AS Kerahkan Pesawat Pasukan Khusus Dekati Iran, IRGC: Kami Jauh Lebih Siap untuk Berperang
January 31, 2026 02:20 PM

AS Kerahkan Pesawat Pasukan Khusus Dekati Iran, IRGC: Kami Jauh Lebih Siap untuk Berperang

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat hari demi hari setelah Washington mengerahkan pesawat pasukan khusus tambahan mendekat Iran.

Militer Iran menegaskan kesiapan mereka untuk menghadapi perang dan kekuatan tempurnya kini “jauh lebih kuat dari sebelumnya”.

Menurut laporan The Telegraph, opsi militer yang kini disodorkan kepada Presiden AS Donald Trump disebut jauh melampaui langkah-langkah yang dipertimbangkan ketika gelombang protes besar meletus di Iran dua pekan lalu. 

Salah satu langkah yang menjadi sorotan adalah pengerahan pesawat MC-130J Commando II, yang dikenal sebagai armada khusus untuk misi infiltrasi dan evakuasi rahasia pasukan elit Amerika Serikat.

AS Tambah Kekuatan Militer di Sekitar Iran

Amerika Serikat telah memindahkan berbagai aset militer ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir sebagai respons terhadap situasi yang berkembang. 

Penguatan ini tidak hanya berupa kapal perang besar, tetapi juga pesawat militer dan unit khusus. 

Laporan terbaru menunjukkan bahwa pesawat angkut khusus MC-130J Commando II milik Angkatan Udara AS telah terbang menuju wilayah Azerbaijan, menggambarkan peningkatan postur operasi pasukan khusus di sekitar Iran. 

Pesawat jenis ini sering digunakan untuk misi infiltrasi atau dukungan operasi pasukan elit, dan keberadaannya menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan strategi militer AS. 

Pada 29 Januari 2026, pesawat jenis tersebut dilaporkan terbang dari Inggris menuju Azerbaijan. 

MC-130J dirancang untuk mendukung operasi pasukan khusus, termasuk penyusupan senyap dan penarikan personel dari wilayah musuh.

Sumber-sumber pertahanan menyebutkan, salah satu opsi berisiko tinggi yang dipertimbangkan Washington adalah pengerahan pasukan khusus AS dalam misi rahasia untuk menghancurkan atau melumpuhkan sisa-sisa infrastruktur operasional program nuklir Iran, menyusul operasi militer yang terjadi pada Juni lalu.

Namun, pengalaman kegagalan operasi masa lalu, termasuk misi penyelamatan sandera yang berakhir tragis di Iran pada 1980 di bawah Presiden Jimmy Carter, disebut masih membayangi Gedung Putih.

Faktor tersebut membuat Presiden Trump bersikap sangat berhati-hati terhadap kemungkinan keterlibatan langsung pasukan darat AS.

Opsi lain yang juga dilaporkan tengah dikaji adalah serangan udara yang menargetkan para pemimpin senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran yang kini berusia 86 tahun.

Kesiapan Militer Iran Lebih Tinggi

Militer Iran mengklaim pasukannya sekarang lebih siap dan jauh lebih siaga untuk berperang daripada saat konflik 12 hari pada Juni 2025.

"Angkatan bersenjata Iran sekarang berada dalam tingkat kesiapan yang jauh lebih tinggi daripada pada awal perang 12 hari Juni lalu," kata Brigadir Jenderal Hossein Nejat, Wakil Komandan pangkalan Sarallah dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Ia menambahkan, musuh juga dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak mampu melakukan tindakan yang mengganggu.

"Pasukan Iran seringkali menjadi lebih kuat setelah konfrontasi militer. Tentu saja, setelah setiap perang, kekuatan kita akan lebih besar dari sebelumnya," tambahnya.

Komandan tersebut juga memuji peran Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menekankan bahwa keputusan dan arahan "tegas" Pemimpin Tertinggi sangat penting.

Apakah Pintu Diplomasi Masih Terbuka?

Meskipun mengerahkan lebih banyak kapal perang AS di dekat Iran dan pesawat pasukan khusus dari Inggris ke Azerbaijan, Gedung Putih mengatakan tetap terbuka untuk mempertimbangkan opsi diplomatik.

"Saat ini kita memiliki banyak kapal perang besar dan sangat kuat yang menuju ke Iran. Akan sangat baik jika kita tidak perlu menggunakannya,”

“Saya mengatakan kepada mereka dua hal; jangan ada senjata nuklir dan hentikan pembunuhan lebih banyak demonstran. Mereka harus mengambil tindakan," kata Presiden Donald Trump seperti dikutip oleh Telegraph.

Pada hari yang sama, 30 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat, tetapi diskusi ini harus adil dan tidak boleh mencakup penyebutan kemampuan pertahanan Iran.

Saat membahas masalah ini dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di sela-sela pembicaraan di Istanbul, Araghchi mengatakan bahwa Teheran saat ini tidak memiliki rencana konkret untuk bertemu dengan pejabat AS guna melanjutkan negosiasi, dan menekankan bahwa persiapan adalah prioritas utama.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.