Caligula, Bandot Seks Gila Wanita yang Dikenal Sinting dan Kejam
Moh. Habib Asyhad January 30, 2026 05:34 PM

Caligula disebut sebagai salah satu raja paling gila dalam sejarah Kekaisaran Romawi. Selain kejam dan sinting dan mata keranjang, dia dikenal karena hubungan inses dengan saudari-saudarinya.

Artikel ini pertama tayang di Majalah Intisari edisi Januari 1967 dengan judul "Caligula" | Penulis:Estiadi

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Malam itu Caligula menghadiri suatu pesta perkawinan. Di antara wanita-wanita Roma, Livia Orestilla tentulah bukan bintang yang paling cemerlang. Tapi di mata Kaisar, dengan pakaian pengantinnya malam itu dia tampak luar biasa. Selama dalam perjamuan itu hati Caligula gelisah. Alangkah bahagia Gaius Piso mendapat istri yang secantik itu. Iri hatinya terus menerus bicara.

Pada akhir pesta terjadi suatu kehebohan. Caligula pulang sambil menggandeng Livia. Orang-orang berpandangan, Gaius Piso bersama keluarganya bangkit hendak memprotes, tetapi pedang dan tombak para pengawal yang berkilatan memadam hasrat mereka, membungkam suara hak mereka.

Serigala dan alap-alap wanita

“Sepatu kecil” begitulah arti kata "Caligula". Nama sebenarnya dari Kaisar Romawi yang lahir pada tahun 12 Masehi itu adalah Gaius Caesar Germanicus. Dia mendapat julukan “sepatu kecil” karena sewaktu anak-anak dia suka memakai pakaian prajurit. Dia bangga menjadi serdadu cilik. Mengapa tidak, ayahnya Germanicus, jenderal yang termasyhur. Dan dia pertama menatap matahari pada saat ibunya menyertai suaminya di front utara.

Tetapi kini Caligula telah menjadi “sepatu yang besar”. Tubuhnya yang perkasa dengan didasari pendidikan yang baik, membuatnya menjadi jagoan duel, gladiator yang mahir dan pengemudi kereta yang tangguh. Keberanian yang terlatih ini membesar pada waktu Caligula telah menjadi Kaisar Romawi, dan lebih dari itu, mendorong kekuasaannya untuk merobohkan dan menginjak-injak segala nilai dan norma kehidupan.

Kesadaran akan kemutlakan kuasanya menjadikan Caligula takabur. Nasihat neneknya, Antonia, yang telah memberinya pendidikan yang baik, baik bersama saudara-saudara perempuannya, biasa dijawab dengan menyengir: “Pikirlah bahwa saya berhak atas semua orang dan tahu apa yang akan saja kerjakan.” Bahkan, humornya sering kali ditembakkan untuk menonjolkan kekuasaannya. Tamu-tamu yang sedang bersuka ria di pesta sering harus mendengar dari mulutnya yang tersenyum. “Saya bisa menyuruh Anda dipancung di tempatmu ini.” Malahan kepada kekasih yang sedang dia cumbu, dia tega membanyol: “kepalamu yang molek ini akan menggelinding jatuh bila aku suka.”

Untuk kesenangannya, Caligula memang pandai mereka-reka. Dalam arena, dia menyuruh seorang gladiator yang telah dibuntung tangan kanannya menghadapi lawan yang bersenjatakan pispot dari emas. Atau sesekali dia memanggil para anggota senat berkumpul, seolah-olah ada rapat penting. Setelah mereka datang, Kaisar yang menurut kesaksian keponakannya, Nero “pandai berdansa”, mulai berjingkrak-jingkrak dan berlenggang lenggok di depan mereka, lalu mereka harus menciumi kaki pengemudi kereta yang tangguh. Keberanian yang terlatih ini memang adalah suatu kehormatan, bagi mereka.

