Baru Diresmikan, Toilet Alun-alun Merdeka Kota Malang Dipasangi Kotak Tarif, Warga: Harusnya Gratis
January 29, 2026 09:30 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Belum 24 jam setelah diresmikan, fasilitas toilet di Alun-alun Merdeka Malang menjadi sorotan warga karena munculnya kotak sumbangan tidak resmi di salah satu toilet, Kamis (29/1/2026).

Kotak tersebut berada di toilet dekat area permainan anak, dan dijaga oleh seorang wanita bernama Irma. Ia menaruh kotak secara inisiatif sendiri sejak pukul 10.00 WIB

Irma mengaku tidak ada yang menginstruksi dirinya untuk menaruh kotak di depan pintu keluar dan masuk toilet. Semua itu ia lakukan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

"Ini inisiatif saya sendiri, tidak ada yang menyuruh. Orang sebelum saya, yang sebelum alun-alun direnovasi juga sudah naruh seperti ini," akunya.

Baca juga: Alun-alun Merdeka Malang Bakal Dibuka 28 Januari 2026, Ada Taman Air Mancur

Irma mengatakan, tidak ada tarif resmi yang dipatok. Katanya, setiap orang yang mau ngasih bebas memasukan jumlah uang.

"Tarifnya seikhlasnya," paparnya.

Ditaruh sejak pukul 10 pagi, Irma mengaku tidak tahu berapa jumlah yang sudah terkumpul. Saat wawancara dengan Irma sekitar lima menit, ada enam orang yang keluar dari toilet.

Mereka memasukan uang ke kotak. Nominalnya ada yang Rp 500, juga ada yang Rp 2.000. namun sebagian besar dari mereka memasukan Rp 2.000. 

Irma mengatakan, uang yang terkumpul sebagian digunakan untuk membeli sabun pencuci lantai karena Irma juga yang membersihkan toilet.

"Saya yang bersihkan toilet. Sebagian uangnya saya gunakan untuk beli sabun pencuci lantai," terangnya.

Di dekat kotak yang jaga, juga ada barang lain yang dijual. Barang tersebut adalah popok untuk anak-anak.

Irma mengaku bahwa keberadaannya tidak dilarang oleh petugas. Bahkan ia mengatakan kalau petugas sudah datang dan berbincang dengan dirinya.

"Tadi ada Satpol PP ke sini tidak ada masalah. Mereka hanya bilang kalau yang dijual tidak boleh makanan, kalau popok tidak masalah," kata Irma.

Safi'i, pengguna fasilitas toilet yang baru saja keluar mengaku tidak mempersoalkan adanya pungutan di fasilitas publik. Namun baginya harus diimbangi dengan layanan kebersihan di toilet. 

"Tapi tadi saya rasa toiletnya tidak begitu bersih," ungkap Safi'i.

Safi'i memasukan uang ke dalam kotak yang berada di pintu keluar. Menurutnya, fasilitas publik seharusnya gratis untuk warga, namun ia tidak keberatan kalau harus membayar. 

"Saya tahu harusnya fasilitas publik itu gratis," paparnya.

Berbeda dengan Emilia. Ibu satu orang anak itu mengaku tidak membayar. Ia sengaja tidak membayar karena tahu kalau fasilitas publik harus ya gratis.

Ia merasa tidak nyaman adanya kotak di fasilitas publik berupa toilet. Ia membandingkan fasilitas umum Stasiun Malang dengan stasiun pengisian bensin umum. Menurutnya, layanan toilet umum di stasiun lebih baik daripada Alun-alun Merdeka Malang.

"Saya tidak nyaman dengan keberadaan kotak. Sebetulnya, kalau memang itu aturan dari pemerintah, saya ikuti saja aturannya. Tapi saya lihat itu tidak resmi," katanya.

"Saya tidak tahu apakah fasilitas publik ini gratis atau bayar. Kalaupun bayar, seharusnya ada papan informasinya," imbuh Camelia.

Pada akhirnya, Camelia mengaku terbiasa untuk tidak membayar jika tidak ada aturan yang jelas. Meskipun di dalam hatinya juga diakui ada beban yang dibawa.

"Saya tadi tidak bayar, tapi jadi beban bagi saya. Belajar dari Stasiun Malang, menurut saya tidak perlu bayar. Ya saya akhirnya tega saja untuk tidak membayar," kata Camelia

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.