Dampak Sungai Surut di Mahakam Ulu, Harga Barang Meroket, Stok Komoditi Mulai Kosong
Budi Susilo January 30, 2026 11:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, LONG PAHANGAI – Masyarakat di wilayah hulu riam, khususnya di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, kini tengah menghadapi tekanan ekonomi hebat akibat dampak musim kemarau.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mahakam Ulu periode Januari hingga Maret 2026, terjadi lonjakan harga bahan pokok penting (Bapokting) yang sangat signifikan.

Kondisi ini dipicu oleh menyusutnya debit air Sungai Mahakam yang menghambat jalur distribusi logistik utama ke wilayah hulu.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Mahakam Ulu, A. Bahalan Tigang, mengungkapkan bahwa sulitnya akses transportasi menyebabkan stok di tingkat pedagang menipis bahkan kosong.

Baca juga: Air Sungai Mahakam Surut, Harga Beras Melambung hingga Rp1 Juta per 25 Kg di Mahakam Ulu

Meski tak sepenuhnya lumpuh karena air surut, jalur darat menuju Long Pahangai juga masih bukan pilihan yang tepat karena biaya angkut akan lebih membengkak.

Di lapangan, harga beras premium seperti Beras Mawar melonjak tajam dari harga normal Rp350.000 menjadi Rp650.000 per karung 25 kg.

Tidak hanya pangan, sektor energi pun ikut kritis di mana harga solar di Meraseh Indah meroket hingga Rp40.000 per liter dan gas Elpiji 12 kg menembus angka Rp500.000 per tabung.

Kelangkaan ini juga merembet pada komoditas daging ayam potong yang kini menyentuh harga Rp350.000 per kilogram di beberapa toko.

Kondisi ketersediaan stok yang mayoritas berstatus "menipis" atau "kosong" dilaporkan merata di kampung-kampung seperti Liu Mulang dan Naha Aruq.

Perlu Interversi Harga

Menanggapi situasi ini, DKPP menekankan perlunya intervensi harga dan penguatan manajemen distribusi logistik yang lebih adaptif terhadap kondisi alam.

"Diperlukan perhatian khusus pada komoditas dengan selisih harga tinggi untuk menekan disparitas harga selama musim kemarau," ungkapnya, Jumat (30/1/2026).

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah daerah disarankan untuk menyusun rencana kontinjensi tahunan dan pengembangan produksi pangan lokal untuk menciptakan kemandirian serta stabilitas harga jangka panjang saat menghadapi musim kemarau. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.