Couchbase Dorong Inovasi Data dan AI di Pasar Digital Indonesia
Adam Rizal January 29, 2026 05:34 PM

Dalam lanskap teknologi yang terus berkembang pesat, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, para pengembang dihadapkan pada kebutuhan akan platform data yang tidak hanya canggih, tetapi juga mudah digunakan dan fleksibel. Genie Yuan, Head of APAC di Couchbase, berbagi pandangannya mengenai bagaimana platform data modern seperti Couchbase dapat membantu mengatasi tantangan ini, terutama di pasar yang dinamis seperti Indonesia.

Mengapa Kemudahan Penggunaan dan Fleksibilitas Menjadi Kunci bagi Pengembang? Menurut Genie, pengembang saat ini menghadapi tekanan waktu yang sangat besar dari pihak bisnis. "Para pengembang selalu menghadapi tekanan waktu dari bisnis mereka," kata Genie.

Aplikasi kini harus dikembangkan dengan cepat untuk menyediakan pengalaman yang dipersonalisasi dan memenuhi tujuan bisnis yang spesifik. Pendekatan pengembangan aplikasi yang memakan waktu 12 bulan untuk membangun, enam bulan untuk pengujian, dan akhirnya diluncurkan ke produksi, sudah tidak relevan lagi.

Era pengembangan yang lebih gesit (agile) telah mendominasi, dengan konsep Minimum Viable Product (MVP) yang sudah dikenal selama 15-20 tahun terakhir. Tujuannya adalah untuk menguji pasar dengan prototipe yang berfungsi penuh, sehingga waktu ke pasar menjadi sangat krusial.

Hal ini menuntut pengembang untuk melakukan dua hal utama: pengembangan agile untuk merilis fitur dengan cepat, dan Continuous Integration/Continuous Deployment (CI/CD) untuk memastikan perbaikan dan pengembangan berkelanjutan.

Yuan menekankan bahwa di level teknologi, semakin sedikit titik integrasi, semakin baik. "Semakin banyak teknologi yang Anda miliki dalam solusi Anda, semakin kompleks tumpukan teknologi tersebut. Semakin banyak titik integrasi yang akan Anda miliki, semakin banyak waktu yang perlu Anda habiskan," jelasnya.

Setiap titik integrasi membutuhkan upaya rekayasa yang besar untuk memastikan koneksi tidak rusak, terutama karena setiap teknologi memiliki prinsip desain, ketersediaan tinggi, skalabilitas, dan potensi kemacetan kinerja yang berbeda. Upaya rekayasa ini menguras waktu pengembang yang seharusnya fokus pada fitur-fitur yang bernilai bagi pelanggan akhir. Oleh karena itu, platform terintegrasi tunggal sangat dibutuhkan untuk inovasi.

Couchbase, sebagai platform data modern, dirancang untuk mengurangi kompleksitas integrasi dan meningkatkan produktivitas pengembang. Inti dari Couchbase adalah database dokumen yang fleksibel dan berbasis JSON. Ini berarti pengembang tidak terikat oleh desain database yang kaku. Mereka tidak perlu lagi bolak-balik ke pemodel data atau arsitek data untuk meminta perubahan parameter atau field, lalu menunggu proses pengujian regresi yang bisa memakan waktu berhari-hari.

"Ini adalah penghematan waktu yang signifikan bagi pengembang," ujar Genie.

Dengan Couchbase, pemodelan data dapat ditangani sebagai bagian dari logika dan desain aplikasi. Selain itu, Couchbase adalah platform terintegrasi yang tidak hanya menyediakan database dokumen, tetapi juga mesin SQL terintegrasi, kemampuan pencarian teks lengkap (full-text search), kapabilitas vektor, dan geofencing. Semua ini dirancang dengan satu prinsip desain yang memastikan skalabilitas dan ketersediaan tinggi, sama seperti layanan data intinya.

Yuan juga menyoroti aspek "ketenangan pikiran" (peace of mind) yang ditawarkan Couchbase. Platform ini telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk aplikasi-aplikasi mission-critical, termasuk di Indonesia. Ini berarti pengembang tidak perlu khawatir apakah ide inovatif mereka, jika tumbuh menjadi aplikasi signifikan dengan jutaan pengguna, dapat ditopang oleh mesin database yang sama.

"Di Indonesia, Anda memiliki lebih dari 250 juta penduduk. Anda akan membutuhkan solusi yang dapat di skalakan untuk mendukung volume transaksi semacam itu," tambahnya.

Dampak Fleksibilitas Database pada Aplikasi Cloud-to-Edge

Fleksibilitas database memiliki dampak besar pada pengalaman pengembang dan waktu ke pasar, terutama dengan tren aplikasi yang semakin berjalan dari cloud hingga ke edge. Yuan memberikan contoh sederhana dari smartphone: otentikasi biometrik seperti pengenalan wajah atau sidik jari. Proses ini terjadi secara lokal di perangkat (di edge) dan tidak di cloud.

