariannya. 

Baca juga: Sosok Kapolresta Sleman Kombes Pol Edy Setyanto Dipanggil DPR Imbas Hogi Tersangka Kejar Jambret

Perempuan yang telah mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya di dunia pendidikan itu masih datang ke sekolah, mengajar murid-muridnya.

“Ibu tetap datang ke sekolah. Fokusnya tetap mengajar, karena itu tanggung jawab utama beliau,” ujar Dino Gabriel anak Christiana Budiyati kepada TribunTangerang.com, Rabu (28/1/2026).

Sejauh ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan Polres Tangerang Selatan. Budi telah memenuhi pemanggilan polisi dan selalu didampingi oleh tim kuasa hukum.

“Untuk sekarang kasusnya masih diselidiki pihak Polres Tangsel. Ibu juga terus didampingi pengacara. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik, semoga ibu mendapatkan keadilan,” tutur Dino.

Terkait dugaan teguran verbal yang dipermasalahkan, Dino menjelaskan ibunya menegur murid sebagaimana guru pada umumnya. 

Menurutnya, teguran tersebut dilandasi niat untuk menjaga keselamatan dan mendidik karakter anak.

“Ibu menegur siswa-siswinya sewajarnya saja. Namanya anak-anak, kalau bermain kan bisa berisiko. Ibu hanya mengingatkan supaya lebih hati-hati dan tidak mencelakakan orang lain,” ujarnya.

PETISI KEADILAN GURU - Bu Budi, guru SDK Mater Dei Pamulang Tangsel Banten viral setelah dilaporkan ke polisi oleh orang tua Murid. Ia mendapatkan 25 ribu petisi dukungan. (Kolase Tribunnews/Change.org/Dok Pribadi)

Ia mengakui tidak ada kalimat spesifik yang diingat secara detail, namun menegaskan gaya bahasa ibunya selama ini konsisten.

“Bahasanya selalu sama. Kalau menegur ya menegur sebagai guru,” katanya.

Dino menduga persoalan muncul karena adanya perbedaan persepsi. Teguran yang disampaikan di depan banyak murid bisa saja ditangkap berbeda salah satu siswa dan keluarganya.

Baca juga: Saksi Ahok Pernah Minta Listyo Sigit Kerahkan Brimob Tungguin Kilang Minyak: Siapa Sabotase, Tembak!

“Mungkin ada siswa yang merasa dimarahi di depan kelas, lalu orang tuanya tidak terima,” ucapnya.

“Ibu kaget, karena tiba-tiba wajahnya ada di mana-mana. Tapi beliau berusaha menutupi kecemasannya,” kata Dino.

Meski demikian, Dino menegaskan ibunya yakin tidak melakukan kesalahan.

"Karena beliau percaya, kalau memang tidak salah, kebenaran pasti akan menemukan jalannya,” ujarnya.

Keluarga Ingin Masalah Cepat Selesai 

Meski sempat kaget saat pertama kali mengetahui ibunya dilaporkan, Dino dan keluarga memilih untuk tidak larut dalam amarah.

“Kita lebih bingung, kenapa kasusnya bisa sepanjang ini. Sampai kita malah ketawa-ketawa nanya, kok bisa ya sampai sejauh ini,” katanya.

Di akhir, Dino menyampaikan harapannya agar kasus ini segera selesai dan menjadi pelajaran bersama.

“Semoga cepat selesai dan tidak terulang lagi. Bukan cuma untuk ibu saya, tapi juga untuk guru-guru lain yang mungkin mengalami hal serupa tapi tidak bisa bersuara,” ujarnya.

Ia menegaskan guru sejatinya adalah sosok yang membentuk karakter generasi muda.

“Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mau yang terbaik untuk murid-muridnya,” pungkasnya. 

(TribunTangerang.com/Ikhwana Mutuah Mico/Tribunnews.com/Anita K Wardhani/Bangkapos.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.