Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kenaikan harga daging sapi di pasar tradisional Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kini semakin dirasakan dampaknya oleh pedagang maupun pembeli.
Sejak Desember 2025 lalu, harga daging sapi merangkak naik hingga mencapai Rp135 ribu per kilogram, menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan sejumlah lapak pedagang tampak sepi, bahkan ada yang kosong.
Pantauan Tribunjabar.id di Pasar Rebo Purwakarta pada Jumat (30/1/2026), aktivitas jual beli daging sapi terlihat jauh lebih lengang dibandingkan hari-hari biasa. Hanya segelintir pembeli yang datang ke lapak pedagang untuk memenuhi kebutuhan masakan.
Baca juga: Pangandaran Kekurangan Daging Sapi 631,48 Ton Per Bulan, Bisa Jadi Peluang Masyarakat Lokal
Salah satu pedagang daging sapi, Hajah Epong, mengakui kenaikan harga ini sangat berpengaruh terhadap jumlah pembeli.
Menurutnya, kondisi sepi sudah dirasakan sejak harga mulai naik pada akhir tahun lalu.
"Kenaikan ini mulai dari bulan Desember 2025. Sekarang harganya Rp135 ribu per kilogram untuk kualitas bagus. Dulu normalnya Rp120 ribu sampai Rp125 ribu. Sekarang pembelinya jadi berkurang," ujar Hajah Epong kepada Tribunjabar.id di Pasar Rebo Purwakarta, Jumat (30/1/2026).
Ia menyebut, meski harga daging sapi di Purwakarta masih lebih murah dibandingkan daerah lain yang sudah mencapai Rp150 ribu per kilogram, pembeli tetap berharap harga kembali turun. Bahkan, ia menyebut sempat ada wacana mogok berjualan akibat harga yang terus naik.
"Di daerah lain sudah sampai Rp150 ribu. Tapi pembeli maunya tetap murah. Kalau soal sapi impor, menurut saya sama saja, mau impor atau lokal tetap mahal," katanya.
Hal senada dirasakan oleh pembeli bernama Entin, yang mengeluhkan kenaikan harga daging sapi karena berdampak langsung pada usaha kulinernya.
Entin mengaku tidak berani menaikkan harga jual masakan meski bahan baku semakin mahal.
Baca juga: Halaman Polresta Cirebon Diserbu Warga, Ada Beras, Daging Sapi, hingga Telur Murah
"Saya jualan masakan, sementara bahan daging sapi sekarang mahal. Tapi saya engga berani naikin harga ke pelanggan," keluhnya.
Menurut Entin, jumlah pembelian daging kini juga dikurangi dibandingkan sebelumnya. Ia menilai harga daging sapi saat ini sudah terlalu tinggi bagi pedagang kecil.
"Kalau dulu beli lebih banyak, sekarang dikurangin. Ya gimana, kemahalan," ucapnya.
Sementara itu, terkait informasi Kementerian Perdagangan yang telah menerbitkan izin impor daging sapi beku sebanyak 280.000 ton pada tahun ini, para pedagang di pasar tradisional Purwakarta menilai kebijakan tersebut belum memberikan dampak signifikan.
Pasalnya, harga daging sapi impor di pasaran dinilai tidak jauh berbeda dengan daging sapi lokal. Kondisi ini membuat pedagang dan pembeli berharap adanya stabilisasi harga agar aktivitas jual beli di pasar tradisional kembali menggeliat dan daya beli masyarakat dapat pulih.(*)