Kapan Nisfu Syaban 2026? Ini Jadwal dan Amalan Doa Mustajab
January 30, 2026 09:55 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kapan malam Nisfu Sya'ban 2026 jatuh? Pertanyaan ini mulai mengemuka seiring dengan pengumuman resmi mengenai awal bulan Syaban 1447 Hijriah.

Sebagai salah satu malam paling istimewa dalam kalender Islam, umat Muslim kini mulai mempersiapkan diri untuk menghidupkan malam penuh ampunan tersebut dengan jadwal yang tepat serta amalan doa khusus yang mustajab.

Melansir dari NU Online, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) secara resmi telah mengumumkan hasil pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan Syaban 1447 H. 

Berdasarkan data yang dihimpun, awal bulan Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026 esok.

Pengumuman ini sangat dinantikan oleh jutaan umat Islam di Indonesia sebagai acuan dalam menentukan hari-hari besar di bulan Syaban.

Kepastian ini tertuang dalam surat Pengumuman Nomor 116/PB.08/A.II.11.13/13/01/2026 yang dirilis pada hari Senin, 19 Januari 2026.

Dalam surat tersebut, PBNU menegaskan bahwa awal bulan Sya’ban 1447 H bertepatan dengan Selasa Pahing, 20 Januari 2026 Masehi.

Kalender Hijriah sendiri memulai pergantian harinya sejak matahari terbenam pada Senin malam.

Langkah ini diambil berdasarkan metode rukyatul hilal yang menjadi tradisi kuat dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Para perukyah di berbagai titik di Indonesia dikerahkan untuk memantau posisi bulan sabit muda pada Senin sore.

Keberhasilan melihat hilal di beberapa lokasi menjadi kunci utama keputusan ini. Dengan adanya laporan valid mengenai keterlihatan hilal, maka bulan Rajab tidak perlu digenapkan menjadi 30 hari atau diistikmalkan.

Oleh karena itu, bagi umat Islam yang ingin merencanakan ibadah, kalender Syaban tahun ini dimulai dengan mantap di hari Selasa. Ini merupakan kabar gembira yang menandakan semakin dekatnya kita dengan gerbang bulan suci Ramadan.

Syaban adalah bulan yang memiliki banyak dimensi spiritual. Kehadirannya sering kali dianggap sebagai "masa pemanasan" bagi jiwa-jiwa yang rindu akan suasana Ramadan yang penuh berkah.

LF PBNU senantiasa memberikan data akurat agar masyarakat tidak bingung dalam menjalankan ibadah. Sinergi antara ilmu falak dan metode rukyah fisik menjadi landasan yang sangat dipercaya.

Dengan penetapan 1 Syaban pada tanggal 20 Januari, maka penghitungan menuju pertengahan bulan menjadi sangat jelas. Umat Islam dapat mulai mengatur jadwal kegiatan keagamaan di masjid maupun musala.

Ketertiban dalam penentuan kalender ini mencerminkan betapa pentingnya menjaga tradisi keilmuan Islam dalam mengatur waktu. Hal ini memudahkan sinkronisasi ibadah secara berjamaah di seluruh pelosok negeri.

Prediksi Malam Nisfu Syaban 2026

ILUSTRASI BERDOA -
NISFU SYABAN - Ilustrasi pria berdoa (SERAMBINEWS.COM)

Berdasarkan penetapan awal bulan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan mengenai kapan tepatnya malam Nisfu Syaban 1447 H terjadi. Nisfu Syaban jatuh pada malam ke-15 di bulan tersebut.

Secara matematis, malam Nisfu Sya'ban 1447 H diprediksi akan jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026. Waktu ini merupakan momen transisi dari tanggal 14 menuju tanggal 15 Syaban.

Umat Islam sangat dianjurkan untuk menandai tanggal ini di kalender masing-masing. Sebab, malam tersebut hanya datang satu kali dalam setahun dengan keutamaan yang luar biasa besar.

Penting untuk dipahami bahwa dalam Islam, malam mendahului siang. Jadi, meskipun tanggal 15 Sya'ban secara administratif adalah hari Selasa, namun "malamnya" sudah dimulai sejak Senin sore setelah Maghrib.

PBNU mengimbau umat Islam untuk menghidupkan malam tersebut dengan berbagai amalan positif. Ini adalah kesempatan emas untuk mengetuk pintu langit dan memohon segala hajat kepada Allah SWT.

Biasanya, di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat akan berkumpul di masjid setelah shalat Maghrib berjamaah. Mereka akan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat-niat khusus.

Niat yang umum dipanjatkan antara lain adalah memohon panjang umur dalam ketaatan, memohon diluaskan rezeki yang halal, serta memohon ketetapan iman dan Islam hingga akhir hayat.

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi pengikat ukhuwah Islamiyah di lingkungan masyarakat. Kebersamaan dalam doa menciptakan suasana spiritual yang sangat kental.

