Oleh: Pdt. Dr. Mesakh A. P. Dethan
Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, salah satu masalah paling serius yang kita hadapi, baik di gereja maupun di kampus, bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan merosotnya kesetiaan.
Banyak orang merasa sudah tahu segalanya karena gelar, jabatan, atau posisi sosial.
Ironisnya, justru di titik itu orang berhenti belajar, berhenti mendengar, dan perlahan berhenti setia.
Parker J. Palmer (1) mengingatkan bahwa, pendidikan tanpa kerendahan hati justru melahirkan kesombongan intelektual yang menutup diri dari kebenaran (Palmer, The Courage to Teach, hlm. 3).
Bahaya terbesar bukanlah kebodohan itu sendiri, melainkan kebodohan yang merasa diri paling pintar.
Baca juga: Opini: Pembatasan BBM Bersubsidi di NTT- Antara Hak dan Kewajiban
Paulo Freire (2) dengan tajam menulis, “Those who think they know everything know nothing at all, because they close themselves off from dialogue” (Freire, Pedagogy of the Oppressed, hlm. 71).
Orang seperti ini bukan tidak mampu belajar, tetapi menolak belajar, menolak koreksi, dan akhirnya membangun standar kebenaran versinya sendiri.
Kepintaran sejati tidak lahir dari gelar, melainkan dari kesediaan untuk mendengar dan belajar terus-menerus.
Dallas Willard (3) menegaskan, “The greatest enemy of spiritual life is not failure, but arrogance, the refusal to remain a learner before God” (Willard, The Spirit of the Disciplines, hlm. 79). Di sinilah iman dan pendidikan bertemu: keduanya menuntut kerendahan hati.
Kesetiaan iman sering disalahpahami sebagai perasaan rohani yang muncul sesekali. Padahal, iman yang setia bukan terutama soal apa yang kita rasakan, melainkan apa yang kita latih dan jalani secara konsisten.
Iman yang hanya bergantung pada perasaan akan mudah goyah ketika lelah, kecewa, atau sibuk.
Salah satu cara konkret membangun kesetiaan iman adalah ketekunan dalam ibadah bersama. Ibadah Kampus UKAW bukan sekadar ritual Senin pagi, melainkan ruang pembentukan iman komunal.
James K. A. Smith (4) menulis, “Christian worship is not primarily about informing the intellect but about forming the heart through repeated practices” (Desiring the Kingdom, hlm. 133).
Ibadah melatih kita untuk menempatkan Allah kembali sebagai pusat hidup, karya pelayanan dan relasi kita dengan sesama.
Kitab Ibrani mengingatkan bahwa iman yang sehat selalu berkaitan erat dengan kehidupan bersama.
Penulisnya dengan tegas menasihati: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah” (Ibrani 10:25).
Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Menjauh dari ibadah sering kali menjadi langkah awal menjauh dari iman itu sendiri.
Craig R. Koester (5) menjelaskan, “Participation in communal worship is a means by which believers sustain their identity and commitment to Christ” (Hebrews, hlm. 451). Menjauh dari ibadah bukan sekadar absen fisik, tetapi awal dari erosi iman.
Ibadah juga mengajarkan bahwa iman bukan urusan individualistik. Stanley Hauerwas (6) menulis, “The Christian life is not a private achievement but a communal discipline learned over time” (A Community of Character, hlm. 102).
Karena itu, kesetiaan iman selalu bertumbuh dalam kebersamaan, bukan dalam isolasi.
Ibadah bukan sekadar rutinitas keagamaan atau kewajiban formal. Ibadah adalah latihan kesetiaan.
Di sanalah manusia belajar berhenti sejenak dari kesibukan, menata ulang hidupnya, dan mengingat kembali bahwa ia bukan pusat segalanya.
Dalam ibadah, manusia mengakui keterbatasannya dan membuka diri pada kehendak Allah.
Di dunia akademik, bahaya lain mengintai: kesombongan intelektual. Pengetahuan yang tidak dibarengi kerendahan hati mudah berubah menjadi alat pembenaran diri.
Orang merasa paling benar, paling tahu, dan paling layak didengar. Padahal, iman Kristen justru menuntut sikap sebaliknya: mau mendengar, mau dikritik, dan mau terus dibentuk.
Ibrani 10:26 sering dibaca sebagai ancaman keras yang menakutkan. Namun, sesungguhnya ayat ini bukan ditujukan kepada orang yang jatuh karena kelemahan manusiawi, melainkan kepada mereka yang secara sadar dan sengaja meninggalkan iman, menjauh dari persekutuan, dan menganggap anugerah sebagai sesuatu yang sepele.
Ini bukan soal tersandung, tetapi soal menolak berjalan bersama.
Dalam konteks historisnya, Surat Ibrani ditulis kepada jemaat yang lelah dan tergoda untuk mundur dari iman.
William L. Lane (7) menegaskan, “The warning of Hebrews 10:26 addresses deliberate abandonment of the community and its confession, not momentary moral failure” (Hebrews 9–13, hlm. 289).
Artinya, teks ini bukan ancaman bagi orang lemah, melainkan peringatan bagi mereka yang secara sadar meninggalkan iman.
Pada sebagai murid Kristus disiplin ibadah menurut N.T. Wright (8) sebagai pembentukan karakter murid Kristus (Biblical Reflections on Discipleship, hlm. 55–72.
Karena itu, kesetiaan iman tidak tumbuh secara instan. Ia dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana tetapi konsisten: datang beribadah, berdoa bersama, saling meneguhkan, dan hidup dalam komunitas. Iman yang tidak dilatih akan melemah, betapapun indah pengakuan lisannya.
Sesungguhnya, ibadah bersama menjadi sarana penting menjaga iman tetap hidup.
Dietrich Bonhoeffer (9) dengan sangat pastoral menulis, “The physical presence of other Christians is a source of incomparable joy and strength to the believer” (Life Together, hlm. 18). Tanpa persekutuan, iman mudah rapuh.
Kesetiaan juga selalu bersifat keluar, bukan ke dalam saja. Iman yang hidup mendorong orang untuk mengajak, bukan menghakimi; merangkul, bukan menutup diri.
Mengajak satu orang untuk datang beribadah, mendengar firman, dan mengalami persekutuan adalah wujud nyata iman yang bergerak.
Kesetiaan iman juga mendorong misi. David Bosch (10) mengingatkan, “Mission is not an optional activity of the church but the expression of its faithfulness to God” (Transforming Mission, hlm. 373). Jika Injil hanya disimpan secara egois, maka iman kehilangan daya hidupnya.
Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, pesan Kitab Ibrani tetap relevan: iman tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Ia harus dipelihara, dirawat, dan dilatih dalam kebersamaan.
Ketika ibadah dan persekutuan diabaikan, iman perlahan kehilangan daya tahannya.
Dengan demikian, iman Kristen bukan hanya pengetahuan atau pengakuan lisan, melainkan komitmen hidup yang terus dipelihara melalui ibadah, persekutuan, dan kesediaan untuk terus belajar. F. F. Bruce (11) menyimpulkan, “Faith that does not persevere in practice eventually withers in confession” (The Epistle to the Hebrews, hlm. 258).
Pada akhirnya, kesetiaan bukan soal seberapa keras kita berbicara tentang iman, melainkan seberapa setia kita menjalaninya dalam keseharian. Setia itu bukan dirasakan sesekali, setia itu dilatih setiap hari, setiap waktu dalam berbagai kesempatan. (*)
Referensi