NU dan Peradaban Fikih Laboratorium
January 31, 2026 11:22 AM

Oleh: Buya Dr. Muhammad Subki Sasaki, M.H.

Membaca Jejak, Merawat Dialektika

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Bagi saya, tahun 1926 bukanlah sekadar angka yang menandai lahirnya sebuah organisasi sosial keagamaan. Ia adalah monumen keberanian intelektual. Nahdlatul Ulama (NU) lahir di rahim zaman prapemerdekaan yang gaduh, sebuah masa ketika Nusantara menjadi kawah candradimuka perjumpaan ideologi besar dunia.

Para pendiri NU, para kiai kita, tidak memilih jalan isolasi. Mereka justru terjun ke dalam pergaulan pemikiran dengan Barat, bukan dengan sikap rendah diri, melainkan dengan ketajaman rasa dan kejernihan nalar. Mereka mendengar, melihat, dan merasakan bagaimana modernitas Barat mulai mengetuk pintu-pintu tradisi.

Interaksi yang intim inilah, menurut saya, yang membentuk karakter NU sebagai entitas yang lentur, namun tetap prinsipiel. Sejak era pergerakan nasional, NU telah membuktikan diri sebagai titik temu yang berhasil merangkul spektrum Islam yang beragam, dari yang tekstualis hingga yang puritan, dalam satu gagasan besar, yaitu peradaban wasathiyah. Moderasi ini bukan sekadar strategi politik untuk bertahan hidup, melainkan kearifan budaya yang lahir dari pengalaman panjang bergulat dengan realitas zaman yang majemuk.

Melompat ke Ruang Laboratorium

Memasuki abad kedua perjalanannya, tanggung jawab NU tidak lagi berhenti pada menjaga harmoni, tetapi juga menjadi penyedia solusi. Problematika sosial keagamaan kontemporer, mulai dari muamalah digital hingga etika medis yang semakin kompleks, tidak cukup dijawab hanya dengan pembacaan literal teks-teks klasik.

Di sinilah saya mengajukan sebuah tesis yang mungkin terdengar radikal, namun sesungguhnya esensial, yaitu Peradaban Fikih Laboratorium.

Baca juga: Antusiasme Warga Binaan Lapas Lombok Barat Ikuti Kajian Fiqih

Gagasan ini lahir dari kegelisahan bahwa fikih sering kali berhenti pada tekstualitas nas yang statis, sementara kehidupan bergerak secara eksponensial. Fikih Laboratorium merupakan upaya menarik hukum agama keluar dari labirin kata-kata menuju pembuktian empiris, sebuah paradigma di mana NU tidak hanya berkutat pada apa yang tertulis, tetapi juga pada apa yang terbukti.

Tesis utama saya sederhana. Setiap fatwa keagamaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus diposisikan sebagai entitas yang telah lulus uji melalui metodologi pembuktian ilmiah dalam laboratorium kehidupan.

Argumentasi: Saat Teks dan Sains Kembali Berangkulan

Mengapa laboratorium? Karena dalam lintasan sejarah, Islam mencapai puncak keemasannya justru ketika iman dan sains tidak saling memunggungi. Keduanya pernah berjabat tangan dengan sangat mesra. Masjid menjadi pusat spiritualitas, sementara laboratorium menjadi ruang pembacaan ayat-ayat kauniyah Tuhan.

Kini, keberanian itu perlu kita hidupkan kembali. Melakukan uji laboratorium terhadap teks atau fatwa bukanlah upaya meruntuhkan warisan ulama, melainkan justru menguatkan relevansinya. Secara antropologis, masyarakat modern memiliki ambang keberterimaan yang berbasis pada pembuktian. Mereka tidak lagi cukup dengan wejangan normatif atau doktrin satu arah.

Agar Islam, khususnya dalam perspektif NU, semakin kuat akarnya, kita perlu menjembatani fikih dengan pembuktian ilmiah.

Ambil contoh pendefinisian najis dan air bersih. Dalam kitab klasik, kita berbicara tentang ukuran dua qullah. Namun, dalam peradaban Fikih Laboratorium, pertanyaan kita meluas. Apa perbedaan antara air yang suci secara fikih dan air yang sehat secara biologis? Bagaimana sains membaca air yang tampak jernih, tetapi mengandung polutan kimia berbahaya?

Melalui pendekatan laboratorium, kita dapat memberikan definisi yang lebih utuh kepada umat, mana yang suci secara legalitas syariat dan mana yang benar-benar aman bagi keselamatan raga. Di situlah sains dan teks agama saling membaca dalam harmoni yang konkret.

Kiai yang Membaca Semesta

Transformasi ini menuntut perubahan mendasar pada hulu pendidikan kita. Pesantren, halaqah, dan ma’had tidak boleh lagi puas hanya melahirkan kiai yang ahli membaca teks kitab kuning, tetapi gagap memahami cara kerja sains.

Masa depan menuntut lahirnya generasi kiai yang tidak buta terhadap metodologi ilmiah. Saya membayangkan sebuah peradaban di mana biologi, fisika, dan kimia tidak lagi dianggap sebagai ilmu luar, melainkan sebagai instrumen untuk membedah dan mengontekstualkan teks agama.

Biarkan langit, awan, dan ombak ikut berbicara membantu kita membaca kehendak Tuhan. Dengan membangun Peradaban Fikih Laboratorium, NU tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga sedang merancang masa depan Islam yang rasional, empiris, dan penuh kemaslahatan bagi semesta alam, rahmatan lil ‘alamin.

Inilah jalan agar agama selalu hadir sebagai jawaban, bukan sekadar hafalan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.