SURYA.CO.ID, SURABAYA – Harga emas global maupun domestik terus menunjukkan tren kenaikan hingga Januari 2026.
Lonjakan ini dipicu meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang kian memanas.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Arin Setyowati, menilai emas kembali menjadi primadona karena kondisi global yang sarat risiko.
Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia membuat investor cenderung mengalihkan dananya dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman.
“Pada kondisi konflik geopolitik seperti sekarang, para investor mencari aset perlindungan nilai. Ketidakpastian global yang meningkat membuat emas dipandang sebagai safe haven,” ujar Arin saat dihubungi, Rabu (29/1/2026).
Selain faktor geopolitik, Arin menjelaskan risiko global yang terus membayangi perekonomian dunia turut memperkuat persepsi emas sebagai aset pelindung.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi pendorong utama kenaikan harga logam mulia tersebut.
“Pasar berekspektasi The Fed akan memangkas suku bunga pada 2026. Kondisi ini membuat emas semakin menarik karena biaya peluang memegang emas menurun dibandingkan obligasi yang imbal hasilnya ikut rendah,” jelasnya.
Menurut Arin, pelemahan dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir juga berkontribusi besar terhadap kenaikan harga emas.
Karena diperdagangkan dalam dolar AS, melemahnya mata uang tersebut membuat emas lebih murah bagi pembeli global.
“Ketika dolar berada di level rendah, harga emas biasanya terdorong naik karena menjadi lebih terjangkau bagi investor luar negeri,” tambahnya.
Arin juga menyoroti derasnya aliran investasi ke produk berbasis emas, seperti exchange traded fund (ETF) dan pembelian emas fisik.
Peningkatan permintaan tersebut memperkuat tekanan naik terhadap harga emas di pasar global.
“Aliran investasi ke ETF emas dan pembelian fisik meningkat tajam. Ini menguatkan sisi permintaan sekaligus harga emas,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan permintaan emas global telah mencapai rekor tertinggi sejak 2025.
Lonjakan permintaan ini didorong oleh kebutuhan investasi, bukan perhiasan, seiring harga yang semakin mahal.
“Permintaan emas secara global dilaporkan mencapai rekor tertinggi sejak 2025, dengan porsi terbesar berasal dari investasi, bukan perhiasan,” ujarnya.
Dari sisi teknikal, Arin menilai tren kenaikan harga emas saat ini merupakan kelanjutan dari reli panjang sepanjang 2025 yang masih berlanjut hingga awal 2026.
“Momentum reli harga emas sejak 2025 berlanjut hingga Januari 2026. Secara teknis, tren naiknya semakin kuat,” paparnya.
Terkait prospek ke depan, Arin menyebut sejumlah analis dan bank besar memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik signifikan sepanjang 2026.
“Berdasarkan rilis analis dan bank besar, harga emas diperkirakan bisa mencapai 5.500 hingga 6.000 dolar AS per ons pada 2026 jika tren saat ini berlanjut,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan tetap ada risiko apabila kondisi global berbalik arah.
Namun selama ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih tinggi, emas dinilai tetap menjadi pilihan utama investor.
“Selama ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih tinggi, investor akan terus beralih ke emas sebagai asuransi risiko atas nilai aset yang mereka miliki,” pungkas Arin.