TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Haekal menegaskan stabilitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI) harus dijaga di tengah dinamika pasar modal.
Ia meminta investor tetap tenang dan tidak terjebak spekulasi.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah memastikan stabilitas kelembagaan OJK sebagai regulator dan menjaga Bursa sebagai pasar yang sehat, transparan, dan berkualitas. Ini krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan nasional,” ujar Haekal, Sabtu (31/1/2026).
Pasar modal sempat bergejolak pada Rabu (28/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing indeks saham Indonesia, terkait sorotan atas konsentrasi kepemilikan saham dan potensi manipulasi harga.
IHSG sempat anjlok hingga perdagangan dihentikan.
Indeks turun 7,35 persen pada Rabu, jatuh hingga 10,04 persen pada Kamis, lalu menguat tipis 1,18 persen pada Jumat meski sempat melemah setelah pengumuman pengunduran diri pejabat BEI.
Baca juga: Pasca IHSG Rontok, OJK Tunjuk Friderica & Hasan Gantikan Pejabat Dewan Komisioner yang Mundur
Tak hanya satu orang, lima pejabat di BEI dan OJK mundur pada Jumat (30/1/2026).
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri pada pagi hari, disusul Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, Deputi Komisioner Pengawas Emiten OJK I. B. Aditya Jayaantara, dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
Mereka menyatakan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab atas sorotan konsentrasi kepemilikan saham dan potensi manipulasi harga.
OJK resmi menunjuk Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi sebagai pengganti pejabat Dewan Komisioner yang mundur, efektif 31 Januari 2026, untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan.
Friderica ditetapkan sebagai anggota pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK, sementara Hasan dipercaya menggantikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Direksi dan Dewan Komisaris BEI juga dikabarkan bakal menunjuk Direktur Penilaian Perusahaan BEI Jeffrey Hendrik sebagai penjabat Direktur Utama, menggantikan Iman Rachman.
Haekal memastikan tidak ada pejabat dari Danantara, Badan Pengelola BUMN, maupun pihak terafiliasi yang akan menduduki jabatan di OJK atau BEI.
“Seluruh posisi yang kosong akan diisi melalui mekanisme yang berlaku oleh figur-figur profesional, independen, dan memiliki kompetensi tinggi di bidang pasar keuangan,” tegasnya.
Menurut Haekal, keberlanjutan pasar modal tidak hanya ditentukan oleh struktur kelembagaan, tetapi juga oleh kredibilitas sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta konsistensi pengawasan.
“Komisi XI DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara aktif dan konstruktif untuk memastikan OJK tetap independen dan kuat sebagai regulator, serta BEI terus berperan sebagai pasar yang efisien, berintegritas, dan berdaya saing global,” katanya.
Haekal juga mengimbau seluruh pemangku kepentingan, regulator, pelaku pasar, hingga masyarakat, untuk tidak terjebak pada spekulasi yang dapat memperkeruh persepsi dan mengganggu stabilitas pasar.
“Kita perlu menenangkan pasar, bukan memperkeruh keadaan. Fokus kita adalah memperkuat fondasi pasar keuangan nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.