TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menegaskan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah melalui kajian yang matang dan tidak dilakukan tanpa perhitungan dampak ke depan.
Menurut Yuke, OMC bukan sekadar upaya untuk mengurangi atau “memundurkan” hujan, melainkan bagian dari strategi mitigasi bencana agar pemerintah memiliki waktu melakukan langkah antisipasi di lapangan.
“OMC pasti sudah dikaji. Tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan dampak lingkungan maupun siklus alam. Tujuannya bukan menunda hujan lalu menimbulkan masalah di kemudian hari, tetapi memberi waktu untuk mitigasi,” kata Yuke, Jumat (29/1/2026).
Ia menjelaskan, jeda waktu yang dihasilkan dari OMC dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan berbagai langkah darurat.
Mulai dari penguatan tanggul sementara, pemasangan bronjong, hingga penanganan titik-titik rawan banjir sebelum curah hujan kembali meningkat.
“Paling tidak kita bisa ‘ambil napas’ sebentar untuk menyiapkan langkah antisipasi, supaya ketika hujan datang lagi dampaknya tidak semakin parah,” katanya.
Meski demikian, Yuke menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya solusi dalam pengendalian banjir di Jakarta.
Selain membutuhkan biaya yang besar, kebijakan ini juga harus didasarkan pada penelitian, kajian teknis, serta koordinasi yang matang dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Tidak semua hal bisa kita andalkan dari modifikasi cuaca. Pemprov tentu menentukan waktu pelaksanaan OMC berdasarkan kajian dan koordinasi dengan BMKG,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yuke menilai Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan infrastruktur pengendali banjir.
Di antaranya perbaikan drainase skala mikro, pembangunan waduk dan polder, hingga penguatan tanggul pantai.
Namun ke depan, ia menekankan pentingnya perhatian serius terhadap saluran air di kawasan permukiman padat penduduk yang kerap menjadi sumber persoalan banjir.
“Justru di permukiman padat, masalahnya sering ada di saluran-saluran kecil. Sungai besar kita bermasalah, kali-kali kecil juga harus benar-benar diperhatikan dan dicarikan solusinya,” pungkas Yuke.