TRIBUNBEKASI.COM, BOJONGGEDE- Viral soal Suderajat (49) pedagang es gabus asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang mengalami penganiayaan karena kesalahpahaman.
Diketahui Suderajat mengalami penganiayaan karena dianggap menjual panganan yang berbahaya karenadianggap mengandung spons.
Dia pun mendapatkan penganiayaan oleh oknum Babinsa dan Bhabinkamtibas yang terlalu cepat membuat kesimpulan tentang kualitas makanan yang dijual.
Ironisnya Suderajat mendapatkan penganiayaan dari kedua oknum tersebut.
Aksi itu pun vilral. Publik hingga kedua institusi keduanya pun mengencam aksi barbar yang dilakukan kedua.
Insiden penganiayaan itu akhirnya berakhir damai. Kasusnya sudah damai dan Suderajat mendapatkan bantuan dari pulik.
Kini polemik kembali menimpa Suderajat. Pasca mendatkan banyak bantuan, dirinya kini dianggap kerap berbohong.
Pasalnya pria yang tampak lebih tua dari usianya ini dianggap tidak jujur. Vonis itu diterimanya karena pernyataanya yang kerap berubah-ubah.
Belakangan, pihak kecamatan pun memberikan penjelasan terkait kondisi Suderajat, termasuk hasil asesmen yang menyebut adanya dugaan gangguan mental yang memengaruhi komunikasi yang bersangkutan.
Kasus ini kembali mencuat usai Suderajat bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam momen klarifikasi sejumlah persoalan hidupnya yang sempat viral di media sosial.
Perhatian publik mengarah pada status tempat tinggal hingga kondisi ekonomi Suderajat, yang sempat menimbulkan kesimpangsiuran informasi.
Peristiwa ini berawal saat Suderajat viral karena mengaku mendapat intimidasi aparat terkait tuduhan menjual es berbahan spons. Kasus tersebut memicu simpati publik sekaligus sorotan luas di media sosial.
Camat Bojonggede Tenny Ramdhani menjelaskan, polemik yang berkembang sebagian dipicu oleh ketidakutuhan informasi mengenai kondisi Suderajat.
Menurutnya, status tinggal di kontrakan bukan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumah pribadi Suderajat sedang direhabilitasi melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Rumah tersebut mulai diperbaiki sejak akhir 2025 dan sempat mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem. Selama proses perbaikan berlangsung, Suderajat bersama keluarga tinggal sementara di kontrakan.
Tenny menyebut, kesalahpahaman publik muncul karena banyak yang hanya melihat kondisi saat ini tanpa mengetahui proses perbaikan rumah yang sedang berjalan.
Lebih lanjut, dari hasil asesmen lintas instansi, ditemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan trauma psikologis sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya dinilai terbatas.
Pihak kecamatan menilai hal itu bisa menyebabkan jawaban Suderajat sering berubah dan menimbulkan kesan tidak konsisten.
Kasus Suderajat kembali ramai setelah pertemuannya dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dalam proses klarifikasi tersebut, ditemukan sejumlah keterangan yang dinilai tidak sesuai fakta, terutama terkait status tempat tinggal yang sempat disebut masih mengontrak, padahal rumah yang bersangkutan merupakan milik pribadi dan pernah mendapat bantuan Rutilahu.
Verifikasi dilakukan langsung ke lingkungan tempat tinggal Suderajat, termasuk keterangan dari pengurus lingkungan setempat.
Awalnya, perhatian pemerintah dan masyarakat mengalir karena Suderajat dianggap hidup dalam keterbatasan. Namun setelah dilakukan pengecekan lapangan, ditemukan data yang berbeda dari narasi yang beredar dikutip dari kompas.com
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat meredam spekulasi publik yang berkembang di media sosial.
Fokus penanganan diarahkan pada upaya perlindungan sosial dan pemulihan kondisi Suderajat sebagai warga kategori miskin yang sedang mendapatkan bantuan perbaikan rumah.
Kasus ini juga menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana informasi yang tidak lengkap dapat memicu persepsi berbeda di tengah masyarakat, terutama saat sebuah peristiwa viral di media sosial.