Belum Ada Kasus di Indonesia, Kemenkes Waspadai Ancaman Virus Nipah
January 29, 2026 06:45 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kementerian Kesehatan mengonfirmasi hingga kini belum ada kasus virus Nipah yang terkonfirmasi di Indonesia, namun kewaspadaan terus ditingkatkan karena virus ini dapat menular dari hewan ke manusia.

Hal ini menyusul wabah virus mematikan, virus nipah, kini mengguncang India.

Jika sebelumnya terkonfirmasi ada 5 kasus, namun belakangan pemerintah India meluruskan kabar yang sempat memicu kekhawatiran publik. 

Hingga akhir Januari 2026, ada dua kasus virus Nipah yang terkonfirmasi secara resmi di Benggala Barat, bukan lima seperti yang dilaporkan sejumlah media internasional.

Penyakit zoonotik tersebut diketahui berasal dari kelelawar buah dan dapat menyebar melalui pangan yang terkontaminasi atau kontak dengan hewan perantara.

Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi dan belum tersedia vaksin maupun obat khusus. Karena itu, pemahaman soal cara penularannya menjadi kunci pencegahan.

Baca juga: Virus Nipah Mewabah di India, Lima Kasus Terkonfirmasi dan Hampir 100 Warga Dikarantina

Epidemiolog Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman B.Med, MScPH, PhD, menjelaskan bahwa virus Nipah adalah virus zoonotik, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

“Reservoir alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus,” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Rabu 28 Januari 2026.

Ia menegaskan, virus Nipah tidak bisa hidup di luar tubuh makhluk hidup. Artinya, penularan hanya terjadi ketika virus masuk ke tubuh inangnya, baik hewan maupun manusia.

Cara penularan virus Nipah dari hewan ke manusia

Menurut Dicky, penularan virus Nipah ke manusia paling sering terjadi melalui kontak tidak langsung dengan kelelawar buah.

“Penularan umumnya melalui konsumsi buah atau produk pangan yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar,” jelasnya.

Selain itu, virus juga dapat menular melalui hewan perantara, terutama babi, yang terinfeksi setelah kontak dengan kelelawar.

Manusia kemudian tertular saat memegang, merawat, atau mengonsumsi produk dari hewan tersebut tanpa pengolahan yang aman.

Kemenkes juga mencatat bahwa konsumsi nira atau aren mentah dari pohon yang terpapar kelelawar menjadi salah satu faktor risiko penularan.

Penularan antar manusia memang bisa terjadi, meski tidak sering. Dicky menyebut, risiko muncul ketika ada kontak erat dengan cairan tubuh penderita, seperti air liur atau droplet pernapasan.

“Ini sering terjadi di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan jika tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai,” ujarnya.

Karena itu, tenaga kesehatan, keluarga pasien, serta perawat menjadi kelompok yang perlu kewaspadaan ekstra.

“Virus Nipah adalah contoh nyata bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung,” kata Dicky.

Gejala awal sering mirip flu

Salah satu tantangan virus Nipah adalah gejalanya yang tidak khas pada awal infeksi. Dicky menjelaskan, keluhan awal biasanya mirip flu, seperti:

  • Demam tinggi mendadak
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mual
  • Muntah
  • Batuk atau sesak napas
  • Pada kondisi berat, pasien bisa mengalami radang otak (ensefalitis), kejang, penurunan kesadaran, hingga koma. Tingkat kematian pada kasus berat dilaporkan berkisar 40–75 persen.

Upaya Pencegahan

Hingga kini belum tersedia vaksin atau terapi spesifik untuk virus Nipah. Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting.

Kemenkes dan para pakar mengimbau masyarakat untuk:

  • tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan hewan,
  • mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi,
  • menghindari nira atau produk hewani mentah,
  • serta menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau mati mendadak.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.