Malam Senin, 2 Februari 2026 tersebut akan menjadi malam di mana langit terbuka bagi doa-doa hamba yang tulus.

Tidak ada doa yang tertolak pada malam yang mulia ini jika dipanjatkan dengan penuh keyakinan.

Mari jadikan informasi jadwal ini sebagai pengingat untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Persiapan hati harus dimulai bahkan sebelum malam istimewa itu tiba.

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Mengapa malam Nisfu Syaban disebut sangat istimewa? Hal ini berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh ad-Dailami, 'Asakir, dan al-Baihaqy.

Dalam riwayat tersebut, disebutkan bahwa ada lima malam di mana doa tidak akan tertolak oleh Allah SWT. Malam Nisfu Sya'ban menempati posisi yang sangat penting di antaranya.

Selain Nisfu Sya'ban, empat malam lainnya adalah malam pertama bulan Rajab dan malam Jumat. Kemudian ada pula malam Idul Fitri serta malam Idul Adha yang memiliki derajat kemuliaan serupa.

Hadits ini menjadi motivasi besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak istighfar dan dzikir. Kesempatan untuk mendapatkan "tiket" doa yang pasti dikabulkan adalah anugerah yang sangat mahal.

Umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya tidur atau melakukan kegiatan sia-sia pada malam tersebut. Sebaliknya, memperbanyak shalat sunnah seperti shalat tasbih atau shalat hajat sangatlah disarankan.

Malam ini juga dikenal sebagai malam pembebasan. Allah SWT membebaskan banyak hamba-Nya dari api neraka pada malam Nisfu Sya'ban, sebanyak jumlah bulu domba milik suku Bani Kalb.

Namun, pengampunan ini diberikan kepada mereka yang memiliki hati yang bersih. Mereka yang masih menyimpan dendam atau belum berdamai dengan sesama disarankan untuk segera bertaubat.

Oleh karena itu, malam ini juga menjadi momentum untuk saling memaafkan. Hubungan horizontal dengan sesama manusia harus diperbaiki agar hubungan vertikal dengan Allah semakin lancar.

Menghidupkan malam Nisfu Syaban adalah bentuk kecintaan kita kepada sunnah dan tradisi para salafus shalih. Mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam mengejar ridha Ilahi.

Jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita melupakan malam yang hanya terjadi setahun sekali ini. Jadikan Senin malam tersebut sebagai ajang "curhat" terbaik kepada Sang Khalik.=

Secara ilmiah, penetapan awal Syaban 1447 H didukung oleh data hisab yang sangat mendetail. Data ini menunjukkan bahwa hilal akhir Rajab 1447 H sudah sangat layak untuk dilihat.

Berdasarkan perhitungan, ketinggian hilal di markaz Jakarta mencapai 6 derajat 07 menit 12 detik. Angka ini dianggap cukup tinggi dalam ilmu astronomi untuk pengamatan mata telanjang.

Parameter lainnya adalah elongasi hilal yang berada pada posisi 7 derajat 55 menit 25 detik. Jarak sudut antara bulan dan matahari ini memastikan cahaya hilal cukup kuat untuk tertangkap indra penglihatan.

Lama hilal di atas ufuk tercatat selama 28 menit 10 detik. Ini memberikan waktu yang cukup bagi tim rukyah untuk melakukan verifikasi sebelum bulan benar-benar terbenam di ufuk barat.

Ijtimak atau konjungsi bulan dan matahari terjadi pada Senin Legi, 19 Januari 2026, tepat pada pukul 02:52:04 WIB. Jarak waktu ijtimak ke waktu Maghrib memberikan "umur" hilal yang matang.

Data teknis ini dikerjakan dengan metode tahqiqi tadqiki ashri kontemporer. Metode ini merupakan standar tinggi yang digunakan oleh pakar falak di kalangan Nahdlatul Ulama.

Di wilayah paling timur Indonesia, seperti Merauke, tinggi hilal mencapai 5 derajat 16 menit. Meskipun lebih rendah dari Jakarta, angka ini tetap masuk dalam kriteria aman pengamatan.

Sebaliknya, di wilayah barat seperti Bengkulu, tinggi hilal justru lebih besar, yakni mencapai 6 derajat 12 menit. Elongasi di sana bahkan menyentuh angka 8 derajat 02 menit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan di wilayah Indonesia, hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Hasil perhitungan ini bukan sekadar angka, melainkan panduan bagi umat Islam untuk beribadah dengan penuh kepastian hukum. Falakiyah PBNU telah menjalankan tugasnya dengan sangat teliti.

Doa Khusus dari Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

Bagi yang ingin mengamalkan doa khusus, terdapat riwayat doa dari Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Doa ini beliau peroleh dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan tertuang dalam kitab Ghunyah ath-Thalibin.

