Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya akses program bantuan, sebuah sekolah swasta di pelosok Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan kepedulian yang lahir dari nurani.
Madrasah Aliyah Swasta Hidayatullah Baar yang berlokasi di Nampar, Dusun Ruki, Desa Sambinasi Tengah, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalankan gerakan makan bersama gratis bagi para siswanya. Program sederhana ini lahir dari inisiatif para guru yang sepakat berbagi rezeki demi memastikan siswa tetap mendapatkan asupan makanan bergizi.
Uniknya, setiap guru menanggung dua porsi makan untuk siswa. Mereka memasak sendiri, menyiapkan sendiri, lalu makan bersama para siswa di sekolah.
Guru di sekolah tersebut , Tasnim Pong, mengatakan gerakan ini murni berasal dari kepedulian guru-guru tanpa melibatkan anggaran khusus.
Baca juga: Orasi Ilmiah Dr Yosefina : Guru Profesional Mengabdi dengan Ilmu dan Mendidik dengan Hati
“Sekitar tiga bulan lalu kami bersepakat untuk berbagi kebaikan dengan anak-anak. Awalnya tidak terpikir lewat makanan, tapi setelah berdiskusi, kami sepakat, apa salahnya berbagi melalui makan bersama,” ujar Tasnim kepada TribunFlores.com, Sabtu (31/01/2026).
Menurutnya, kegiatan makan bersama ini dilaksanakan setiap akhir bulan dan telah berjalan selama tiga bulan terakhir. Meski sederhana, kebersamaan itu dinilai memberi dampak besar bagi siswa.
“Setiap guru menyiapkan dua porsi makan. Kami masak sendiri, siapkan sendiri, lalu makan bersama siswa. Jumlah siswa ada 36 orang,” jelasnya.
Tasnim menegaskan, gerakan ini tidak dilandasi kemampuan ekonomi yang berlebih. Sebagian besar guru merupakan tenaga pendidik swasta yang menggantungkan penghasilan dari dana BOS yang pencairannya hanya enam bulan sekali.
“Di sela keterbatasan, kami masih bisa berbagi. Meskipun kondisi ekonomi bapak ibu guru juga tidak baik, semangat berbagi itu tetap ada,” ungkapnya.
Gerakan makan bersama ini mendapat sambutan positif dari orang tua siswa. Bahkan, sejumlah orang tua mulai tergerak untuk ikut membantu dan berharap kegiatan tersebut dapat melibatkan mereka ke depan.
“Ada orang tua yang antusias dan mendukung penuh. Bahkan sudah mulai membantu. Mereka berharap gerakan makan bersama ini bisa melibatkan orang tua juga,” tambah Tasnim.
Ke depan, pihak sekolah berencana mempertahankan gerakan berbagi tersebut dan mengembangkannya dalam bentuk lain.
“Program ini akan terus kami lakukan. Mungkin ke depan tidak hanya makanan, tapi juga bentuk lain seperti santunan prestasi siswa,” katanya.
MA Swasta Hidayatullah Baar sendiri memiliki 16 orang guru dan 36 siswa, dengan rincian kelas X sebanyak 11 siswa, kelas XI 14 siswa, dan kelas XII 11 siswa.
Dari sebuah sekolah di pelosok Ngada, para guru membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti peduli, dan bahwa pendidikan sejatinya juga tentang menanamkan nilai kemanusiaan.(Cha).