Banjir Pantura Subang Meluas, Bupati Sebut Delapan Kecamatan Kini Terdampak
January 29, 2026 09:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Banjir yang melanda wilayah Pantura Kabupaten Subang terus meluas seiring intensitas hujan tinggi yang masih mengguyur hingga hari ini, Kamis (29/1/2026).

Bupati Subang Reynaldy Putra Andita menyebut, jumlah kecamatan terdampak kini bertambah menjadi delapan kecamatan.

"Banjir Pantura sampai hari ini terjadi karena hujan sejak tadi malam hingga sekarang belum berhenti. Ada penambahan luasan dan jumlah masyarakat terdampak. Kecamatan Compreng yang sebelumnya belum terdampak, hari ini ikut terdampak banjir," kata Reynaldy usai meninjau lokasi pengungsian kolong Flyover Pamanukan, Kamis (29/1/2026).

Reynaldy menegaskan, pemerintah daerah telah bersiaga penuh di wilayah Pantura sejak beberapa hari terakhir.

Bahkan, jajaran Pemkab Subang akan berkantor langsung di Pantura demi mempercepat penanganan.

"Kami sudah empat hari stand by di Pantura. Mulai hari ini, Kamis (29/1), kami akan fokus stand by 1x24 jam."

"Saya, Plh Sekda, Asisten I, Kalak BPBD, Kepala Dinas Kesehatan akan bekerja langsung dari Pantura agar kebutuhan mendesak masyarakat bisa segera ditangani," ujarnya.

Baca juga: Baru Saja Bersih-bersih, Warga Mulyasari Subang Menangis Air Kembali Naik: Balik ke Kolong Jembatan

Posko, Dapur Umum, dan Relokasi Pengungsi

Pemerintah Kabupaten Subang telah mendirikan posko-posko pengungsian di sejumlah titik serta menyiapkan dapur umum dan dapur mandiri di hampir seluruh kecamatan terdampak.

"Hampir setiap hari kami melayani sekitar 8.000 warga terdampak, dengan distribusi makanan dua kali sehari. Ini hasil kolaborasi lintas sektor, mulai dari BPBD, Tagana, kader Posyandu, hingga masyarakat antar desa," ucap Reynaldy.

BANJIR LAGI - Banjir kembali meninggi hingga 1,5 meter di Desa Mulyasari, Pamanukan, Subang. Warga terpaksa kembali mengungsi setelah air yang sempat surut kembali merendam rumah akibat hujan deras dan luapan sungai, Kamis 29 Januari 2026.
BANJIR LAGI - Banjir kembali meninggi hingga 1,5 meter di Desa Mulyasari, Pamanukan, Subang. Warga terpaksa kembali mengungsi setelah air yang sempat surut kembali merendam rumah akibat hujan deras dan luapan sungai, Kamis 29 Januari 2026. (Tribun Jabar/Deanza Falevi)

Pemkab juga terus mengupayakan relokasi warga yang masih bertahan di lokasi tidak layak, seperti di bawah flyover. Namun, proses tersebut menghadapi kendala karena sebagian warga memilih tetap bertahan di lokasi tersebut.

"Kami ingin memindahkan karena kondisi di flyover tidak layak, tapi masyarakatnya masih kekeh. Kami terus berupaya melakukan pendekatan," katanya.

Reynaldy mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk percepatan penanganan infrastruktur pengendali banjir.

"Saya sudah menelepon Pak Gubernur agar BBWS segera menangani tanggul-tanggul yang sudah tidak layak, termasuk normalisasi Sungai Cipunagara dan sungai lainnya yang meluap."

"Kita punya skema jangka pendek dan jangka panjang," ucapnya.

Ia memastikan, kolaborasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat terus berjalan, termasuk penyaluran bantuan bagi warga terdampak.

Reynaldy juga mengimbau seluruh masyarakat Subang untuk tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem, baik di wilayah Pantura maupun daerah atas.

"Curah hujan sangat tinggi. Jangan sampai bencana terjadi juga di wilayah lain. Saya minta masyarakat di bantaran sungai dan daerah rawan untuk lebih waspada," ujarnya.

Selain itu, ia mengajak masyarakat menjadikan banjir ini sebagai pembelajaran bersama.

"Jangan buang sampah sembarangan dan jangan mendirikan bangunan di bantaran sungai. Pemerintah akan terus melakukan normalisasi sungai dan pembangunan tanggul agar banjir seperti ini tidak terulang," ucapnya.(*)

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.