Mengenai kehidupan seksnya, Caligula adalah pemberi teladan yang ulung untuk para mata keranjang di kehidupan zaman sekarang. Takhta membolehkan segala-galanya. Atau secara timbal balik, nafsunya dijadikan penyalur kemahakuasaan. Hubungan terlarang dengan saudari-saudarinya, Agrippina, Drusilla, dan Julia yang tersohor kecantikannya, tidak dihentikan sejak dia naik takhta. Justru sebaliknya, semakin nekat dan tanpa tedeng aling-aling.

Ketika dia sakit keras, Drusilla dia jadikan ahli warisnya. Dan setelah menikah, wanita muda ini diceraikan dari suaminya dan diperlakukan sebagai istrinya sendiri yang sah. Setiap wanita yang disukai, dipisahkan dan direbut dari suami-suami mereka. Di antara wanita golongan tinggi hampir tak seorang pun yang belum dia coba dekati. Dan percabulannya ini mengenal pula yang disebut homoseksualitas.

Sungguh gila cara dia mendapat istri. Di muka telah kami ceritakan bagaimana dia mendapatkan Livia, istrinya yang pertama. Ketika dia mendengar tentang kecantikan Lollia Paulina, ia segera memberi perintah supaya wanita itu datang menghadapnya. Langsung diberikan surat talak, dinikahi, dan diusir beberapa waktu kemudian dengan larangan berhubungan dengan lelaki lain. Dan Gesonia, istrinya yang keempat, sedang hamil ketika dia direnggut dari suami sebelumnya.

Menyaksikan kehidupan Kaisar yang demikian itu, warga Romawi tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyesal. Dia menyesal telah memberi dukungan kepada si “sepatu kecil”, yang kini telah menjadi mahabesar dan berat menekan. Mengapa perubahan yang begitu cepat? Bukankah pada awal pemerintahannya yaitu tahun 37 Caligula tampak sebagai Kaisar muda yang simpatik? Pemuda yang fasih bicara, cerdas, dan murah hati?

Harta warisan Kaisar Tiberius pendahulunya sebanyak 90 juta sestertius (3.025.000 dolar) dibagikan kepada rakyat, ditambah dari kantongnya sendiri 300 sestertius untuk tiap warga Romawi. Orang-orang buangan dari zaman Tiberius diundang pulang, demi kesenangan rakyat balapan kereta ditambah sehingga menjadi 24 kali sehari. Dan janjinya yang pertama-tama adalah bekerja sama dengan Senat secara hormat serta mengembalikan hak rakyat untuk memilih pejabat-pejabat pemerintahan. Maka untuk berterimakasih kepada Kaisar yang baik, tiga bulan sesudah kenaikan takhtanya, rakyat mempersembahkan korban sebanyak 160.000 kepada dewa-dewa.

Kini apa kenyataannya? Kekuasaan yang menjunjung Caligula, menjerumuskannya ke dalam jurang kejahatan yang sedalam-dalamnya.

Dari atap Basilika bertaburan emas

Badannya besar, berbulu, tapi tidak sehat. Dia tersiksa oleh penyakit ayan, hingga sering kali tak mampu berjalan dan berpikir. Mukanya seram dengan lekuk pelipisnya dan mata yang cekung. Tapi dia sedang akan kengerian wajahnya. Salah satu kesenangannya adalah bercermin dan melihat ekspresi wajahnya yang diubah-ubahnya seperti anak kecil menirukan momok.

Tingkah lakunya memang aneh kalau tidak bisa tidur malam-malam dia hilir mudik di istananya dan berteriak-teriak memanggil fajar. Dan bila taufan bertiup dia ketakutan, merangkak bersembunyi di kolong tempat tidur.

