TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bogor - Fakta mengejutkan terungkap terkait kondisi sebenarnya Suderajat (49) dan istri, yang dianggap banyak berbohong saat bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ternyata, Suderajat dan istri terdapat indikasi disabilitas. Hal tersebut yang membuat jawaban Suderajat selalu berubah-ubah ketika ditanya Dedi Mulyadi.
Fakta tersebut diungkap Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, setelah mengetahui kini Suderajat banjir cemoohan setelah sebelumnya panen simpati publik.
Suderajat merupakan pedagang es gabus keliling di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dituduh menjual dagangan menggunakan bahan spons.
Es gabus adalah jajanan tradisional khas Indonesia yang terbuat dari tepung hunkwe atau tepung kanji, gula, santan/susu, dan pewarna, lalu dibekukan sehingga teksturnya lembut dan ringan seperti gabus.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com, Suderajat sempat didatangi dan diinterogasi dua aparat terkait barang dagangannya. Aparat itu menuding es gabus yang dijual Suderajat mengandung bahan berbahaya.
Namun, tuduhan itu tak terbukti. Sebab berdasarkan hasil uji laboratorium, es gabus yang dijual Suderajat layak dikonsumsi.
Pasca-kejadian itu, Suderajat mendapat banyak simpati dari publik. Namun, tak lama berselang, ia justru menuai cemoohan.
Warga Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu kini disorot terkait klaim bantuan dan tempat tinggalnya.
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani mengungkap kondisi terkini Suderajat. Pedagang es gabus itu kembali menuai sorotan setelah bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Kepada Dedi Mulyadi, Suderajat mengaku tinggal di rumah kontrakan dan menunggak sewa selama empat bulan.
Tenny menegaskan, Suderajat bukan tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
“Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri."
"Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu itu, sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” ujar Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Tenny menjelaskan, proses rehabilitasi rumah Suderajat mulai berjalan sejak Desember 2025.
Baca juga: Suderajat Ngaku Takut Jualan Es Gabus Lagi, Kapolres Langsung Beri Jaminan
Ditambah lagi, rumah tersebut juga sempat roboh akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun 2026.
Sejak saat itu, kata Tenny, Suderajat bersama keluarganya tidak lagi menempati rumahnya sendiri.
Tenny menilai, polemik yang berkembang di media sosial muncul akibat informasi yang tidak utuh mengenai kondisi Suderajat.
Di tengah cemoohan publik dan beredarnya berbagai rumor kebohongan, Tenny menyebut hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya.
Kondisi itu diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas.
"Lalu kemudian terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya.
"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," sambungnya.
Ia menambahkan, keterangan dari Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat juga menunjukkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat.
Kondisi itu diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah difitnah aparat.
Ditambah lagi banyak orang yang mendatangi rumahnya.
"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya. Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.
"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)" bebernya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Bojonggede, Elvinila Hartini mengungkap bantuan yang diterima oleh Suderajat.
Elvinila menjelaskan, renovasi rumah Suderajat menggunakan anggaran tahun 2025, agar pedagang es gabus dan keluarganya memiliki hunian yang layak.
Selama renovasi berlangsung, Suderajat tinggal di rumah kontrakan.
"Terima kasih Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati sudah merenovasi rumahnya dengan rutilahu yang tahun anggaran tahun 2025," katanya, dilansir TribunnewsBogor.com.
Kemudian, dua anaknya yang sebelumnya putus sekolah, kini bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Mereka juga diberi bantuan seragam dan seluruh perlengkapan sekolah.
"Dan anak-anaknya ada tiga orang anak tidak sekolah, kami usahakan untuk masuk sekolah. Dan mereka harus mengenyam pendidikan sampai tuntas," katanya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Kecamatan maupun Dinas Sosial, juga memberi bantuan stok bahan makanan untuk Suderajat dan keluarga.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews, Suderajat mendapat sejumlah bantuan yang jumlahnya mencapai Rp110 juta.
Berikut pernyataan-pernyataan Suderajat yang tidak relevan dengan keadaan:
Pada pertemuan sebelumnya di dalam mobil, Suderajat sempat membohongi Dedi Mulyadi soal bantuan orang-orang.
