Laporan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Universitas Indonesia (UI) menargetkan tembus peringkat 100 universitas terbaik dunia pada perayaan dies natalis ke-76, Senin (2/6/2026).
Saat ini, UI masuk ke dalam 200 besar dunia, tepatnya di peringkat 189 versi QS World University Ranking.
Rektor UI, Heri Hermansyah menjelaskan, fokus menembus peringkat 100 besar dunia menjadi arahan dari Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: UI-Meksiko Jajaki Kolaborasi Strategis, UNAM Incar Kemitraan Akademik
“Kita mendengar sendiri bahwa di laporan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo, beliau menyampaikan apresiasi bahwa untuk pertama kalinya UI menjadi satu-satunya universitas yang berhasil menembus ranking 200 dunia,” kata Heri di lokasi.
“Setelah breaking 200, langkah berikutnya adalah bagaimana caranya untuk breaking 100 seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden,” sambungnya.
Tantangan UI Tembus 100 Besar Dunia
Kata Heri, UI masih memiliki sejumlah tantangan untuk menembus peringkat 100 universitas terbaik dunia. UI masih memiliki skor rendah dalam kategori dampak riset (innovation impact).
Skor sitasi UI saat ini masih di angka 3,9, jauh tertinggal dari universitas di Malaysia yang berada di rentang 10 hingga 40.
Untuk menembus 100 universitas besar dunia, UI perlu mencapai skor sitasi minimal di angka 20.
Heri menekankan, perlunya strategi perbaikan untuk meningkatkan dampak riset dan sitasi dengan berbagai langkah.
“Untuk meningkatkan dampak riset inovasi ini, ada beberapa hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan SDM,” ujarnya.
Nantinya, UI akan merekrut dosen yang memiliki rekam jejak riset kelas dunia dan hasil penelitian yang banyak disitasi.
Tak hanya itu, pihaknya akan menyediakan fasilitas riset yang mendukung topik-topik frontier terkini.
”Selanjutnya meningkatkan tunjangan bagi peneliti agar mereka dapat fokus bekerja penuh waktu (full-time) tanpa harus mencari pekerjaan sampingan,” ujarnya.
Heri menambahkan, memperkuat kerja sama antara universitas lokal dengan internasional, serta sinergi dengan dunia usaha dan industri juga menjadi fokus UI.
Pasalnya, menurut Heri, kebanyakan riset masih bersifat "katak dalam tempurung," di mana tema ditentukan dosen dan dana berasal dari internal/pemerintah, sehingga hasilnya seringkali hanya berakhir di perpustakaan.
“Riset harus didasarkan pada masalah nyata di dunia industri. Perusahaan diharapkan mengalokasikan dana riset ke universitas agar terjadi interaksi antara dosen dan praktisi untuk menciptakan inovasi yang dapat langsung diterapkan,” pungkasnya. (m38)