TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sorotan publik kembali tertuju pada Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat yang melontarkan kritik keras kepada Suderajat, pedagang es kue yang mendadak viral karena kekayaannya meningkat drastis usai viral.
Dedi Mulyadi menilai lonjakan penghasilan tanpa dibarengi manajemen keuangan yang baik justru berpotensi menjadi bumerang.
Dedi Mulyadi bahkan mengingatkan, jika pengelolaan usaha dan uang dilakukan secara serampangan, kekayaan besar itu bisa ludes hanya dalam hitungan tiga bulan.
Baca juga: Makin Ngelunjak Usai Banjir Rezeki, Pedagang Es Kue di Bogor Bohongi KDM & Minta Mobil ke Kapolres!
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sampai geleng kepala ketika mengetahui rencana pedagang es kue Suderajat. Ia tak menyangka, uang yang diberikan bukan dipakai untuk usaha.
Padahal niatan KDM memberi uang bantuan sebagai modal usaha Suderajat.
Dedi merasa simpati pada Jajat, warga Kampung Rawapanjang, Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Ia menjadi korban fitnah dua aparat yang menuduh es kue dagangan Jajat terbuat dari spons.
Bahkan keduanya juga menyebar video saat menguji es kue Suderajat sampai viral di media sosial.
Setelah diuji Tim Dokkes, es kue yang dijual Suderajat ternyata aman dikonsumsi.
Atas peristiwa itu banyak sekali warga yang simpati.
Suderajat bahkan menerima banyak bantuan berupa uang puluhan juta, bantuan renovasi rumah, motor, sampai umroh gratis.
Termasuk Dedi Mulyadi memberi uang Rp 15 juta.
Rp 10 juta untuk kontrakan dan bayar utang.
Rp 5 juta untuk modal usaha.
Lalu Dedi juga memberi Rp 20 juta untuk upah pekerja yang memperbaiki rumah Jajat.
KDM berharap Suderajat tidak lagi berjualan es kue dan beralih membuka usaha lain dengan modal usah yang dia berikan.
"Jadi duit babeh utuh ? udah mantep gimana," kata KDM.
Bukannya dipakai untuk modal usaha, Jajat justru berniat menggunakan uang Rp 5 juta dari Dedi untuk menikahkan anaknya.
"Gini pak buat anak saya mau kawin pak, si Andi," katanya.
Ketua RW mengatakan sebenarnya Andi anak Jajat disarankan melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Mau sekolah, sekolah rakyat. Putus sekolah dari SD. Dari dinas sosial mau diajak sekolah lagi gak," katanya.
Dedi pun sepakat dengan rencana itu.
"Iya dibenerin aja semua. Ini babeh kalau mau dimanfaatin sekarang tuh udah bagus lho. Punya rumah baru, duit simpenan. Dengan RW lebih kaya babeh lho. Punya motor baru, tinggal manfaatin. Tapi ini kalau management gak bener, tiga bulan udah ilang semua," kata Dedi Mulyadi.
Jualan es kue ini ternyata Jajat tidak mengeluarkan modal.
"Mau dagang dulu besok dagang es kue," katanya.
"Berarti es kue gak pakai modal dong. Uang Rp 5 juta itu utuh," kata Dedi.
Pasalnya sistem dagang tersebut adalah setoran.
Jadi Jajat berniat memakai uang dari Dedi untuk mengadakan pesta pernikahan anak.
"Buat anak. Katanya mau buat kawin," katanya.
Mendengar itu, Dedi Mulyadi sampai geleng kepala.
"Beh, saya ngasih tuh buak bekal babeh bukan buat anak. Orang kan simpati sama babeh, bukan sama anak. Buat kehidupan babeh," katanya.
Dia menyarankan uang itu dipakai untuk membuka usaha baru.
"Kita nyaranin nih sama babeh, misal jualan es kue kan harus jalan jauh, kalau buka warung laku gak. Atau anaknya bisa jadi gojek ?" kata Dedi Mulyadi.
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)