TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengibaratkan Nahdlatul Ulama (NU) seperti satu keluarga besar bangsa Indonesia.
Dirinya mengatakan NU penuh dengan dinamika, namun tetap akur.
"NU itu seperti satu keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah. Di dalam NU, tidak ada orang luar. Bahkan orang luar pun bisa menjadi orang dalam di lingkungan Nahdlatul Ulama," tutur Nasaruddin Umar.
Hal itu disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada Puncak Harlah ke-100 NU di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Nasaruddin, perjalanan satu abad NU mencerminkan kematangannya.
Dirinya menilai NU, adalah “pesantren besar dengan tradisi diskusi keilmuan yang hidup dan kadang berlangsung sangat intens.
Baca juga: Presiden Prabowo Tak Hadiri Harlah NU Versi Gus Yahya di Istora Senayan
"Sering saya katakan, Nahdlatul Ulama itu sesungguhnya adalah pesantren besar. Di dalam pesantren itu penuh dinamika, ada pembahasan antar madzhab; Madzhab Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, hingga Ahmad bin Hanbal," katanya.
"Kadang-kadang diskusinya sangat panas, dan itu bukti bahwa dinamika akademik dan keilmuan di lingkungan NU sangat kuat," tambahnya.
Nasaruddin mengatakan kuatnya perbedaan pandangan di tubuh NU tidak pernah memutus ikatan adab dan persatuan.
Tradisi hormat santri kepada kiai, kata Nasaruddin, tetap terjaga meskipun terjadi perbedaan pendapat.
"Di pondok pesantren, meskipun antara mufassir, santri, dan kiai berbeda pandangan, akhlakul karimah seorang santri tetap menjunjung tinggi keberadaan kiai. Inilah yang membuat NU tetap utuh," katanya.
Baca juga: Miftachul Akhyar dan Gus Ipul Absen di Harlah NU Versi Gus Yahya, Isu Dualisme Kembali Mencuat
Dalam acara ini, tampak hadir Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno.
Tampak hadir pula Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko, Kepala BRIN Arif Satria, perwakilan partai politik dan para duta besar negara sahabat.
Sebelum puncak acara digelar Istigasah Kubro yang dipimpin oleh para kiai dan ulama NU.
Acara tampak dijaga ketat oleh pasukan Banser di sekitar kawasan Istora Senayan. Hadir pula sejumlah massa dari badan otonom PBNU.
Seperti diketahui, Rapat pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memulihkan status Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Rapat pleno ini memutuskan untuk meninjau kembali sanksi pemberhentian Gus Yahya yang dijatuhkan pada 9 Desember 2025 demi menjaga keutuhan organisasi NU dan kemaslahatan yang lebih besar.
"Dengan keputusan tersebut, posisi KH Yahya Cholil Staquf dipulihkan sebagai Ketua Umum PBNU," ucap Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat membacakan hasil rapat pleno, dikutip dari siaran pers, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Ratusan Warga Hadiri Harlah Ke-100 NU di Istora Senayan, Pengamanan Ketat
Miftachul menyebutkan, rapat pleno juga menerima permohonan maaf Gus Yahya yang lalai dan tidak cermat dalam mengundang narasumber pada sebuah acara yang digelar PBNU.
"PBNU menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber AKNNU, serta terkait tata kelola keuangan PBNU yang dinilai tidak memenuhi kaidah akuntabilitas," kata Miftachul.
Rapat pleno pun menerima pengembalian mandat dari KH Zulfa Mustofa yang sempat menjadi penjabat Ketua Umum PBNU usai Gus Yahya dicopot pada Desember 2025.
Selain itu, rapat pleno juga memulihkan komposisi kepengurusan PBNU sebagaimana hasil Muktamar ke-34 NU, seperti telah diperbarui melalui Surat Keputusan Pergantian Antar Waktu (PAW) Tahun 2024.
Miftachul melanjutkan, rapat pleno turut menyepakati jadwal pelaksanaan muktamar NU pada pertengahan 2026.
"Terkait agenda organisasi, rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada bulan Syawal 1447 H atau April 2026, sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026," kata Miftachul.