TRIBUNSUMSEL.COM, BATURAJA – Harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, pada pekan terakhir Januari 2026 masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp 12.500 hingga Rp 14.100 per kilogram di tingkat petani.
Di kawasan hulu, khususnya Kecamatan Semidang Aji dan sekitarnya, harga karet untuk penjualan dua mingguan mengalami kenaikan dari Rp 13.300 menjadi Rp 14.100 per kilogram.
Sementara harga mingguan naik menjadi Rp 12.500 per kilogram, dan harga jual bulanan masih bertahan di angka Rp 15.800 per kilogram.
Salah satu petani karet di Desa Singapura, Kecamatan Semidang Aji, Ismail (45), mengatakan kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya dirasakan petani karena terkendala musim hujan yang berkepanjangan.
“Harganya memang naik sedikit, tapi susah nyadap. Hampir setiap hari hujan, kadang sampai sore hujan terus, akibatnya kami tidak bisa menyadap,” keluh Ismail, Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, selain menghambat aktivitas penyadapan, musim hujan juga mempengaruhi kualitas getah karet yang dihasilkan sehingga berdampak pada jumlah dan mutu produksi.
Baca juga: Akhir Tahun, Harga Karet di OKI Sedikit Naik, Hasil Mingguan Rp 12.000 dan Bulanan Rp 14.000 Perkilo
Baca juga: Info Harga Karet Hari ini Jumat 19 Desember 2025, di OKI Sumsel Kisaran Rp 10 Ribu-Rp 15 Ribu per Kg
Sementara itu, di kawasan hilir Kabupaten OKU, seperti Kecamatan Peninjauan dan sekitarnya, harga karet relatif lebih rendah. Untuk penjualan mingguan, harga berada di angka Rp 11.500 per kilogram, turun Rp 100 dibandingkan awal Januari. Harga dua mingguan masih bertahan di Rp 12.800 per kilogram, sedangkan harga bulanan tetap Rp 15.800 per kilogram.
Petani karet Kecamatan Peninjauan, Mardani (60), mengatakan perbedaan harga antara kawasan hulu dan hilir sudah menjadi hal biasa.
“Harga di Peninjauan memang selalu di bawah kawasan ulu. Dari awal bulan sampai akhir Januari ini, harga dua mingguan dan bulanan tidak berubah,” ujarnya.
Meski harga karet cenderung stabil sejak 2024 di kisaran Rp 12.500 hingga Rp 15.000 per kilogram, petani mengaku belum sepenuhnya diuntungkan. Pasalnya, produksi getah karet menurun drastis akibat cuaca yang tidak menentu.
“Kalau kondisi normal, biasanya kami bisa nimbang enam keping atau sekitar 300 kilogram. Sekarang mau dapat tiga keping saja susah,” keluh Mardani.
Meski demikian, para petani mengaku masih bertahan pada komoditas karet. Selain sudah menjadi mata pencaharian turun-temurun, tanaman karet dinilai masih cocok dengan kondisi geografis Kabupaten OKU yang dikenal sebagai Bumi Sebimbing Sekundang.
Namun, petani berharap adanya perbaikan cuaca dan dukungan kebijakan agar produksi kembali normal dan harga karet ke depan bisa lebih menggembirakan.
Ikuti dan bergabung dalam saluran wahtsapp Tribunsumsel.com