KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID- ADA yang mengatakan, Rajab adalah bulan keampunan, Syakban bulan syafaat nabi dan Ramadan bulan dilipat gandakan pahala kebaikan. Ada lagi yang berpendapat, bahwa Rajab bulan taubat (pengampunan), Syakban bulan mahabbah (cinta Allah) dan Ramadan bulan qurbah (pedekatan diri kepada-Nya).
Ada lagi yang berpendapat jika Rajab seperti angin, maka Syakban adalah seperti awan, dan Ramadan adalah turunnya hujan.
Ada pula yang mengatakan pahala ibadah di bulan Rajab tujuh puluh kali lipat, pada bulan Sya’ban menjadi tujuh ratus kali lipat dan pada bulan Ramadan menjadi seribu kali lipat. Orang-orang Arab menyebutkan sebagai bulan-bulan ketaatan kepada Allah SWT, Wallahu’alam.
Syakban, nama bulan (urut ke delapan kelender perhitungan tahun Hijriyah), yaitu antara Rajab dan Ramadan. Ia sering dilupakan oleh sebagian orang. Pada Syakban diangkat catatan amal manusia kepada Allah SWT.
“Aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam berpuasa,” demikian jawaban Nabi SAW ketika ditanya mengapa ia banyak berpuasa di bulan Syakban melebihi puasanya pada bulan-bulan lainnya selain Ramadan (HR Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Huzaimah).
Aisyah ra mengakui bahwa Nabi SAW tidak pernah berpuasa di bulan lain melebih banyaknya puasanya di bulan Syakban, kecuali Ramadan sebulan penuh (HR Bukhari Muslim).
Dinamai Syakban karena tasyaa’ub (bertebarannya) manusia setelah Rajab, bulan yang diharamkan berperang. Syekh Abdurrahman Ash-Shafuri Asy-Syafi’i dalam Nuzhah Al-Majalis mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: Rajab Syahrullah, wa Sya’ban Syahri, wa Ramadhan Syahru ummati.
Artinya : “Rajab adalah bulan Allah, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Syekh Abdul Kadir Al-Kailani mengemukakan jika “suatu tahun” diumpamakan sebatang pohon, maka Rajab adalah masa berdaun, Syakban masa berbuah dan Ramadan masa panen.
Bulan Rajab banyak dikenang karena adanya peristiwa Isra dan Miraj, sedangkan Ramadan banyak disebut karena bulan Nuzul (turunnya) Alquran. Adapun peristiwa penting yang terjadi berbetulan bulan Sya’ban ialah diubahnya kiblat dari arah Masjid Al-Aqsa di Palestina ke arah Masjid Al-Haram di Makkah.
Apa pasal? Nabi SAW memohon kepada Allah SWT agar kiblat diubah ke arah Masjid Al-Haram, karena orang-orang Yahudi mencemoohkan Islam dan umatnya yang mengatakan pengikut Nabi Ibrahim AS, tetapi mengapa kiblatnya ke arah Masjid Al-Aqsa.
Setelah lebih kurang 16 bulan di Madinah, doa beliau dikabulkan, turunlah ayat yang artinya: “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS Al-Baqarah ayat 144).
Peristiwa itu terjadi pada pertengahan (nisfu) Syakban di pinggiran kota Madinah ketika Nabi SAW berkunjung ke sana dan melaksanakan salat Zuhur, dua rakaat pertama beliau menghadap ke arah Masjid Al-Aqsa, sesudah itu beliau berputar ke arah Masjid Al-Haram. Tempat itu kini dikenal dengan masjid Qiblatain.
Nabi SAW bersabda: “Bila malam nisfu Syakban tiba, maka dirikanlah salat pada malamnya dan berpuasalah di siang harinya.” Apa pula pasalnya.
Nabi SAW pun meminta izin kepada Aisyah ra untuk salat berpanjang malam, sujudnya lama sekali sampai-sampai Aisyah merasa khawatir kalau-kalau beliau wafat.
Telapak kaki beliau diusapnya dengan ujung jarinya, ternyata bergerak dan legalah Aisyah, beliau masih hidup. Beliau berdoa panjang sekali memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Tidak ada amaliah khusus di malam nisfu Syakban, Syekh Asy-Syarbasyi mengemukakan bahwa menyemarakkannya bisa dengan membaca Alquran, berzikir, istigfar, tahajjud, atau salat lainnya yang memungkinkan bagi seseorang, minimal salat Magrib dan Isya berjemaah dilengkapi salat-salat sunat bagi keduanya. (Yas’alunnaka fi Ad-Din wa Al-Hayat, juz IV, hal. 346). (*)