Untuk melepaskan diri dari kesepian yang mencekik, Caligula menenggelamkan diri dalam kemewahan dan kesenangan. Satu perjamuan makan menelan uang 10 juta sestertius (170 ribu dolar). Mandinya dalam air wangi dengan dilayani abdi yang tak karuan banyaknya. Dia menyuruh membangun sebuah kapal pesiar yang lengkap dengan bangsal pesta, kolam mandi dan kebun buah-buahan. Gang-gangnya ditopang sokoguru yang berukir sedang buritannya berlapis emas. Di Teluk Baiae dibangun suatu jembatan raksasa yang disangga kapal begitu banyaknya sehingga Roma kekurangan kapal pengangkut gandum dan rakyat menderita lapar.

Masih banyak lagi bentuk rekreasinya. Misalnya menabur uang emas dari atap basilita. Dia ketawa terpingkal-pingkal melihat rakyat berebutan sampai bunuh-membunuh. Lomba kereta sejak dulu adalah hobinya. Kepada seorang kusir dihadiahkan dua juta sestertius. Untuk kuda kesayangannya, dibuatkan kandang marmer yang dihiasi hasil karya seniman-seniman terkenal, sedang palungannya terbuat dari gading, piala minum dari emas. Pada pesta kenegaraan kuda ini diundang, dilayani oleh budak-budaknya yang khusus. Malahan kuda yang diberinya nama Incitatus ini diangkat menjadi konsul.

Foya-foya yang demikian menandaskan kas negara. Berbagai cara dicari untuk menutup ini. Dia meminta hadiah-hadiah dari rakyatnya, bahkan menganjurkan supaya mereka mencantumkan namanya sebagai waris mereka. Segala-galanya dipungut pajak, juga bordil yang telah didirikannya. Bahkan bekas pelacur yang telah menikah pun dikenakan pajak pula.

Kecuali itu dia menghemat. Gladiator-gladiatornya dilarang saling membunuh, cukup dengan "bersandiwara" saja di arena. Jadi tak usah mengongkosi gladiator baru. Sampai malahan, dia menjual gladiator-gladiatornya. Para bagnsawan dipaksa membeli mereka. Ketika salah seorang bangswan dalam lelang itu ngantuk, maka manggut-manggutnya dihitung sebagai tawaran. Sehingga setelah bangun orang itu harus membayar 9 juta sesetertii untuk 13 orang gladiator.

Celaka bagi orang yang gundul

Untuk mencapai maksudnya, Caligula menggunakan segala jalan. Dia mencari kesalahan-kesalahan orang yang kaya. Mereka dituduh berkhianat, dihukum mati supaya harganya bisa disita. TEntu saja timbul reaksi. Suatu komplotan terjadi. Tetapi kegagalan para pemberontak hanya menambah kekejaman Kaisar saja. Para algojo diperintahkan untuk menyiksa mereka dengan luka-luka kecil yang tak terbilang banyaknya, agar mereka sadar akan proses mati mereka. Agrippina sendiri tersangkut dan dibuang ke Pulau Ponsa bersama anaknya, yang kelak akan menjadi kaisar, Nero. Untuk menyiksa hati kakaknya itu, dia menyuruh Agrippina memangku abu kekasihnya yang turut dalam komplot dan telah dibunuh.

Banyak pejabat tinggi dikirim ke tambang, dicap dengan besi merah, dilemparkan ke binatang buas atau digergaji menjadi dua. Neneknya sendiri Antonia, dipaksa untuk bunuh diri. Dan ketika kekurangan daging untuk makanan singa, dia memberi perintah: "Lemparkan semua orang jang gundul kepada binatang buas". Untuk menghukum orang-orang yang mengkritik, pertunjukannya, dia menyuruh mereka duduk di terik matahari sehingga banyak yang mati.

Macam-macam kekejaman Caligula seperti diceritakan oleh penulis-penulis kuno macam Dio Cassius, Tacitus, dan Suetonius. Bentuk-bentuknya yang paling ekstrem mungkin berasal dari pena pengarang-pengaran itu yang benci kepada Kaisar. Tetapi fakta “kekejamannya tidak bisa diragukan. Menarik perhatian juga permusuhannya dengan para filsuf. Banyak yang dibuang, beberapa dibunuh dan Seneca tokoh pemikir yang terkenal di zaman Romawi pun akan jatuh di tangan algojo seumpama tidak dibebaskan karena sakit-sakitan. Hanya karena dia terlihat duduk di samping Julia, adik kaisar, untuk menerangkan soal moral. Seneca harus mengalami hidup pembuangan di Corsica selama 8 tahun.

