TRIBUNBENGKULU.COM - Jajat Suderajat (49), Penjual es gabus asal Kabupaten Bogor yang viral di media sosial kini ramai dicemooh warganet.
Suderajat disebut membohongi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) karena mengaku belum bayar banyak tunggakan sekolah dan kontrakan.
Tidak hanya itu, Suderajat juga disebut berbohong soal motor digunakan untuk anaknya ojek.
Terbaru, Suderajat juga mengubah pengakuan bahwa dirinya mengalami kekerasan dari oknum aparat.
Sebelumnya, ia mengaku mengalami kekerasan fisik dari anggota babinsa dan bhabinkamtibmas.
Namun, di depan Dedi Mulyadi, Sudrajat justru menyebut bahwa kekerasan fisik tersebut dilakukan oleh preman di kawasan Kemayoran.
Suderajat juga mengaku belum mendapat bantuan apapun.
Baca juga: Ternyata Suderajat Penjual Es Gabus Viral Tak Bohongi Dedi Mulyadi, Ini Penjelasan Camat Bojonggede
Selain itu, Suderajat juga perhatian publik setelah mencurahkan isi hatinya di acara televisi Pagi Pagi Ambyar.
Di hadapan Dewi Perssik dan para host, Suderajat menceritakan kronologi lengkap saat dirinya dibawa ke kantor polisi hingga kemudian anggota polisi sujut di kakinya.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah pengakuannya yang kecewa karena hanya menerima sepeda motor dari Kapolres Metro Depok, padahal ia berharap mendapat mobil.
Pengakuan tersebut sontak membuat suasana studio mendadak riuh dan membuat Dewi Perssik memberi respon tak biasa.
Camat Bojonggede Bela Suderajat
Setelah Suderajat ramai dicemooh publik dan dianggap berbohong kepada KDM, dan bikin kesal Dewi Perssik, pihak kecamatan tempat Suderajat tinggal akhirnya buka suara.
Pihak kecamatan menjelaskan kondisi terkini Suderajat (49), pedagang es gabus yang kembali ramai diperbincangkan di media sosial usai bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan muncul di acara TV.
Camat Bojonggede Tenny Ramdhani menegaskan, Suderajat bukan tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Selama proses pembangunan berlangsung, Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan.
“Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu itu, sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” ujar Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Menurut Tenny, proses rehabilitasi rumah Suderajat mulai berjalan sejak Desember 2025.
Ditambah lagi rumah tersebut juga sempat roboh akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun.
Sejak saat itu pula pedagang es gabus ini bersama keluarganya tidak lagi menempati rumahnya sendiri.
Tenny menilai, polemik yang berkembang di media sosial muncul akibat informasi yang tidak utuh mengenai kondisi Suderajat.
Status tinggal di kontrakan kerap dipersepsikan sebagai bukti ketidaksesuaian pernyataan, tanpa melihat konteks rehabilitasi rumah yang sedang berjalan saat ini.
Di tengah cemoohan publik dan beredarnya berbagai rumor kebohongan, Tenny menyebut hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya.
Kondisi itu diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas.
"Lalu kemudian terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya.
Dari hasil asesmen tersebut ada dugaan gangguan mental pascatrauma.
Sehingga komunikasi verbal dengan yang bersangkutan memang cukup terbatas dan sulit.
"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," ungkapnya.
Ia menambahkan, keterangan dari ketua RT dan RW setempat juga menunjukkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat.
Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian (difitnah aparat) serta banyaknya orang yang datang ke rumahnya.
"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya.
Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.
"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)," bebernya.
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.
Dedi Mulyadi Semprot Suderajat
Seperti diketahui, nama Suderajat menjadi perbincangan setelah dihardik Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu (23/1/2026).
Ia dituduh menjual es kue yang terbuat dari spons.
Namun berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Dokkes, es kue yang dijual Jajat aman dikonsumsi.
"Bukan jadi untung, jadi buntung," kata Jajat ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
KDM (Kang Dedi Mulyadi) lantas mempertanyakan soal motor yang diberikan Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras.
"Tapi kan sudah jadi untung bapak dapat motor," kata Dedi.
"Hah ? buat anak," jawab Jajat.
Suderajat mendapat sejumlah bantuan dari banyak pihak.
Pemerintah Kabupaten Bogor memberi logistik makanan, memproses kepersertaan BPJS, bahkan rumahnya direnovasi.
Meski sudah dapat motor, hingga renovasi rumah namun Suderajat belum mendapat bantuan apapun.
"Tapikan bapak juga yang dapat," kata Dedi.
"Bapak yang dapat tapi gigit jari, buat anak semua. Gak ada yang bantu," kata Jajat.
KDM lalu mengingatkan bahwa ia telah mendapat bantuan motor.
"Udah dapat motor, bapak jangan ilang-ilangin," kata KDM.
"Buat anak itu," katanya.
Jajat bahkan curhat merasa sedih karena sejak kejadian Sabtu, ia belum berdagang lagi selama empat hari.
Ia mengatakan akibat tidak berdagang kini tak memiliki pemasukan untuk bayar tunggakan sekolah anak dan kontrakan.
"Kita mau nangis belum bayar kontrakan, bayar sekolah. Rp 1,5 juta," katanya.
Dedi Mulyadi lantas merasa heran karena tunggakan yang disebut Jajat begitu besar.
"Kok gede banget ?" tanya KDM.
"Udah 4 bulan gak bayar-bayar," katanya.
Padahal sebelumnya Jajat mengadukan bahwa anaknya sekolah di sekolah negeri namun tetap dipungut bayaran sebanyak Rp 200 ribu setiap bulan.
"Katanya sebulannya Rp 200 ribu. Harus dipastiin dulu. Saya yakin bukan sekolah negeri. Gak mungkin sekolah negeri SD bayar 200. nanti saya cek deh sekolah," katanya.
Ketika ditanya ulang, Jajat justru mengatakan tunggakan bukan selama empat bulan, melainkan hanya satu bulan.
"Udah sebulan," katanya.
"Bapak ini 4 bulan apa sebulan belum bayarannya ?" tanya KDM.
Jika memang hanya sebulan, berarti tunggakan Jajat harusnya Rp 200 ribu.
Dari situlah Dedi mengingatkan Jajat untuk bicara secara jujur padanya.
"Jangan ngarang, gimana. Kalau ingin hidup maju harus jujur, kalau kitanya tidak jujur nanti banyak dapat susah dalam hidupnya," katanya.
Meski begitu Suderajat tetap meyakinkan Dedi bahkan dia memang menunggak bayaran sekolah.
"Saya aja diomelin sama gurunya, 'mana ? mana duitnya ?" katanya.
Dedi Mulyadi menekankan bahwa tidak ada sekolah negeri di Jawa Barat yang dipungut biaya.
"Udah cek kalau sekolah negeri nanti ngomong sama bupatinya (Rudy Susmanto). Masa sekolah negeri bayaran. Kalau swasta juga tidak wajib bayar kalau tidak mampu," katanya.
Selain nunggak bayaran, Jajat mengaku belum bayar kontrakan.
Di awal dia mengaku membayar kontrakan sebesar Rp 850 ribu per bulan.
"Kontrakan empat bulan belum bayar-bayar," katanya.
"Kali 800. Berapa 800 kali empat ?" tanya Dedi.
"Itung aja sama bapak," kata Jajat.
"Lah bapak ini gimana," katanya.