Berikut adalah doa khusus yang dianjurkan untuk dilangitkan pada malam Nisfu Sya'ban:

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعِّمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَل| مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

(Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi, Mashâbihil hikmati wa mawâlin ni’mati, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimni bihim min kulli sû-in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘ala ghaflatin, wa lâ taj‘al ‘awâqiba amri hasratan wa nadâmatan, wardla ‘annî, fainna maghfirataka lidh dhâlimin, wa anâ minadh dhâlimîna, allâhumma ighfir lî mâ lâ yadlurruka, wa a‘thinî mâ lâ yanfa’uka, fainnaka al-wâsi’atu rahmatuhu, al-badî‘atu hikmatuhu, fa a‘thini as-sa‘ata wad da‘ata, wal-amna wash-shihhata wasy-syukra wal-mu‘âfata wattaqwa, wa afrighiash-shabra wash-shidqa ‘alayya, wa ‘alâ auliyâi fîka, wa a‘thinî al-yusra, walâ taj‘al ma‘ahu al-‘usra, wa a‘imma bi dzâlika ahlî wa waladî wa ikhwanî fîka, wa man waladanî minal muslimîna wal muslimâti wal mu’minîna wal mu’minâti.)

Artinya: “Ya Allah limpahkan rahmat ta’dhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunanMu untuk orang-orang zhalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikanMu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepadaMu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin dan mukminat.”

Doa ini mengandung makna yang sangat dalam mengenai kepasrahan seorang hamba. Kita meminta agar dijaga dari kelalaian yang bisa berakibat pada penyesalan di akhirat kelak.

Syekh Abdul Qadir mengajarkan kita untuk memohon kemudahan hidup. Dalam doa tersebut, kita meminta kelapangan rezeki dan kesehatan sebagai penunjang ibadah.

Tidak hanya untuk diri sendiri, doa ini juga mencakup permohonan untuk keluarga dan orang tua. Ini menunjukkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi nilai kasih sayang antarkeluarga.

Mengamalkan doa ini pada malam Nisfu Sya'ban akan memberikan ketenangan batin. Keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun akan menghapus segala kecemasan di hati kita.

Doa Versi Perukunan Melayu

Selain doa di atas, masyarakat di Nusantara juga akrab dengan doa dari Kitab Perukunan Melayu. Doa ini sering dibaca secara berjamaah di masjid-masjid.

Berikut adalah teks doa Nisfu Sya'ban versi Perukunan Melayu:

اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا (كَتَبْتَنِيْ) عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مَطْرُوْدِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتَنَا (شَقَاوَتِيْ) وَحِرْمَانَنَا (وَحِرْمَانٍيْ) وَطَرْدَنَا (وَطَرْدٍي) وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا (َوَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ)، وَأَثْبِتْنَا (وَأَثْبِتْنِيْ) عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” إِلَهَنَا (ِإِلَهِيْ) بِالتَّجَلِّيِ الأَعْظَمِ، فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ المُكَرَّمِ، الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُw أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، اِصْرِف| عَنَّا (عَنِّيْ) مِنَ البَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

(Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thawli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanā (katabtani) ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au mathrūdīna au muqattarīna ‘alayna fir rizqi, famhullāhumma bi fadhlika fī ummil kitābi syaqāwatanā (syaqāwati), wa hirmānanā (wa hirmāni), wa thardhanā (thardhani), waqtitāra rizqinā (waqtitāra rizqi), wa atsbitnā (wa atsbitni) ‘indaka fī ummil kitābi su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīn lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munazzali ‘ala nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Ilāhanā (Ilāhi), bit tajalil a‘zham fī laylatin nishfi min syahri Sya‘bānal mukarrami, allatī yufraqu fīhā kullu amrin hakīmin wa yubram, ishrif ‘annā ('anni) minal balā’i mā na‘lamu wa mā lâ na‘lamu, wa anta ‘allāmul ghuyūbi, bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama.)

Doa ini sangat masyhur karena mengandung permohonan agar Allah mengubah catatan amal buruk kita menjadi baik. Kita memohon agar dibebaskan dari kesempitan rezeki dan kesialan hidup.

Melalui doa ini, kita mengakui bahwa Allah memiliki Lauh Mahfuzh, di mana segala sesuatu telah dicatat. Namun, dengan rahmat-Nya, kita memohon agar ditetapkan sebagai orang yang mujur.

Bagian "Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu" adalah pengingat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Takdir yang sulit bisa berubah menjadi kemudahan dengan kekuatan doa.

Maka dari itu, mari manfaatkan malam Nisfu Syaban 1447 H nanti sebagai momentum perubahan besar dalam hidup. Semoga kita semua dipertemukan dengan malam mulia tersebut dalam keadaan sehat wal afiat. Amin.

 

(Sumber: Nu Online)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.