Angkutan Sungai Mogok Beroperasi karena Krisis BBM, Penumpang Mengeluh Saat Harus Pilih Jalur Darat
Budi Susilo January 30, 2026 11:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Raut kecewa tak bisa disembunyikan dari wajah Ami (53) dan Marianti (55). Dua perempuan yang sehari-hari bekerja di warung kawasan Ibu Kota Nusantara ini terduduk lemas di sudut Dermaga Sungai Kunjang Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Jumat (30/1/2026) malam.

Niat hati ingin melepas rindu bersama anak cucu di Melak, Kutai Barat, justru terbentur kenyataan pahit.

Lantaran kapal yang mereka andalkan berhenti beroperasi, dan ini sudah sudah satu minggu pelabuhan ini mati suri akibat krisis BBM subsidi di Kalimantan Timur. 

Bagi warga seperti Ami dan Marianti, mogoknya kapal bukan sekadar masalah teknis administrasi antara Dishub Kaltim dan BPH Migas, melainkan hilangnya akses transportasi yang manusiawi dan terjangkau.

Baca juga: Kapal Sungai Mahakam Masih Mogok, Dermaga Mahakam Ulu Lumpuh, Pemilik Kapal Pertanyakan Stok BBM

"Kami Ini mabuk darat, Enakan Naik Kapal," ungkap Ami saat ditemui TribunKaltim.co.

Pilihan menggunakan jalur sungai bukan tanpa alasan. Selain faktor biaya, kondisi fisik menjadi pertimbangan utamanya.

"Ibu dari IKN mau pulang ke Melak. Tujuannya naik kapal karena kami ini mabuk kalau naik mobil. Naik kapal itu enak, santai, bisa tidur, subuh sudah sampai," keluh Marianti sambil memijat keningnya.

Baginya, alternatif menggunakan travel darat adalah mimpi buruk.

Selain menempuh waktu hingga 17 jam, kondisi jalanan menuju Kutai Barat yang masih rusak parah menjadi momok menakutkan.

 "Jalanan ke Kutai Barat itu parah, rusak. Sampai pusing kepala saya cari kopi gara-gara bingung mau pulang naik apa," tambahnya.

DAMPAK MOGOK KAPAL - Sejak kapal mulai mogok pada Sabtu (24/1/2026), aktivitas ekonomi di dermaga praktis berhenti total, meninggalkan para buruh harian tanpa kepastian penghasilan. (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON)
DAMPAK MOGOK KAPAL - Sejak kapal mulai mogok pada Sabtu (24/1/2026), aktivitas ekonomi di dermaga praktis berhenti total, meninggalkan para buruh harian tanpa kepastian penghasilan. (TRIBUNKALTIM.co/Gregorius Agung Salmon)

Selain kenyamanan, faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa kapal motor (KM) selalu menjadi primadona.

Perbandingan harganya sangat mencolok bagi kantong pekerja harian.

Ia bilang, biasanya Kapal Motor hanya Rp150.000 (dek bawah) hingga Rp180.000 (dek atas).

Baca juga: 2 Hari Kapal Rute Samarinda-Mahulu Mogok Operasi, Pemkot Samarinda Kehilangan PAD

Sedangkan naik travel jalur darat dua kali lipat atau sekira Rp450.000 per orang.

"Kalau naik mobil bolak-balik hampir sejuta. Kasihan kita yang pas-pasan bawa ongkos nih. Kalau naik kapal kan murah, sisanya bisa buat cucu di rumah," tutur Ami.

Ami dan Marianti hanyalah potret kecil dari ribuan warga hulu Mahakam yang kini terlantar di dermaga Sungai Kunjang Samarinda. 

DERMAGA SEPI AKTIVITAS - Kondisi di Dermaga Mahakam Ulu, Jalan Untung Suropati, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada Kamis (29/1/2026) siang. Tidak ada aktivitas bongkar muat, pelabuhan ini sepi akibat tidak adanya kejelasan terkait penyaluran BBM untuk operasional kapal.
DERMAGA SEPI AKTIVITAS - Kondisi di Dermaga Mahakam Ulu, Jalan Untung Suropati, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada Kamis (29/1/2026) siang. Tidak ada aktivitas bongkar muat, pelabuhan ini sepi akibat tidak adanya kejelasan terkait penyaluran BBM untuk operasional kapal. (TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIRUZ)

Hingga saat ini, para pemilik kapal masih menunggu surat dispensasi dari BPH Migas agar BBM subsidi kembali disalurkan.

Selama kebijakan tersebut masih menggantung, warga kelas bawah terpaksa merogoh kocek lebih dalam atau mempertaruhkan kesehatan fisik mereka melintasi jalur darat yang ekstrem.

 "Harapannya ya kapal cepat jalan lagi. Jangan susahkan kami yang mau pulang jenguk keluarga," tutupnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.