Demo Tolak Jokowi di Makassar Memanas, Mahasiswa: Sulsel Bukan Kandang Gajah
January 30, 2026 08:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Aksi penolakan terhadap rencana kedatangan Presiden ke-7 RI Joko Widodo memanas di Kota Makassar.

Puluhan mahasiswa turun ke jalan dan menegaskan Sulawesi Selatan menolak dijadikan “kandang gajah” kepentingan elite politik nasional.

Demonstrasi berlangsung di depan lokasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Hotel Claro, Jalan AP Pettarani, Kecamatan Tamalate, Makassar, Jumat (30/1/2026) sore.

Jokowi yang dijadwalkan menghadiri rakernas partai pimpinan putranya, Kaesang Pangarep, mendapat penolakan terbuka.

Penolakan itu dari massa yang tergabung dalam Aliansi Kesatuan Rakyat Menggugat (Keramat).

Sambil berorasi, massa aksi membakar ban di badan jalan dan membentangkan spanduk bernada keras bertuliskan:
“Sulsel Tidak Tunduk Pada Raja Jawa, Menolak Dijadikan Kandang Gajah, Adili Jokowi.”

Aksi tersebut sontak memicu kemacetan panjang di sepanjang Jalan AP Pettarani hingga ke pertigaan Jalan Sultan Alauddin.

Aparat kepolisian tampak berjibaku mengurai kepadatan arus lalu lintas.

Awalnya, unjuk rasa berjalan relatif kondusif.

Namun ketegangan meningkat sekitar 15 menit setelah orasi berlangsung, ketika sejumlah kader PSI keluar dari area hotel dan mendekati massa aksi.

Situasi sempat diwarnai saling dorong antara pendemo dan kader PSI.

Beruntung, aparat kepolisian bersama pengurus PSI lainnya sigap menenangkan keadaan.

“Ayo masuk saja, bro. Jangan ada yang di luar. Yang pakai kaos PSI masuk,” ujar Wakil Ketua Umum PSI Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron, saat menenangkan kadernya.

Selain menolak kedatangan Jokowi, massa aksi juga mendesak pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang turut hadir dalam Rakernas PSI.

 Mereka menilai Menhut gagal menjaga hutan, sehingga memicu bencana banjir dan kerusakan lingkungan di sejumlah daerah.

“Bencana di Sumatera belum pulih, tapi hari ini kita justru diperlihatkan kehadiran Menteri Kehutanan di Sulsel,” teriak salah seorang orator.

Sehari sebelumnya, kelompok yang sama juga menggelar aksi di lokasi serupa dengan membentangkan spanduk bertuliskan:
“Copot Menteri Kehutanan Karena Tidak Mampu Menjaga Hutan!!!”

Aksi unjuk rasa ini dijaga ketat aparat gabungan dari Ditsamapta Polda Sulsel, Polrestabes Makassar, dan Polsek Tamalate.

Satu unit kendaraan taktis Sabhara water cannon turut disiagakan di sekitar akses masuk hotel.

Jenderal Lapangan aksi Keramat, Fahrul atau Rul, menegaskan aksi tersebut bukan untuk mengganggu jalannya Rakernas PSI, melainkan menyuarakan keresahan publik atas kehadiran pejabat negara di Sulsel.

“Yang kami persoalkan adalah kehadiran pejabat publik dengan berbagai persoalan yang belum tuntas di negeri ini,” kata Rul.

Menurutnya, Aliansi Keramat menilai Menteri Kehutanan gagal menjaga kawasan hutan, yang berdampak pada bencana di Sumatera dan Sulawesi Selatan.

Ia menyinggung dugaan pembalakan liar di kawasan Bantimurung, Kabupaten Maros, perambahan hutan lindung oleh aktivitas tambang, pembakaran hutan di Kabupaten Pangkep, hingga konflik lahan di Kajang, Bulukumba.

Tak hanya isu lingkungan, massa aksi juga menyoroti dugaan kasus korupsi yang dikaitkan dengan Jokowi, mulai dari persoalan kuota haji hingga dugaan korupsi impor minyak yang sempat disinggung mantan Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Aliansi mendesak agar semua dugaan itu diusut tuntas,” tegas Rul.

Aliansi Keramat pun menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan jika Jokowi tetap hadir di Makassar.

“Jika besok Jokowi datang, kami dengan tegas akan kembali turun ke jalan untuk menolak,” katanya.

Usai berorasi, massa membubarkan diri secara tertib. Arus lalu lintas di Jalan AP Pettarani yang sempat tersendat akhirnya kembali normal.

Kandang Gajah

Keyakinan itu disampaikan lugas.

Berujar tanpa ragu.

Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, seakan enggan kalah semangat dari sang ketua umum, Kaesang Pangarep.

Kaesang Pangarep mengungkap optimisme.

Dia target PSI menggeser partai pemenang di Sulawesi Selatan.

Pernyataan itu tak berhenti sebagai sinyal politik pusat.

Ahmad Ali langsung menjabarkannya lebih lugas.

Rekan Rusdi Masse Mappasessu dari Palu, Sulawesi Tengah, itu enteng menyebut kemenangan di Sulsel sebagai sesuatu yang “hal mudah”.

Bahkan, Ahmad Ali menggambarkan Sulsel berpotensi menjadi “kandang gajah”, merujuk pada logo PSI.

Itu jika Rusdi Masse benar-benar bergabung.

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Ali dalam rangkaian agenda konsolidasi PSI di Makassar, menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI, Kamis (29/1/2026).

Dalam keterangan pers, politisi yang juga baru saja pindah dari Partai NasDem itu, secara terbuka menautkan optimisme PSI di Sulsel pada satu figur kunci: Rusdi Masse, ayah dari Ketua DPW PSI Sulsel.

“Kami pernah buktikan di partai yang dulu. Insyaallah sejarah akan berulang,” ujar Ahmad Ali.

Bagi elite PSI, Rusdi Masse bukan sekadar tokoh lokal.

Ia dipersepsikan vote getter. Lebih dari itu, political engineer.

Sosok yang paham anatomi kekuasaan Sulawesi Selatan.

Punya jaringan kepala daerah. Kaya elite birokrasi. Pemilik loyalitas kultural, dari Ajatappareng sampai Luwu Raya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.