Waspada Virus Nipah yang Merebak: Pengawasan di Bandara RI-Kata Kemenkes
kumparanNEWS January 30, 2026 09:19 AM
Pemerintah Thailand telah menghidupkan kembali langkah-langkah pengendalian penyakit yang sebelumnya diterapkan untuk melawan pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan guna mencegah wabah virus Nipah di Thailand.
"Sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang kita gunakan selama wabah Covid-19 di Thailand," ujar Perdana Menteri Anutin Charnvirakul seperti dikutip dari Bangkok Post, Senin (26/1).
Kasus virus Nipah saat ini diketahui muncul di Benggala Barat, India. Lima orang dari tim kesehatan terinfeksi, meliputi 2 perawat (kasus awal/klaster pertama), 1 dokter, 1 perawat tambahan, dan 1 staf kesehatan lainnya.
Skrining di Bandara Thailand untuk mencegah masuknya virus Nipah, Minggu (25/1/2026). Foto: thailand.prd.go.th
zoom-in-whitePerbesar
Skrining di Bandara Thailand untuk mencegah masuknya virus Nipah, Minggu (25/1/2026). Foto: thailand.prd.go.th
Nipah adalah penyakit menular dari hewan (kelelawar buah sebagai inang) ke manusia yang menyerang sistem pernapasan serta menyebabkan peradangan akut pada otak (ensefalitis) dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
Meskipun belum ada kasus Nipah yang ditemukan di Thailand, PM Anutin menegaskan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan melampaui batas normal karena belum ada obat maupun vaksin untuk melawan virus tersebut.
Wabah Virus Nipah Merebak di India: Ini Gejala Penularan dan Risiko Kematiannya
Skrining di Bandara Thailand untuk mencegah masuknya virus Nipah, Minggu (25/1/2026). Foto: thailand.prd.go.th
zoom-in-whitePerbesar
Skrining di Bandara Thailand untuk mencegah masuknya virus Nipah, Minggu (25/1/2026). Foto: thailand.prd.go.th
Awal tahun 2026, virus Nipah menyebar di negara bagian India, Benggala Barat (West Bengal), dengan lima kasus telah terkonfirmasi, termasuk di antaranya dokter dan perawat yang ikut terinfeksi.
Dilansir Independent, sekitar 100 orang telah diminta melakukan karantina mandiri di rumah. Para pasien yang terinfeksi dirawat di sejumlah rumah sakit di Kolkata dan sekitarnya, dengan satu pasien dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Virus Nipah dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan di dunia. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk mengatasinya, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai patogen berisiko tinggi.
Para ahli menyebut infeksi pada manusia tergolong jarang, namun biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar ke manusia, sering kali melalui buah yang terkontaminasi. Seperti apa virus Nipah? Berikut pembahasan lengkapnya.
Bandara Ngurah Rai Perketat Pemeriksaan Penumpang, Cegah Virus Nipah
Penumpang pesawat berjalan melewati area pemeriksaan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (29/1/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Penumpang pesawat berjalan melewati area pemeriksaan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (29/1/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, meningkatkan pengawasan mencegah penularan virus Nipah.
Pengawasan dilakukan dengan menempatkan 2 unit thermal scanner di kedatangan internasional, 1 unit di kedatangan domestik. Pihak bandara berkoordinasi dengan dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar dalam hal pengawasan di lingkungan bandara.
"Seluruh personel di lingkungan bandara berkomitmen untuk melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh dalam pencegahan penularan virus Nipah di area kedatangan bandara," kata Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, Kamis (29/1).
Selain itu, bandara menyediakan 1 unit di terminal VIP. Apabila ditemukan penumpang yang menunjukkan gejala, maka akan ditindak lanjuti pihak Balai Karantina dengan merujuk penumpang tersebut ke Rumah Sakit Umum Pusat Prof IGNG Ngoerah, Denpasar.
Gede Eka Sandi mengimbau penumpang menjaga kesehatan dan memantau perkembangan informasi terkait virus Nipah demi keamanan dan kenyamanan bersama.
"Adapun bagi penumpang yang merasa kondisi kesehatannya menurun dan terdapat gejala awal virus Nipah seperti demam, kami imbau untuk segera menghubungi petugas bandara terdekat atau petugas BBKK di bandara," katanya.
Wamenkes Soal Virus Nipah: Di Indonesia Otomatis Sudah Skrining
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus bicara soal virus Nipah yang merupakan salah satu virus paling mematikan di dunia.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk mengatasinya, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai patogen berisiko tinggi.
“Virus Nipah itu sudah ada sejak 1998. Ada di India, tahun ini ada dua kasus. Memang angka kematiannya sangat tinggi, tetapi jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus,” kata Ben saat kunjungan di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (29/1).
Ben menegaskan saat ini virus Nipah belum sampai ke Indonesia. Sejumlah negara terdekat dengan India telah melakukan antisipasi.
“Jadi belum sampai di Indonesia. Di Thailand sudah bagus dilakukan skrining. Jadi di Thailand, karena kasusnya di India, di satu wilayah, tapi di India pun baru dua kasus. Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown,” katanya.
Menurutnya, India berkomitmen mencegah virus ini menyebar ke negara lain.
Lalu apa langkah antisipasi yang dilakukan Indonesia?
“Di Indonesia otomatis sudah melakukan skrining. Jadi kita punya alat deteksi di bandara, yang pasien dengan suhu tinggi sudah bisa dideteksi, tetapi memang skrining seperti COVID belum kita lakukan,” pungkasnya.
IDAI: di Indonesia, Virus Nipah Ditemukan di Kelelawar, Belum Ada pada Manusia
Penumpang pesawat berjalan melewati area pemeriksaan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (29/1/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Penumpang pesawat berjalan melewati area pemeriksaan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (29/1/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Virus nipah saat ini sedang merebak di India dan ada sekitar 100 orang yang menjalani karantina mandiri di rumah untuk mencegah penyebaran kasus ini. Penemuan kasus ini menghebohkan dunia karena angka kematiannya tinggi, yakni sekitar 40-75%. Sebagai perbandingan, angka kematian akibat COVID-19 hanya sekitar 1%.
Namun kabar baiknya, menurut anggota UKK Infeksi Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A (Subs IPT), kasus ini belum ditemukan pada manusia di Indonesia.
"Virus nipah di Indonesia belum pernah ditemukan pada orang, tapi pada kelelawar ada," kata Prof Domi dalam webinar IDAI, Kamis (29/1).
Virus nipah ini ditemukan pada kelelawar pemakan buah di Sumatera Utara dalam penelitian tahun 2023 yang telah dipublikasi oleh Kemenkes.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin untuk virus yang pertama kali muncul di Malaysia pada 1998 ini. Saat ini, menurut Prof Domi, di Inggris sedang ada uji coba vaksin nipah namun baru memasuki tahap 2 dan pengembangannya masih lama, minimal 3-5 tahun ke depan.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.