Dulu Komisioner KPU Bangka Barat, Harpandi Dilantik Jadi Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason
February 01, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bupati Kabupaten Bangka Barat, Markus melantik Harpandi sebagai Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason pada OR 1 Setda Bangka Barat, Sabtu (31/1/2026).

Ia menggantikan Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason sebelumnya, Najamuddin yang berakhir masa jabatanya, Senin (1/9/2025) lalu.

Dalam kesempatan itu, Markus mengucapkan selamat kepada Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason masa jabatan 2026-2031. Selamat itu diucapkan atas nama, pribadi dan pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

"Semoga momentum ini menjadi spirit bagi saudara untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta pelayanan publik," kata Bupati Bangka Barat, Markus.

Ia juga mengajak Direktur Perumdam Perumdam Tirta Sejiran Setason yang baru dilantik agar benar-benar melaksanakan visi dan misinya. Serta program yang telah ditawarkan kepada publik.

"Lebih mengutamakan peningkatan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal. Serta meningkatkan disiplin di lingkungan perusahaan yang saudara pimpin," ucap Markus.

Markus yakin dan percaya, Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason yang baru dapat mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya. Serta mampu membawa perusahaan umum daerah daerah Sejiran Setason lebih baik.

Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason, Harpandi diketahui pernah menjabat Komisioner KPU Kabupaten Bangka Barat. Menurutnya, ada perbedaan peran dan tugas pekerjaan yang sekarang yang dia emban, dengan jabatan dirinya sebelumnya.

"Sebenarnya ini lebih kepada manajerial saja, kalau kemarin itu kita di KPU. Kita manajerial kawan-kawan penyelenggara Pemilu. Sekarang kita sama-sama pelayanan juga, KPU juga melayani pemilih dan partai politik, PDAM juga sama," kata Harpandi.

Dia menegaskan, pada intinya tugas utama dari PDAM melakukan pelayanan sumber air bersih kepada masyarakat yang ada di Bangka Barat.

Setelah dilantik menjadi Direktur, Harpandi mengatakan telah memiliki strategi untuk berinvestasi pada kepercayaan masyarakat. Apalagi ada beberapa masukan dari masyarakat terkait masalah kualitas air. 

"Jadi kualitas air kita yang memang katakanlah masih keruh. Terus lagi ada beberapa meteran yang kira-kira tidak akurat, nah ini yang memang harus kita benahi kembali,"terangnya.

Dia ingin masyarakat  percaya kepada PDAM. Karena PDAM bukan hanya perusahaan daerah air mandi tapi perusahaan air minum yang memang secara PH itu layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Barat.

"Target-targetnya ada jangka waktu singkat dan yang panjang. Target jangka pendek kita ini (investasi kepercayaan-red)" katanya.

Selain itu, Harpandi mengatakan menjadi pemicu dari permasalahan tersebut adalah NRW. NRW atau Non-Revenue Water, air yang tidak menghasilkan pendapatan.

"Yaitu air bersih yang sudah diproduksi oleh perusahaan air minum, seperti PDAM,  tetapi hilang sebelum sampai ke pelanggan dan tidak menghasilkan pendapatan. Bisa karena kebocoran fisik, pipa bocor atau kehilangan komersial, pencurian air, meteran tidak akurat," katanya.

Istilah lain yang sering digunakan di Indonesia adalah air tak berekening (ATR). NRW untuk memastikan akses air minum aman dan berkualitas bagi semua.

"Pertama itu NRW. NRW ini kan air tidak berkening. Jadi air tidak berkening ini ada beberapa permasalahan. Pertama masalah pipa rusak ataupun meteran yang tidak akurat yang mungkin saja ini bisa merugikan perusahaan ataupun masyarakat. Itu jangka menengah nanti akan kita mengoptimalisasi ataupun digitalisasi," katanya.

Kemudian, terkait masalah administrasi yang ada di perusahaan dan pelayanan-pelayanan, bakal dibenahi.

Untuk pelanggan memudahkan dalam melakukan pembayaran melalui aplikasi sehingga sistem digitalisasi nanti akan mendorong tertibnya administrasi di perusahaan.

Terkait SDM kata Harpandi, dikarenakan dirinya baru saja dilantik. Maka ia bakal adaptasi di perusahaan. Setelah itu, dirinya melakukan evaluasi terkait masalah SDM yang ada di perusahaan. 

Selain itu, Harpandi menyampaikan berkaitan untuk menghadapi persoalan musim kemarau.

Ia bakal berkoordinasi dengan pihak perencanaan terkait beberapa titik yang akan dijadikan sumber air baku seperti di Mentok, Simpang Teritip dan Tempilang. 

"Kita akan melihat seberapa jauh kualitas air itu bisa dikonsumsi ataupun bisa dipakai oleh masyarakat nanti. Itu ada beberapa titik sumber air bakunya," tutupnya. 

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.