TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Upaya Pemkab Wonosobo untuk menekan angka anak tidak sekolah (ATS) terus berlanjut.
Melalui Program Wonosobo Asa Cita, intervensi pendidikan berbasis motivasi ini kini memasuki tahap kedua.
Program ini dengan melibatkan ratusan relawan yang turun langsung ke sekolah-sekolah.
Wonosobo Asa Cita menitikberatkan pada pendekatan personal dan inspiratif.
Baca juga: 15.394 Anak Tak Sekolah di Wonosobo, Pemkab Andalkan Program Mayo Sekolah dan Asa Cita
Para relawan hadir di ruang kelas, berdialog langsung dengan siswa, menggali keraguan mereka, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP.
Program ini melibatkan relawan dari beragam latar belakang, mulai dari aparatur sipil negara (PNS), pengusaha, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang peduli pada isu pendidikan.
Pada tahap pertama, tercatat 176 relawan terlibat.
Sementara pada tahap kedua yang mulai dilaksanakan Kamis (29/1/2025), jumlah relawan meningkat menjadi 179 orang yang disebar ke 36 sekolah SMP dan MTs di Kabupaten Wonosobo.
Para relawan ini menyasar siswa kelas akhir, khususnya kelas 9, yang dinilai berada pada fase krusial dalam menentukan keberlanjutan pendidikan mereka.
Salah satu relawan, Ataniya Salsabila terdorong bergabung program ini karena ingin terlibat langsung dalam proses pendampingan siswa.
Dia memberikan motivasi kepada siswa kelas 3 di SMP Negeri 2 Mojotengah.
Motivasinya sederhana, yakni berangkat dari kepedulian mendalam.
Dia berharap siswa tidak berhenti di jenjang SMP, melainkan berani melanjutkan pendidikan hingga SMA, SMK, bahkan perguruan tinggi.
“Melalui sharing dan pendampingan, saya melihat tumbuhnya harapan dan kepercayaan diri mereka,” ujar Ataniya.
Dari kelas yang didampingi, Ataniya menemukan realitas yang kerap luput dari data statistik.
Ada siswa yang enggan melanjutkan sekolah bukan karena faktor ekonomi semata, tetapi karena pilihan hidup dan pengaruh keluarga.
“Yang saya temukan di kelas saya ada dua yang tidak mau lanjut,” katanya.
Satu siswa berencana ikut ayahnya bekerja ke Papua, sementara satu lainnya memilih mengejar minat sebagai gamers.
Baca juga: Bupati Afif Perkenalkan Layanan Digital dan Podcast Edukasi di Puskesmas Sapuran Wonosobo
Temuan ini, menurut Ataniya, menunjukkan bahwa keputusan berhenti sekolah sering kali dipengaruhi faktor kompleks, bukan hanya kemampuan finansial.
“Dukungan sederhana dan kata-kata motivasi dapat menjadi titik awal perubahan besar bagi mereka,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Firnando Alib Subakti, relawan yang memberikan motivasi di SMP Negeri 1 Kejajar.
Dia menilai karakter siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sosial, dan geografis.
“Ini kedua kalinya saya ikut program ini. Dari pengalaman saya karakter siswa di tiap wilayah beda, faktor SDM, faktor lingkungan, geografis juga mempengaruhi,” ujarnya.
Di SMP Negeri 1 Kejajar, Firnando mendapati kondisi yang relatif berbeda.
Lingkungan alam yang mendukung serta kondisi ekonomi keluarga yang relatif baik membuat sebagian besar siswa tidak menjadikan biaya sebagai kendala utama.
“Ekonomi bukan soal untuk kebanyakan siswa,” katanya.
Dia menyebut, dari 31 siswa kelas 9B, hanya satu siswa yang memutuskan tidak melanjutkan sekolah.
Alasan yang muncul adalah persoalan keluarga (broken home) dan minimnya motivasi, bahkan setelah mendapatkan pendampingan intensif dari guru bimbingan konseling (BK).
Sementara itu, 30 siswa lainnya sudah memiliki tujuan sekolah lanjutan. Mereka mampu menuliskan visi pribadi hingga tiga tahun ke depan, sebuah indikator bahwa harapan masa depan masih terjaga.
"Secara keseluruhan tanggapan siswa bagus, mau bekerja sama, dan visi ke depan mereka bisa dibilang bagus,” kata Firnando.
Firnando menilai, program Wonosobo Asa Cita efektif untuk memberi dampak awal secara cepat.
Namun dia mengingatkan bahwa pendekatan lanjutan tetap diperlukan, terutama bagi siswa dengan kondisi tertentu.
“Untuk scratching the surface bagus, bisa memberi dampak instan, tapi perlu pendekatan lebih jauh,” ujarnya.
Dia juga menyoroti satu fase penting yang sering luput dari perhatian, yakni masa jeda setelah ujian kelulusan SMP hingga masuk SMA.
Berdasarkan pengamatan guru BK, jumlah siswa yang benar-benar melanjutkan pendidikan kerap lebih rendah dari perkiraan awal saat masih duduk di bangku SMP.
Menurut Firnando, keterlibatannya dalam program ini membuka sudut pandang baru mengenai tantangan pendidikan yang jarang disentuh oleh sistem formal.
Dari pengalaman lapangan tersebut, Firnando berharap Wonosobo Asa Cita dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dalam merumuskan kebijakan pendidikan.
“Semoga program Asa Cita ini bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah bahkan pusat untuk membebaskan biaya pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan gratis dinilai lebih tepat untuk menjamin masa depan generasi muda.
Baca juga: DPUPR Wonosobo Bakal Gunakan DTT Rp300 Juta Perbaiki Tanah Ambles di Mlipak
Sebelumnya, Kabid Bina Program dan Pengembangan Disdikpora Kabupaten Wonosobo, Priyono menjelaskan bahwa Wonosobo Asa Cita dirancang sebagai salah satu upaya strategis menekan angka anak tidak sekolah.
Berdasarkan data rilis akhir Kemendikdasmen, jumlah ATS di Kabupaten Wonosobo pada 2025 tercatat mencapai 15.394 anak. Data tersebut hingga kini masih dalam tahap pemutakhiran.
Disdikpora kemudian meluncurkan Wonosobo Asa Cita dengan pendekatan motivasi dan inspirasi, bukan sekadar intervensi administratif.
“Asa itu menumbuhkan harapan, Cita ini menumbuhkan impian,” ujar Priyono.
Menurutnya, pelaksanaan tahap pertama mendapatkan respons positif dari siswa. Kehadiran relawan dinilai mampu menciptakan suasana berbeda di ruang kelas.
Meski demikian, Pemkab Wonosobo menegaskan bahwa keberhasilan program ini belum dapat diukur dalam waktu singkat.
Dampak nyata baru akan terlihat pada saat proses penerimaan peserta didik baru, yakni dari jumlah siswa yang benar-benar mendaftar dan bersekolah di jenjang SMA.
Ke depan, Pemkab berharap pendekatan ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah provinsi hingga Pemerintah Pusat. (*)