Dalam tayangan YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL, Rabu (28/1/2026) Suderajat mengatakan belum pernah mendapatkan bantuan dari orang setelah video jualan es-nya viral.
Padahal, dirinya sudah mendapatkan satu unit sepeda motor dan modal usaha dari Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras.
Dedi pun meminta Suderajat jujur soal bantuan yang diterimanya.
Kepada Dedi, Suderajat juga mengatakan dirinya memiliki tanggungan biaya sekolah anak yang nunggak selama empat bulan di sekolah negeri
Tunggakan biaya sekolah itu sejumlah Rp 1,5 juta.
Namun, setelah ditanyai lebih detail terkait keperluan pembiayaan sekolah, ternyata hanya Rp 200ribu per bulan.
Dedi pun mengoreksi pernyataan Suderajat itu.
Sebagai Gubernur Jabar, Dedi juga mempertanyakan soal biaya sekolah anak Suderajat, sebab di sekolah negeri saat ini telah digratiskan pemerintah.
Belakangan terungkap anak Suderajat bukan sekolah di sekolah negeri melaikan swasta.
Suderajat juga menceritakan kepada Dedi dirinya tinggal di sebuah rumah kontrakan.
Biaya kontrak rumah itu yakni Rp800 ribu per bulan.
Namun, Suderajat mengaku sudah tak mampu membayar tunggakan rumah kontrakan selama empat bulan.
Ia mengaku tak memiliki uang untuk membayar rumah kontrakan itu.
Namun kenyataannya, di tayangan Dedi Mulyadi lainnya, terungkap Suderajat tidak mengontrak.
Ia memiliki rumah sendiri warisan dari orang tuanya.
Hal itu ketahuan saat Ketua RW di lokasi tempat tinggal Suderajat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, buka suara.
Ketua RW mengatakan Suderajat sudah tinggal selama 19 tahun di rumah pembelian orang tuanya tersebut.
"19 tahun ngontrak terus?" tanya Dedi dikutip dari kanal YouTube miliknya yang tayang Jumat (30/1/2026).
"Nggak pak, (Suderajat tinggal) rumah sendiri. Lalu juga dapat bantuan Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni). Sebelum kejadian (fitnah dan penganiayaan), sudah dapat Rutilahu," jawab Ketua RW.
"Lho babe (Suderajat) bilangnya ngontrak. Kok bohong sih. Be kenapa sih kok babe bohong terus," sesal Dedi ke Suderajat.
"Minta maaf, minta maaf," kata Suderajat sambil tertawa.
"Rumah sendiri, tanahnya sendiri? Itu dari mana?" tanya Dedi.
"Dari bapaknya (Suderajat) dibeliin rumah dari almarhum orang tuanya," kata ketua RW.
Suderajat sebelumnya juga menceritakan dirinya hanya mendapatkan Rp 200 ribu dari uang penjualan rumah warisan orang tuanya.
Setelah dikroscek ke Ketua RW, rumah yang dijual orang tua Suderajat berada di Jakarta, bukan rumah yang ditinggali di Bogor.
Suderajat sendiri sudah mendapatkan warisan dalam bentuk tanah dan rumah di Bogor.
"Babe bohong lagi ke saya. Ngomong ke saya cuma dikasih warisan Rp200 ribu, padahal dikasih rumah," ujar Dedi.
Ketua RW itu mengatakan rumah yang dibelikan orang tua Suderajat seharga Rp35-40 juta.
Dedi menyesalkan sikap Suderajat yang berbohong kepadanya terkait kondisi ekonominya.
"Babe nggak masalah sama saya tapi Babe berdosa sama orang tuanya. Orang tuanya sudah dikasih rumah tapi sama Babe (mengaku) nggak dikasih, cuma dikasih Rp200 ribu," kata Dedi.
Kepada Dedi Ketua RW menjelaskan Suderajat sudah memperoleh banyak bantuan, mulai dari uang tunai, motor hingga umroh.
Tak kaleng-kaleng jumlah uang bantuan mencapai Rp 110 jutaan juga, bahkan lebih.
Berikut bantuan-bantuan yang diterima Suderajat:
"Babe nggak boleh lagi ngomong nggak punya duit," tegas Dedi Mulyadi.