Nihil Kasus Virus Nipah di Kalsel, Dinkes Perketat Deteksi Dini
February 01, 2026 02:45 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Hingga akhir Januari 2026, Kalimantan Selatan dipastikan masih nihil kasus Virus Nipah.

Meski demikian, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Dinkes Kalsel) memperketat langkah deteksi dini sebagai tindak lanjut Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalsel, Anhar Ihwan menegaskan, belum ada laporan baik suspek maupun kasus terkonfirmasi di seluruh kabupaten/kota.

“Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada temuan, baik suspek maupun yang sudah terkonfirmasi. Namun kewaspadaan tetap kami tingkatkan sesuai arahan dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI,” ujar Anhar Ihwan, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, langkah antisipasi penting dilakukan karena Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis dengan tingkat fatalitas tinggi.

Baca juga: Gempa Skala Besar Guncang Maluku Minggu 1 Februari 2026, Berkekuatan M 5,2 Berpusat di Wilayah Ini

Baca juga: Sejak Berbayar, Lapangan Basket Siring Bekantan Banjarmasin Sepi, Pengunjung Keluhkan Biaya Sewa

Oleh sebab itu, Dinkes Kalsel menekankan penguatan surveilans epidemiologi dan deteksi dini di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Rumah sakit dan puskesmas diminta lebih cermat mengenali pasien dengan gejala demam akut yang disertai gangguan pernapasan atau gangguan saraf, terutama bila memiliki riwayat paparan risiko.

“Jika ada indikasi mengarah ke Virus Nipah, fasilitas kesehatan wajib segera melaporkan secara cepat dan berjenjang,” jelas Anhar.

Tak hanya itu, penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD), juga menjadi perhatian untuk mencegah potensi penularan di fasilitas kesehatan.

Dinkes Kalsel juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan.

“Meskipun belum ada kasus, kita harus siap. Pencegahan dan kewaspadaan menjadi kunci agar Kalimantan Selatan tetap aman,” pungkasnya.

Berdasarkan Kemenkes dari SE, Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Henipavirus.

Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung, melalui hewan perantara seperti babi, maupun dari makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Penularan antarmanusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Gejala klinis bervariasi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut hingga ensefalitis yang berpotensi menyebabkan kematian, dengan tingkat fatalitas dilaporkan mencapai 40–75 persen.

Kasus Virus Nipah pertama kali dilaporkan pada 1998–1999 di Malaysia dan kemudian menyebar ke Singapura. Sejak 2001 hingga 2026, kasus dilaporkan secara sporadis di sejumlah negara, terutama India dan Bangladesh. Terbaru, pada Januari 2026, India kembali melaporkan dua kasus terkonfirmasi di Negara Bagian West Bengal tanpa kematian.

Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia berada di wilayah berisiko dan hasil penelitian menunjukkan adanya deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.