Kisah Tragis Mbah Kirno: Selama 20 Tahun Dikurung Keluarga karena Dianggap Sakti Punya Ilmu Jawa
January 30, 2026 12:32 AM

 

SURYA.co.id - Sebuah potret memilukan terjadi di Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.

Mbah Kirno (60), seorang pria lansia, harus menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi.

Bukan karena melakukan kriminalitas, melainkan karena dikurung oleh keluarganya sendiri selama 20 tahun terakhir.

Keluarga terpaksa mengambil keputusan ekstrem ini karena meyakini Mbah Kirno memiliki kesaktian dari Ilmu Jawa yang membahayakan keselamatan orang lain.

Kondisi tempat tinggal Mbah Kirno sangat memprihatinkan. Ia hidup di dalam kandang besi berukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter, dan panjang 2 meter yang terletak di belakang rumah.

Bahkan, kandang tersebut didesain sedemikian rupa hingga tidak menyentuh tanah sama sekali.

Di ruang sempit itulah, Mbah Kirno makan, minum, dan tidur tanpa pernah dilepaskan oleh pihak keluarga.

Baca juga: Pelajar Surabaya yang Terjaring Razia Bolos Sekolah Disanksi Rawat ODGJ Biar Jera

Alasan Keluarga: Ilmu Jawa yang Terlalu Tinggi

DIKURUNG - Mbah Kirno (60) warga Dusun Gombak, Desa Temon di Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dikurung dalam kandang besi selama 20 tahun hidupnya, Rabu (28/1/2026). Keputusan ekstrem ini diambil oleh pihak keluarga, karena meyakini Mbah Kirno memiliki ilmu sakti yang tidak mampu dikendalikan oleh batinnya.
DIKURUNG - Mbah Kirno (60) warga Dusun Gombak, Desa Temon di Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dikurung dalam kandang besi selama 20 tahun hidupnya, Rabu (28/1/2026). Keputusan ekstrem ini diambil oleh pihak keluarga, karena meyakini Mbah Kirno memiliki ilmu sakti yang tidak mampu dikendalikan oleh batinnya. (Surya.co.id/Pramita Kusumaningrum)

Keluarga menganggap kondisi kejiwaan Mbah Kirno terganggu (ODGJ) akibat mempelajari ilmu kebatinan saat usianya belum matang.

Hal ini disampaikan langsung oleh adik kandung Mbah Kirno, Sarti.

“Ya karena punya ilmu sakti begitu akhirnya kami keluarga memutuskan mengkerangkeng,” ungkap Sarti, Rabu (28/1/2026).

Sarti menjelaskan bahwa di masa muda, kakaknya sering mencari "ilmu". Namun, kondisi spiritualnya diduga tidak siap menerima tingkatan ilmu tersebut.

"Dia kan (Mbah Kirno) umurnya masih belum cukup jadi ilmu jawa yang masuk termasuk tingkat tinggi yang diminta. Akhirnya belum kuat kondisi kebatinannya. Jadinya seperti itu," tegas Sarti.

Keputusan mengurung Mbah Kirno juga didasari rasa takut akan ancaman fisik yang nyata.

"Mbah Kirno dimasukkan seperti itu karena keluarga dianiaya, takut. Juga mengancam mau membunuh suami saya, nenek saya juga dianiaya," tambahnya.

Makan Besi dan Minum Oli

Ketakutan keluarga bukan tanpa alasan.

Sarti mengklaim menyaksikan sendiri berbagai aksi luar biasa yang dilakukan Mbah Kirno, yang membuat keluarga yakin bahwa ia memiliki kesaktian tingkat tinggi.

“Sering makan besi, makan bambu itu pakai gigi. Minum oli 1 liter, makan api juga gak apa-apa. Saya tau sendiri itu bukan bohong saya,” urai Sarti menjelaskan alasan di balik pengurungan tersebut.

Karena dianggap memiliki kekuatan fisik yang membahayakan dan sulit dikendalikan, jeruji besi menjadi pilihan terakhir bagi keluarga.

“Intinya itu, karena dia mengancam akan membunuh keluarga,” jelasnya lagi

Meski harus mengurung kakaknya sendiri, Sarti mengaku tetap menjalankan kewajibannya sebagai keluarga dengan memberikan makan dan minum secara rutin.

“Sebenarnya ya kasian. Karena dia kan keluarga saya. Kakak kandung saya. Ya saya makan apa. Saya juga kasih kakak saya,” pungkas Sarti dengan nada sedih.

Sarti memastikan bahwa Mbah Kirno tetap diberi makan tiga kali sehari, bahkan selalu disuguhi kopi hangat setiap pagi. (Surya.co.id/Pramita Kusumaningrum)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.