TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gejolak pasar keuangan nasional memasuki babak baru setelah Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026).
Pengunduran diri tersebut disebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar yang bergejolak dalam dua hari terakhir.
Sebelumnya, pasar saham tertekan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang memicu aksi jual besar-besaran oleh investor.
Tak berselang lama, gelombang pengunduran diri juga terjadi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (DKTK) I.B. Aditya Jayaantara turut menyatakan mundur dari jabatannya.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai mundurnya para petinggi lembaga otoritas keuangan tersebut sebagai sinyal serius adanya tekanan politik terhadap pengelolaan pasar keuangan nasional.
"Mundurnya Ketua OJK dan anggota Dekom OJK membuat shock semua pihak. Sepertinya ada tekanan dari eksekutif, dari Presiden terutama perubahan porsi besar-besaran asuransi dan dana pensiun dalam investasi di saham dari 8 persen ke 20 persen."
"Seolah asuransi dan dapen mau dikorbankan untuk tahan keluarnya modal asing. Padahal ada risiko Asabri jilid 2, dimana dapen dan asuransi masuk ke saham spekulatif di bursa saham. Apa yang dilakukan Mahendra dan Inarno dkk adalah kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari presiden," tutur Bhima saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga: Tiga Jurus Prabowo Pulihkan IHSG: Kerek Limit Investasi dan Free Float, Percepat Demutualisasi Bursa
Menurut Bhima, dampak dari rangkaian pengunduran diri tersebut tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengguncang fondasi kepercayaan terhadap sistem keuangan Indonesia.
"Pastinya ekonomi akan berguncang, menunjukkan kerapuhan dan hilangnya independensi dari lembaga otoritas keuangan. Ini masalah yang cukup serius. Elite cracking benar benar sedang terjadi," jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini dapat memicu sentimen negatif dari investor, baik domestik maupun global, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap arus investasi masuk ke Indonesia.
Baca juga: Profil Mahendra Siregar yang Mundur dari Jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK
"Investor akan distrust dengan pengelolaan pasar keuangan, banyak lembaga internasional akan downgrade atau menurunkan minat berinvestasi di indonesia," imbuhnya.
Bhima juga memperingatkan potensi koreksi lanjutan di pasar saham dalam waktu dekat akibat gelombang mundurnya para petinggi BEI dan OJK.
"Senin depan koreksi saham berisiko terjadi sebagai reaksi investor terhadap mundurnya ketua OJK," ungkap Bhima.