TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul akan menggencarkan anak di bawah lima tahun (Balita) untuk aktif melakukan penimbangan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Upaya itu menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan kasus stunting Bumi Projotamansari.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Bantul, Abednego Dani Nugroho, berujar berdasarkan tren prevalensi stunting Bantul pada tahun 2025, stunting balita berada di angka 9,05 persen atau setara 3.673 jiwa.
Jumlah itu naik dari tahun sebelumnya, 7,01 persen atau setara 3.417 jiwa.
"Tapi, disclaimer-nya begini. Catatan stunting kita itu kan dari hasil riil penimbangan elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM). Maka, sebenarnya, kalau berbicara stunting terdiri atas dua data," katanya, Minggu (1/2/2026).
Adapun dua data yang dimaksud itu terdiri atas data berdasarkan survei pusat berupa Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) atau Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan data berdasarkan penimbangan riil balita yang ada di wilayah setempat.
Namun, untuk data prevalensi stunting berdasarkan SSGI dan SKI untuk Kabupaten Bantul tahun 2025 belum keluar.
"Kalau hasil data D/S atau jumlah penimbangan balita yang di Posyandu. Jadi, D/S itu, dalam satu wilayah terdapat balita berapa, yang datang ditimbang itu berapa. Nah, sekarang itu yang turun, jadi tahun 2024 kemarin bisa ditimbang 99,72 persen, tahun 2025 turun menjadi 88,18 persen," terangnya.
Ia pun menyayangkan, penurunan data D/S tahun 2025 itu ternyata berdampak pada jumlah stunting di Bumi Projotamansari.
Baca juga: Operasi Keselamatan Progo 2026 Polres Bantul Mulai 2 Februari, Berikut Sasarannya
Kondisi penurunan D/S itu terjadi dimungkinkan karena beberapa faktor termasuk ketidaktahuan orangtua, ketidakmauan orangtua, hingga kesibukan orangtua.
Sebab, balita tidak mungkin bisa datang ke Posyandu sendiri, tanpa pendamping atau orang tua.
"Makanya, salah satu tindakan yang akan kami lakukan sebagai intervensi stunting tahun 2026 dengan gerakan serentak, salah satu gerakan yang berkaitan dengan gizi ini adalah gerakan serentak penimbangan balita di seluruh Bantul. Kami sudah lapor ke pimpinan, semoga bisa dilakukan eksekusi pada Februari atau Maret 2026," pinta dia.
Nantinya, semua stakeholder di Bumi Projotamansari diajak terlibat mendorong orangtua yang memiliki balita, agar balitanya datang ke Posyandu untuk dapat ditimbang.
Harapannya, gerakan itu bisa meningkatkan capaian D/S hingga 100 persen, sehingga mampu menekan stunting Bantul dari survei tren prevalensi stunting.
"Intinya dengan penimbangan balita ini untuk pemenuhan gizi anak, bagaimana ibu bisa mengetahui jadwal tepat makan untuk anak, menu tepat dan seimbang pada anak. Menu seimbang itu dalam semua komposisi ya, karbohidrat, protein, lemak, dan lain-lain. Nah itu yang akan kita edukasi," papar dia.
Lebih lanjut, Abed menyampaikan bahwa di Bumi Projotamansari sebenarnya sudah memiliki Community Feeding Center (CFC).
Dalam CFC itu ada program pemberian makan pada anak dan orangtua mendapatkan edukasi untuk mengetahui gizi dan tumbuh kembang anak. Pionir CFC itu di Kapanewon Imogiri dan saat ini bertahap merambah di beberapa wilayah lainnya.
"Harapannya, kalau semua sudah memiliki CFC dan ada satu lokus di masing-masing tempat itu ada ibu dan anak yang dikumpulkan. Jadi, anaknya bisa dikasih makan bareng, edukasi bareng untuk menekan atau mengatasi stunting pada balita," pinta Abed.(*)