Dewa versus dewa

Malam hari di istana Caligula. Udara sesak, sesekali terdengar guntur dengan diiringi kilatan halilintar. Tetapi suara-suara itu tidak hanya datang dari langit. Dari istana terdengar pula geluduk yang memekakkan telinga. Juga tampak di kegelapannya kilat-kilat api, sambut-menyambut dengan halilintar dari langit.

Caligula telah memproklamasikan diri menjadi dewa. Untuk menandingi Jupiter Bapa Dari Halilintar itu, Caligula memerintahkan membuat alat yang mengeluarkan suara seperti guntur dan memercikkan api seperti kilat. Kecuali itu dia sering tampak marah-marah memaki-maki di depan patung Jupiter.

Akhirnya, dia menyuruh kepala dewa itu bersama dewa-dewa lainnya dipancung dan digantikan dengan kepalanya sendiri. Dan dia suka, masuk ke kuil Castor dan Pollux, dewa olahraga, duduk di takhtanya dan disembah-sembah oleh rakyat.

Sebagai puncak kesintingannya, dia membangun kuil yang dipersembahkan kepada dirinya sendiri dengan iman-iman yang khusus dan korban-korban pilihan, sedang kudanya, Incitatus, ditampilkan sebagai iman.

Dewa yang mahakuasa adalah Caligula. Jupiter diancam hendak diusir ke Creta, supaya tidak lagi bersaing dengan dengannya. Untuk kekasih, dipilihnya Dewi Bulan. Dia suka berkata: “Dewi Bulan turun untuk memelukku.” Ditanya apakah melihat dewi itu, seorang bangsawan Vitellius menjawab dengan bijaksana: “Tidak, hanya Anda para dewalah dapat melihatnya.”

Akhir yang tragis

Ekses-ekses hidupnya yang tak kenal disiplin menyerap tenaga Caligula. Dia sudah menjadi orang tua ketika berumur 29 tahun. Badannya yang gemuk tapi kendor lemah, tidak sesuai dengan kepalanya yang kecil botak. Wajahnya pucat dengan pelipis dan mata cekung, pandangan kabur gelap.

Akhir hidupnya datang dengan mendadak. Sedang keadaan negara kocar-kacir dengan kas kosong dan timbul pemberontakan di Provinsi Judea, Jerusalem, dan Mauretania. Dewa yang berpenyakit ayan itu harus menyadari kemanusiaannya yang tidak anti-mati. Februari 41, sedang Circus Maximus ramai dengan pesta darah untuk memperingati Agustus, di suatu gang rahasia, sebuah belati menancap di punggung Caligula. Disaksikan oleh gang yang berkubah tinggi, mayatnya bertumpuk dengan tubuh Cesonia yang terpancung bersama putrinya yang remuk dibenturkan pada tembok.

Mendengar kematiannya, rakyat hanya percaya bahwa itu adalah tipu daya untuk mengetahui siapa yang gembira akan kematiannya. Tetapi Cassius Chaerea, seorang pengawal istana yang benci dipanggil tia hari dengan kata kotor sebagai kode, tidak membisu atas belatinya yang berlumur darah Caligula. Rakyat lega terbebas dari tangan yang kejam. Tapi senat segera berkumpul. Rakyat menanti: siapa lagi yang mendewai mereka?

===========

Sumber-sumber:

Caesar en Christus – Will Durant.

The Life and Times of Nero – Carlo Maria.

Those about to die – Daniel Franzero P. Mannix.

Tiberius – Gregorio Maranon.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.