Rica dan Bawang Merah Jadi Pendorong Utama Inflasi Sangihe, Solusi TPID Strategi 4K Langkah Jitu
January 30, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cabai rawit dan bawang merah menjadi dua komoditas pendorong inflasi di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

Harga dua komoditas holtikultura ini cenderung lebih tinggi dibanding Kota Manado. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto mengungkapkan hal tersebut dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kepulauan Sangihe di Tahuna, Jumat 30 Januari 2026.

Katanya, sebagai kabupaten Non IHK (Indeks Harga Komoditas) atau tempat pengukuran inflasi, data harga dapat digunakan sebagai indikator inflasi Sangihe. 

Faktor utamanya, produksi cabai rawit atau rica dan bawang merah di Sangihe sangat terbatas.

Kemudian faktor geografis, di mana Sangihe yang merupakan kabupaten kepulauan. 

"Untuk memenuhi kebutuhan perlu dipasok dari Manado. Karena itu memerlukan tambahan biaya transportasi baik dari laut maupun udara," kata Joko. 

Harga rica dan bawang merah juga melonjak pada saat menjelang akhir tahun dan hari raya keagamaan.

"Harga sangat ditentukan oleh pasar yang dinamis, penurunan pasokan musiman atau peningkatan permintaan," ujarnya. 

Katanya, pengendalian harga perlu dilakukan agar daya beli masyarakat terjaga sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Karena itu, untuk menjaga inflasi tahunan berada pada rentang sasaran nasional sebesar 2,5 ± 1 persen, dibentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di provinsi maupun kabupaten kota.

TPID berfungsi menyusun kebijakan pengendalian inflasi, memperkuat sistem logistik, dan menyusun peta jalan pengendalian inflasi 2025–2027. 

Pengendalian inflasi berpijak empat strategi yang bisa dilakukan, yakni: 

Keterjangkauan Harga

Kegiatan operasi pasar melalui Gerakan Pangan Murah merupakan upaya agar komoditas bisa diperoleh dengan harga yang terjangkau. 

Ketersediaan Pasokan

Hal ini dilakukan secara lebih sistematis dan bersifat jangka menengah panjang antara lain melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) dan peningkatan produktivitas pertanian.

Kelancaran Distribusi

Gotong royong antar lembaga untuk Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) agar pasokan dapat didistribusikan ke berbagai wilayah secara merata. 

"Hal ini menjadi salah satu faktor penting bagi kabupaten Sangihe mengingat adanya kebutuhan biaya angkut dari kabupaten kota lain," kata Joko Supratikto. 

Komunikasi Efektif

Kegiatan High Level Meeting untuk mensinergikan berbagai langkah bersama dan Capacity Building guna meningkatkan kemampuan pengendalian harga, terutama untuk menghindari panic buying.

Fenomena menarik terkait inflasi, kata Joko, khusus untuk komoditas seperti daging ayam ras dan telur ayam ras yang menjadi kebutuhan rutin memiliki harga yang relatif lebih stabil. 

"Ini menunjukkan keandalan pasokan dan pengendalian harga yang baik," katanya. 

Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari mengungkapkan, kondisi geografis Kepulauan Sangihe menjadi faktor utama sehingga sejumlah komoditas mendorong inflasi. 

Katanya, selain rica dan bawang merah, harga beras juga sangat fluktuatif karena bergantung pada pasokan dari luar daerah. 

"Kami juga terkendala pengiriman kapal tol laut yang dilayani Sabuk Nusantara yang sangat terbatas," kata Thungari. 

Katanya, Kepulauan Sangihe punya kesulitan tersendiri untuk pemenuhan komoditas kebutuhan pokok. 
 
Katanya, selama ini komoditas seperti rica sudah dibudidayakan petani dalam kapasitas yang terbatas. Sebagian dibudidayakan dalam skala rumahan. 

"Sementara untuk yang belum bisa kita produksi seperti beras, bawang merah itu memang harus dikirim dari luar," kata Thungari. 

Hadir dalam meeting ini, Wakil Bupati Kep. Sangihe, Tendris Bulahari; Sekda Sangihe, Melanchton Herry Wolf; Asisten Direktur BI Sulut, Sigit Setiawan serta pimpinan dan perwakilan instansi perangkat daerah terkait. 

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.