TRIBUNKALTIM.CO - Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi pada awal 2026 dan memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat: apakah harga emas akan turun atau justru terus naik?
Lonjakan harga emas global dan emas Antam di dalam negeri dipicu pelemahan dolar AS, ketegangan geopolitik, serta potensi penurunan suku bunga Amerika Serikat.
Kondisi ini menempatkan emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026.
Rekor tertinggi harga emas dunia sepanjang sejarah terjadi pada akhir Januari 2026, di mana harga emas spot berhasil menembus level sekitar US$5.550–US$5.600 per troy ons pada perdagangan 28–29 Januari 2026.
Baca juga: Aturan Baru Antrean Online Emas Antam, Data Tak Valid Bisa Gagal
Harga ini melampaui puncak sebelumnya dan mencatat level tertinggi baru di pasar global.
Di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mencatat sejarah baru dengan menembus level di atas Rp3 juta per gram dalam periode yang sama.
Rekor ini mencerminkan tren kenaikan kuat harga emas yang didukung oleh permintaan aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan ekspektasi perubahan kebijakan moneter global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia dan logam mulia masih akan terus meningkat sepanjang 2026.
Proyeksi tersebut didasarkan pada perkembangan pasar terbaru hingga Kamis (29/1/2026) pukul 11.00 WIB.
“Jam 11.00 tadi saya baru merevisi prediksi harga emas dunia dan logam mulia. Pada 24 Desember lalu saya sempat menyampaikan outlook harga emas dunia di level US$ 5.500 per troy ons dan logam mulia Rp 3,5 juta per gram. Hari ini saya kembali merevisi proyeksi tersebut,” ujar Ibrahim dalam kanal YouTube Official iNews, Kamis (29/1/2026).
Dalam revisi terbarunya, Ibrahim menilai tren kenaikan harga emas belum akan berhenti dalam waktu dekat.
Bahkan, lonjakan harga emas diperkirakan akan berlangsung lebih agresif sepanjang 2026.
“Di tahun 2026 ini kemungkinan besar harga emas dunia akan menyentuh level US$ 6.500 per troy ons.
Sementara harga logam mulia di dalam negeri berpotensi mencapai Rp 4,2 juta per gram,” jelasnya.
Mengacu pada situs resmi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Kamis (29/1/2026), harga emas Antam pecahan 1 gram tercatat di level Rp 3.168.000, melonjak Rp 165.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Sementara itu, harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.989.000 per gram, naik Rp 135.000 dalam sehari.
Kenaikan signifikan ini mencerminkan lonjakan permintaan emas fisik di dalam negeri.
Di pasar global, data Trading Economics menunjukkan harga emas spot telah menembus US$ 5.550 per troy ons, atau melonjak hampir 100 persen secara tahunan (year on year).
Menurut Ibrahim, lonjakan harga emas saat ini menjadi momen krusial bagi masyarakat yang telah lama menyimpan emas, baik dalam bentuk logam mulia maupun perhiasan.
“Bagi masyarakat yang sudah lama memiliki emas, ini bisa menjadi momentum untuk menjual. Pada prinsipnya, investasi emas bertujuan untuk memperoleh keuntungan,” ujarnya, seperti dilansir WartaKotaLive.com.
Meski demikian, keputusan menjual atau menahan emas sangat bergantung pada target investasi masing-masing individu.
“Kalau ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar, emas bisa ditahan hingga akhir 2026 atau bahkan sampai 2028. Selama periode tersebut, emas masih sangat potensial,” tambahnya.
Baca juga: Apakah Harga Emas Bisa Turun? Ini Penjelasan dan Faktor Penyebabnya
Bagi masyarakat yang belum memiliki emas, peluang investasi dinilai masih terbuka meskipun harga berada di level tinggi.
“Bagi yang belum punya, memang harganya terus naik, tetapi pembelian masih bisa dilakukan,” kata Ibrahim.
Ia menyarankan alternatif investasi yang lebih fleksibel, seperti bullion bank atau emas digital, terutama bagi masyarakat yang merasa keberatan membeli emas fisik dengan harga di atas Rp 3 juta per gram.
“Emas digital dan bullion bank kini banyak diminati, khususnya generasi muda, karena lebih fleksibel dan tidak membutuhkan penyimpanan fisik,” jelasnya.
Ibrahim menjelaskan, ada sejumlah faktor utama yang menjawab pertanyaan kenapa harga emas naik terus di tahun 2026.
Pertama, meningkatnya risiko geopolitik global, mulai dari konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Asia Timur.
Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset aman atau safe haven, salah satunya emas.
Kedua, pelemahan nilai tukar dolar AS. Dilansir dari Forbes, dolar AS tercatat melemah ke level terendah dalam empat tahun terakhir.
Pelemahan dolar secara historis menjadi katalis positif bagi harga emas karena membuat emas lebih murah bagi investor non-dolar.
Ketiga, potensi perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dengan pergantian kepemimpinan The Federal Reserve pada 2026, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga semakin besar.
“Jika suku bunga turun, daya tarik instrumen berbunga akan menurun. Pada saat yang sama, emas menjadi semakin menarik meskipun tidak memberikan imbal hasil bunga,” kata Ibrahim.
Selain itu, permintaan emas dari bank sentral global juga terus meningkat. Sejumlah negara seperti Tiongkok, Rusia, India, hingga negara-negara Eropa Timur tercatat aktif menambah cadangan emas sebagai strategi diversifikasi dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS.
Berdasarkan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, Ibrahim menilai peluang harga emas turun secara signifikan di tahun 2026 relatif kecil.
Meski koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi, tren jangka menengah hingga panjang dinilai tetap mengarah naik.
Baca juga: Pegadaian Ajak Masyarakat Mulai Investasi Emas Lewat Festival TRING! di Atrium eWalk Mall Balikpapan
Dengan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang masih tinggi, emas kembali menegaskan posisinya sebagai instrumen investasi defensif dan pelindung nilai.
“Penurunan suku bunga dan melemahnya dolar akan menjadi alasan kuat bagi investor untuk terus meningkatkan eksposur ke emas,” pungkas Ibrahim.