TRIBUNJATIM.COM - Cita-cita sebagai guru yang dimiliki seorang perempuan bernama Flourensya Aritonang sempat kandas selama 7 tahun.
Kurang lebih 7 tahun wanita ini mengubur cita-cita karena takut dengan jaminan hidup menjadi guru tidak sejahtera.
Persoalan kesejahteraan guru itu seperti tidak bisa ditoleransi oleh Guru Flo ini.
Seiring berjalannya waktu, dia mendapati jalan keluar dengan mengikuti tes untuk menjadi guru di Sekolah Rakyat, program Presiden Prabowo.
Siang itu, Flourensya bersama sebelas rekan seprofesinya sedang berkumpul di aula Sekolah Rakyat-Sentra Insaf Medan, Jalan Bedikari, Kecamatan Kutalimbaru, Sabtu (31/1/2026), dikutip TribunJatim.com dari Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Mereka mendampingi 150 siswa untuk menyambut kedatangan Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Ia begitu bersemangat karena akhirnya bisa mengabdikan diri sebagai pendidik.
Di akhir tahun 2024, ia mulai membulatkan tekadnya kembali.
Diikutinya program Pendidikan Profesi Guru (PPG) hingga tes seleksi untuk menjadi pengajar di Sekolah Rakyat.
Beruntung, warga asal Desa Kuta Tengah, Deli Serdang ini lulus.
Ia amat bahagia.
Akhirnya, dia bisa mengabdikan diri untuk mencerdaskan generasi ke depan.
"Nah, ternyata kalau guru di SR ini statusnya PPPK di bawah Kemensos. Syukurnya, terkait kesejahteraan sudah tidak menjadi persoalan lagi," ucap Flourensya.
Baca juga: Berburu Serpihan Emas di Kali, Warga Pernah Untung Rp3 Juta Sehari, Dapat Anting Utuh & Kalung
Flourensya adalah lulusan Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra.
Setelah tamat, dia menjadi pegawai swasta.
"Selama tujuh tahun tidak kegunakan S.Pd saya itu karena melihat kesejahteraan sebagai honorer tidak mudah untuk dilewati," kata Flourensya.
"Jadi sempat kerja lah saya di swasta yang lari dari jurusanku," tambahnya.
Gajinya menjadi guru kini berkisar Rp3 jutaan ditambah lagi tunjangan intensif.
Belum lagi, menurutnya fasilitas yang diberikan kepada guru cukup memadai.
"Gaji sudah sangat mencukupi kebutuhan terlebih ini panggilan hati. Jadi ini nyaman menjalaninya," ucap Flourensya.
Di samping itu, dia menuturkan mengajar di sekolah rakyat punya tantangan tersendiri bila dibandingkan dengan sekolah reguler.
Peserta didiknya notabene dari kalangan keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Sehingga siswa didominasi putus sekolah atau tak mampu sekolah.
"Jadi masih ada siswa yang belum bisa baca dan tulis padahal sudah jenjang SMP. Tidak bisa menyatukan kata menjadi kalimat juga," ucapnya.
Situasi itu pun menjadi tantangan tersendiri baginya.
Belum lagi, tak sedikit siswa yang lebih kental menggunakan bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia.
Selain itu motivasi siswa untuk belajar juga masih sangat minim. Namun, bagi Flourensya, masalah itu justru membuatnya semakin bergairah untuk mengajar.
"Makanya, cara mengatasinya adalah kami harus menjadi apa yang mereka inginkan dulu," sebut Flourensya.
"Terlebih, SR ini kan sekolah berasrama. Kita harus menyesuaikan juga pembelajaran dengan kebutuhan anak-anak," tambahnya.
Oleh karena itu, di tiga bulan pertama, dia bersama guru-guru lainnya konsen untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Salah satu langkah jitu, dengan menciptakan suasana pembelajaran interaktif yang asyik dengan sarana smartboard.
"Jadi kita bisa memberikan materi dengan video. Kadang kan anak ini lebih suka yang visual. Dan terbukti, tiga bulan pertama, motivasi belajar mereka meningkat," ucap Flourensya.
Di samping itu, guru-guru turut fokus untuk memberikan pendidikan karakter.
Setiap siswa diajak saling mengenal satu sama lain.
Sehingga dalam enam bulan, para siswa sudah bisa menerima kekurangan dan perbedaan masing-masing.
"Langkah itu sekaligus untuk mencegah terjadinya bullying, diskriminasi, atau hal lainnya yang dapat mengganggu pertumbuhan anak," ungkapnya.
Hal senada turut disampaikan, Eka Lestari (29), yang sehari-hari mengajar sebagai guru mata pelajaran teknologi informasi.
Warga Desa Sei Mencirim ini sudah aktif mengajar sejak Juli 2025.
"Sebelumnya saya guru honorer di sekolah swasta. Kalau dari segi gaji tentu ini lebih sejahtera. Cuma saya merasakan tantangan yang lebih besar," ucap Eka.
Di awal-awal, ia terkejut mendapati masih ada dua puluh lima siswa yang tak bisa membaca sama sekali apalagi melek teknologi.
"Makanya harus ekstra. Berangkat dari kondisi itu lah kami buat kelas khusus untuk baca tulis," sebutnya.
Menurutnya hal yang paling membedakan sekolah rakyat dengan sekolah reguler ialah sistem boarding school.
Artinya, siswa tidak hanya dipantau secara akademik namun kebiasaannya juga di asrama.
"Ya tapi jadi lebih asyik dan tertantang juga jadinya kita sebagai guru. Apalagi latar belakang siswa ini kan kebanyakan memang minim motivasi belajar. Tapi di situ lah peran kita sebagai pendidik," ujarnya.
Ia pun berharap agar program sekolah rakyat dapat berkembang dengan baik sehingga misinya meretas kemiskinan melalui pendidikan dapat terwujudkan.
"Semoga saja siswa betah dan potensinya berkembang untuk mencapai cita-citanya. Itu sudah jadi bagian dari keinginan kami juga sebagai guru," ujarnya.