Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produsen tahu di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, merasakan peningkatan penjualan sejak hadirnya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satunya dialami Ilham, produsen tahu skala UMKM di wilayah tersebut.
Ia mengungkapkan, sejumlah dapur MBG kini rutin memesan tahu sebagai salah satu bahan pangan dalam menu makan bergizi gratis.
“Alhamdulillah sekarang sudah berpengaruh, Pak. Beberapa dapur MBG sudah melakukan pemesanan tahu kepada kami. Penjualan meningkat dan kami juga tidak terlalu repot dalam pemasaran,” ujar Ilham, Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, saat ini usahanya telah memiliki pesanan terjadwal dari dua hingga tiga dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap pekan, dengan permintaan yang datang secara bergantian maupun bersamaan.
Kondisi tersebut dinilai sangat membantu keberlangsungan usaha sekaligus memberikan kepastian pasar bagi pelaku UMKM seperti dirinya.
Untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG, Ilham meningkatkan kapasitas produksi. Jika sebelumnya hanya memproduksi sekitar 150 kilogram tahu per sekali produksi, kini jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 200 kilogram.
“Penghasilan kotor per 50 kilogram tahu sekitar Rp1,1 juta. Khusus untuk MBG, tahu yang kami suplai adalah tahu kuning,” ujarnya.
Ilham menjelaskan, usaha UMKM produksi tahu miliknya memproduksi berbagai jenis tahu, mulai dari tahu putih, tahu pong, hingga tahu kuning. Dalam operasionalnya, usaha tersebut telah mempekerjakan empat hingga lima orang warga setempat.
Meski demikian, keterbatasan tenaga kerja membuat Ilham belum mampu memenuhi seluruh permintaan dalam jumlah besar.
Bahkan, ia mengaku sempat menolak beberapa pesanan dari dapur MBG karena kapasitas produksi yang terbatas.
“Beberapa kali kami tidak menyanggupi pesanan MBG dalam jumlah lebih banyak. Untuk mencukupi kebutuhan, setahu saya dapur MBG juga memesan tahu dari produsen lain yang ada di wilayah sini,” katanya.
Di balik peningkatan omzet, Ilham mengungkapkan masih terdapat kendala dalam proses produksi, terutama terkait modal usaha dan harga bahan baku.
Ia menyebutkan, harga kedelai impor yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan tahu masih relatif tinggi sehingga cukup membebani biaya produksi.
Menurutnya, sejak Desember 2025 hingga Januari 2026, harga kedelai impor mengalami kenaikan dari Rp480 ribu menjadi Rp490 ribu per 50 kilogram.
“Modal produksi masih terbilang mahal. Kami hanya menggunakan kedelai impor karena kualitas tahu yang dihasilkan lebih baik dibandingkan kedelai lokal. Namun, sampai sekarang harganya masih tinggi,” jelasnya.
Ilham berharap pemerintah dapat memberikan dukungan penuh kepada pelaku UMKM, termasuk menjaga stabilitas harga bahan baku.
Ia menilai, permintaan dari dapur MBG di Kecamatan Punggur telah memberikan dampak positif terhadap usaha tahunya.
Menurut Ilham, produksi tahu yang dijalankannya tidak hanya mengutamakan kuantitas, tetapi juga kualitas, yang tercermin dari penggunaan kedelai impor sebagai bahan baku utama.
Karena itu, ia berharap harga kedelai ke depan lebih stabil agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.
“Mudah-mudahan dengan adanya dapur MBG ini dampak positifnya bisa terus berlanjut. Kami juga berharap ada dukungan dari pemerintah setempat agar harga kedelai impor tidak terlalu mahal, sehingga kapasitas dan tingkat produksi bisa semakin meningkat,” pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)