"Pemrosesan itu tidak terjadi di cloud karena Anda tidak percaya pada telepon untuk mendorong data itu ke seluruh jaringan," jelas Genie, merujuk pada masalah keamanan dan privasi.

Selain itu, pemrosesan di edge memungkinkan fungsi tetap berjalan meskipun tidak ada jaringan. Perusahaan juga tidak ingin membayar infrastruktur mahal untuk memproses semua data secara terpusat. Dengan munculnya AI generatif, LLM, dan perangkat pintar yang selalu kita bawa, banyak aktivitas akan terjadi di edge terlebih dahulu.

Meskipun tidak semua, tetapi sebagian aktivitas harus diproses secara lokal untuk memberikan pengalaman pengguna yang mulus. Ini membutuhkan mesin pengolahan data dan penyimpanan yang kuat dan bersifat "edge native". Investor besar seperti Nvidia, yang berkolaborasi dengan Nokia untuk menempatkan edge computing di base station, menunjukkan tren ini.

Tantangan Membangun Aplikasi Siap AI:

Vector Search, RAG, dan Sinkronisasi Real-time

Membangun aplikasi siap AI menghadirkan tantangan tersendiri. Banyak pengembang kini menggunakan Retrieval Augmented Generation (RAG) untuk mengatasi masalah "halusinasi" pada Large Language Models (LLM) tujuan umum yang tidak memiliki pengetahuan domain spesifik. Namun, implementasi RAG tidak semudah kelihatannya.

"Ketika Anda melakukan implementasi itu, Anda akan menyadari ada banyak nuansa dalam detailnya," kata Genie.

Contohnya adalah strategi "chunking" membagi dokumen menjadi bagian-bagian yang tepat agar LLM dapat memahami dan membuat vektorisasi dengan akurat. Untuk mencapai akurasi maksimal, diperlukan upaya besar dan perpaduan berbagai komponen: alur kerja, model embedding, database vektor, dan LLM itu sendiri, serta bagaimana mengelola memori jangka pendek dan vektorisasi pada skala produksi yang melayani ratusan ribu hingga jutaan pengguna.

Latensi juga menjadi faktor krusial, terutama pada AI suara. Pengguna tidak akan sabar menunggu respons lima detik saat berbicara di telepon. Oleh karena itu, pengembang membutuhkan alat dan kapabilitas penyimpanan serta pemrosesan yang terintegrasi untuk menangani semua aspek rekayasa ini.

"Pengembang ingin fokus pada fitur aplikasi yang menambah nilai bagi pelanggan akhir," tegas Genie.

Platform terintegrasi memungkinkan pengembang untuk tidak khawatir tentang banyak detail teknis ini dan lebih fokus pada pengalaman pengguna.

Couchbase di Pasar Indonesia: Peluang dan Tantangan

Indonesia memiliki posisi yang sangat penting bagi Couchbase. Genie secara pribadi sangat menyukai pasar Indonesia karena dua alasan utama. Pertama budaya yang sangat hidup dengan aktivitas bisnis yang tinggi, serta penduduknya yang muda. Kedua, orang-orang Indonesia yang ia temui sangat tulus dan memiliki niat terbaik untuk melakukan sesuatu dengan benar.

"Apa yang Anda lihat itulah yang Anda dapatkan," ungkapnya, mengapresiasi budaya bisnis yang terbuka dan transparan.

Pasar Indonesia memiliki potensi besar karena aktivitas bisnis, peluang, dan konektivitasnya ke seluruh ASEAN. Selain itu, masyarakat Indonesia yang ramah terhadap pembicara bahasa Inggris dan ide-ide baru juga menjadi keuntungan. Namun, dengan populasi yang besar, muncul tantangan yang signifikan: kemampuan untuk menopang lalu lintas (traffic) yang masif.

"Anda harus bisa mempertahankan lalu lintas itu karena Anda memiliki populasi yang sangat besar," kata Genie.

Ia mencontohkan pengalamannya bekerja dengan Telkomsel, di mana setiap aplikasi yang diluncurkan untuk pelanggan harus melalui pengujian kinerja dan stress test yang ekstensif selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Pengembang di Indonesia perlu berpikir beberapa langkah ke depan. Jika sebuah aplikasi sukses, puluhan juta pengguna bisa langsung bergabung, dan server tidak boleh crash.

Dalam konteks ini, Couchbase sangat cocok dengan kebutuhan pasar Indonesia. "Anda memiliki populasi, Anda memiliki throughput, Anda membutuhkan latensi super rendah, Anda membutuhkan solusi enterprise. Itu adalah kekuatan kami," pungkas Genie.

Banyak database mungkin bekerja pada skala kecil, tetapi hanya sedikit, seperti Oracle (dengan biaya tinggi) dan Couchbase, yang terbukti dapat menangani aplikasi mission-critical dengan ratusan juta pengguna tanpa kolaps.

Dedikasi Couchbase terhadap pasar Indonesia, didukung oleh hubungan yang kuat dengan para eksekutif senior, menunjukkan keyakinan mereka terhadap potensi besar dan keselarasan teknologi dengan kebutuhan unik negara ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.