Jalan Sunyi Faradiba Kaay, Pionir Psikolog dari Jantung Papua Pegunungan
January 31, 2026 05:15 PM

Laporan wartawan Tribun Papua Yulianus Magai 

TRIBUN PAPUA.COM, JAYAPURA - Bagi Faradiba Anugerah Kaay Tabuni, gelar psikolog yang kini resmi disandangnya bukan sekadar deretan huruf di belakang nama. Itu melainkan sebuah janji yang tuntas dibayar.

Di bawah langit Semarang yang hangat, Kamis (29/1/2026), perempuan asli Papua Pegunungan ini berdiri di panggung Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) dengan mata berkaca-kaca.

Ia baru saja mengukir sejarah sebagai psikolog pertama dari wilayah adat Lapago yang lulus dari institusi tersebut, mengakhiri perjalanan panjang nan sunyi demi menjemput ilmu yang akan dibawanya pulang ke Papua Pegunungan.

“Saya juga bersyukur, capaian akademik ini juga berkat doa dan dukungan suami, anak-anak, keluarga terkasih, dan semua pihak,” ujar Faradiba Anugerah Kaay.

Baca juga: Sosok dan Prestasi Kombes Victor Dean Mackbon, Anak Papua Kini Jabat Dirreskrimsus Polda Metro Jaya

Langkah Faradiba menuju dunia kesehatan mental tidak bermula dari ruang kelas yang tenang, melainkan dari lorong-lorong RSUD Wamena yang penuh sesak.

Bertahun-tahun menjadi asisten psikiater dan aktif di LSM Tangan Peduli, ia menjadi saksi bisu atas ribuan jiwa yang lara.

Di sana, ia melihat luka-luka yang tidak berdarah; pasien-pasien yang memendam beban batin tanpa pernah tahu ke mana harus bercerita.

Realitas pahit bahwa layanan kesehatan jiwa di tanah kelahirannya masih menjadi barang mewah adalah kegelisahan yang terus menghantui tidurnya.

KEHIDUPAN PAPUA PEGUNUNGAN - Warga Papua Pegunungan memadati bandara perintis di wilayah terpecil. Mereka hendak menerima bantuan dari pemerintah melalui Panitia NAtal Nasional. (dok. Panitia Natal for Tribun Papua)
KEHIDUPAN PAPUA PEGUNUNGAN - Warga Papua Pegunungan memadati bandara perintis di wilayah terpecil. Mereka hendak menerima bantuan dari pemerintah melalui Panitia NAtal Nasional. (dok. Panitia Natal for Tribun Papua) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

“Pengalaman sebelumnya menjadi asisten Dokter SP.Kj (Psikiater) di RSUD Wamena juga sangat membantu saya merampungkan kuliah hingga meraih profesi psikolog. Dalam berbagai pengalaman sebelumnya saya melihat banyak pasien yang perlu ditolong tanpa obat tetapi melalui terapi,” kata Faradiba Kaay. 

Kesadaran itulah yang memaksanya membuat keputusan besar pada tahun 2024, meninggalkan kenyamanan keluarga dan anak-anak demi menempuh pendidikan profesi di tanah rantau.

Faradiba menyadari satu hal yang fundamental, bahwa untuk memulihkan sesama di wilayah yang penuh kompleksitas sosial seperti Papua, niat baik saja tidak akan pernah cukup.

Selama empat semester di SCU Semarang, Faradiba menempa diri menjadi bagian dari angkatan pertama pendidikan profesi sesuai regulasi baru nasional.

Ia bergelut dengan teori biopsikososial di antara keragaman rekan sejawat dari seluruh penjuru Nusantara.

Di sana, ia belajar bahwa menjadi psikolog bukan berarti menjadi sosok penyelamat yang serba tahu, melainkan menjadi rekan perjalanan yang paling sadar akan etika dan batas diri.

Ia belajar untuk mendengar lebih dalam sebelum memberi makna pada sebuah penderitaan.

"Ini titik balik dari perjalanan belajar menjadi perjalanan mengabdi dan dari ruang kelas menuju ruang-ruang kehidupan manusia yang nyata,” ujar Faradiba Kaay.

Keteguhan Faradiba adalah cermin dari semangat srikandi Lapago yang menolak menyerah pada keterbatasan.

Baginya, pendidikan di tanah Jawa adalah jembatan untuk memahami bahwa intervensi psikologis yang terbaik bukan yang paling canggih secara teknologi, melainkan yang paling manusiawi dan menghargai akar budaya.

Ia ingin membawa pulang ilmu yang rendah hati. Sebuah praktik psikologi yang tidak asing bagi adat dan tradisi, namun tetap berdiri tegak di atas landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

KESEHATAN GRATIS - Petugas kesehatan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) memberikan edukasi kesehatan bagi warga di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II di Waigeo Utara, Papua Barat Daya. Klinik terapung ini memiliki fasilitas medis lengkap, termasuk ruang operasi mayor, IGD, ruang bersalin, laboratorium, dan ruang rawat inap.
KESEHATAN GRATIS - Petugas kesehatan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) memberikan edukasi kesehatan bagi warga di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II di Waigeo Utara, Papua Barat Daya. Klinik terapung ini memiliki fasilitas medis lengkap, termasuk ruang operasi mayor, IGD, ruang bersalin, laboratorium, dan ruang rawat inap. (Tribun-Papua.com/Istimewa)

"Kami datang dari latar belakang yang beragam, baik wilayah, budaya, pengalaman hidup, dan keragaman tetapi semua itu menjadi kekuatan kami," ujarnya.

Baca juga: Profil Brigjen Alfred Papare, Cucu Pahlawan Nasional yang Kini Menjabat Kapolda Papua Barat

Kini, Faradiba bersiap kembali ke Papua Pegunungan, membawa harapan bagi mereka yang selama ini terabaikan oleh sistem.

Ia memandang tugasnya di masa depan sebagai sebuah pengabdian tak bertepi untuk menjaga martabat manusia dan melindungi kerahasiaan hati setiap kliennya.

Di tengah wilayah yang lama merindukan kedamaian batin, kehadiran Faradiba adalah cahaya kecil yang diharapkan mampu menerangi ruang-ruang gelap di hati masyarakatnya.

Membuktikan bahwa kesembuhan adalah hak bagi setiap jiwa, bahkan di sudut terjauh Indonesia sekalipun.

"Kami ingin membawa ilmu dengan kerendahan hati, belajar memahami sebelum menyimpulkan, dan mendengar sebelum memberi makna,” ujarnya. (*)
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.