Doa Malam Nisfu Syaban yang Membawa Berkah Bagi Umat Islam
January 31, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Malam Nisfu Syaban merupakan malam yang diyakini dapat membawa berkah pada tanggal 15 Syaban dalam penanggalan kalender Hijriah atau kalender Islam.

Kementerian Agama Jawa Barat menjelaskan, salah satu peristiwa penting di bulan Sya’ban adalah perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.

Selain itu, Syaban merupakan bulan yang dapat dimanfaatkan untuk melatih diri dengan berpuasa sunah, sebelum menunaikan puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Keyakinan bahwa bulan Syaban membawa berkah didasarkan pada hadis:

“Jika ada malam Nishfu Sya’ban maka dirikanlah (ibadahlah) di malamnya dan puasalah di siang harinya.” (HR. Ibnu Majah)

Muhammadiyah berpendapat hadis tersebut dinilai dhaif (lemah) karena salah satu rawinya yang terkenal sebagai pemalsu hadis, sehingga hadis-hadis yang diriwayatkannya tidak dapat dijadikan hujah.

Para ulama berpendapat tidak ada ibadah tertentu yang dikhususkan pada bulan Syaban, namun muslim boleh memanjatkan doa-doa baik dan meningkatkan ibadah sunah selama Syaban, seperti puasa sunah Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh, dan puasa Daud.

Anjuran ini didasarkan pada hadis berikut:

Dari Siti Aisyah ra berkata: “Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya daripada berpuasa di bulan Sya’ban”. (HR. Muslim dan Bukhari)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam lamannya membagikan bacaan doa yang dapat dibaca pada bulan Syaban sebagai berikut.

Baca juga: Tata Cara & Doa Ziarah Kubur Orang Tua di Bulan Syaban 2026

Doa Malam Nisfu Syaban

اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ

Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.

Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Amalan Sunah di Bulan Syaban

Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan pada bulan Syaban, tapi muslim diperbolehkan untuk meningkatkan ibadah sunah, yang juga dapat dilakukan selain di bulan Syaban.

Kementerian Agama Cilacap menyebutkan beberapa amalan sunah yang dapat dilakukan pada bulan Syaban, sebagai berikut.

1. Berdoa

Memperbanyak doa menjadi amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam selama bulan Syaban.

Bulan yang sarat keberkahan ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat, menyampaikan harapan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.

2. Sholat Sunah

Bulan Syaban merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sholat sunah. Berbagai sholat sunah, seperti tahajud, rawatib, dhuha, maupun sholat sunah lainnya, dianjurkan untuk dikerjakan secara konsisten.

Ibadah ini berfungsi sebagai penyempurna kekurangan dalam sholat wajib sekaligus sarana menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Berdzikir

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir sepanjang bulan Syaban sebagai wujud mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dzikir dapat dilakukan dengan membaca istighfar, tahmid, tahlil, tasbih, dan takbir, yaitu:

  • Istighfar (Astaghfirullah)
  • Tahmid (Alḥamdulillāh)
  • Tahlil (Lā ilāha illallāh)
  • Tasbih (Subḥānallāh)
  • Takbir (Allāhu akbar)

4. Membaca Al-Qur'an

Membaca Al-Qur’an menjadi salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan di bulan Syaban. Setiap huruf yang dibaca mengandung nilai pahala yang besar dan berlipat ganda. Melalui tilawah Al-Qur’an, seorang muslim tidak hanya meraih pahala, tetapi juga menenangkan hati serta mempersiapkan diri secara spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, sedangkan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif-laam-miim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf." (HR. At Tirmidzi).

5. Berpuasa

Puasa sunah menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di bulan Syaban. Umat Islam dapat melaksanakan puasa Senin dan Kamis, Ayyamul Bidh, puasa Daud, maupun puasa sunah lainnya.

Selain bernilai ibadah, puasa di bulan Syaban juga berfungsi sebagai latihan kesabaran serta persiapan fisik dan mental sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

6. Segera Bertaubat

Bulan Syaban merupakan momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi dan memperbanyak taubat sebelum memasuki Ramadhan. Seorang muslim dianjurkan untuk segera bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa yang telah diperbuat, meninggalkan perbuatan maksiat, serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

Taubat dapat dilakukan melalui sholat taubat nasuha, yakni sholat sunah dua rakaat dengan niat kembali sepenuhnya kepada Allah SWT.

Hikmah Meningkatkan Ibadah di Bulan Syaban

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyebutkan hikmah yang diperoleh muslim yang meningkatkan ibadahnya pada bulan Syaban.

1. Memperoleh Ampunan dari Allah SWT

Bulan Syaban menjadi momentum penuh keberkahan bagi umat Islam untuk memperbanyak doa dan taubat. Melalui peningkatan ibadah dan amal saleh, Syaban dapat dimanfaatkan sebagai waktu memperbaiki diri serta memohon ampunan atas kesalahan dan dosa yang telah lalu.

Sebagaimana bulan-bulan lainnya, Syaban memberi ruang bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak kebaikan sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.

2. Menumbuhkan dan Menguatkan Keimanan

Syaban juga berperan sebagai sarana untuk memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Peningkatan ibadah, dzikir, dan doa mengajak seorang muslim untuk lebih menyadari kebesaran Allah serta ketergantungan total manusia kepada-Nya.

Kesadaran ini akan menumbuhkan sikap tawakal, kesabaran, dan ketaatan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik dalam ibadah maupun dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

3. Mempererat Hubungan Spiritual dengan Allah

Doa merupakan media utama bagi seorang hamba untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Melalui doa-doa yang dipanjatkan di bulan Syaban, seorang muslim dapat menyampaikan harapan, kegundahan, serta permohonan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.

Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60).

4. Mengharap Keberkahan dalam Kehidupan

Ibadah dan doa yang dilakukan pada bulan Syaban diyakini membawa keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan.

Keberkahan tersebut dapat berupa ketenteraman batin, kelapangan rezeki, kesehatan, serta kemudahan dalam menghadapi berbagai ujian.

Dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah, seorang muslim menempatkan kehidupannya dalam naungan rahmat dan perlindungan-Nya.

5. Menyiapkan Diri Menyambut Bulan Ramadan

Bulan Syaban kerap dipahami sebagai fase persiapan spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Pada masa ini, umat Islam dianjurkan untuk membersihkan hati melalui taubat serta memperbaiki niat dalam beribadah.

Persiapan yang matang di bulan Syaban diharapkan dapat membantu seorang muslim menjalankan ibadah di bulan Ramadan dengan lebih khusyuk, optimal, dan penuh kesadaran spiritual.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.