TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Dentuman palu yang beradu dengan kayu memecah keheningan di kawasan hunian sementara layak (Hunsela) Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (2/2/2026).
Di sana, denyut kehidupan baru mulai berdetak, mencoba menghapus trauma panjang akibat banjir bandang yang menghantam permukiman warga pada penghujung tahun 2025 lalu.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi menunjukkan kesibukan yang tak henti sejak pagi hari.
Sejumlah prajurit TNI masih tampak berjibaku membangun fasilitas sanitasi, termasuk jamban (WC) umum bagi warga.
Di sudut lain, warga saling bahu-membahu bergotong-royong merapikan area hunsela sembari mulai mencicil pembangunan hunian tetap (Huntap).
Baca juga: 10 Huntap di Kapalo Koto Mulai Dibangun, Pemko Padang Juga Siapkan 600 Unit di Tiga Lokasi
Material bangunan berupa gundukan pasir dan tumpukan batu kali sudah tersusun di beberapa titik.
Material ini menjadi simbol harapan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal agar bisa segera memiliki hunian yang lebih permanen dan kokoh di masa depan.
Di dapur umum, aktivitas memasak masih terus berlangsung.
Deretan perlengkapan masak yang tertata rapi menunjukkan bahwa kebutuhan dasar pangan warga masih menjadi prioritas utama dalam masa transisi ini.
Kehidupan kolektif di pengungsian perlahan bergeser menjadi kehidupan komunitas yang mulai tertata.
Endrawati, salah seorang penyintas asal Kelurahan Kapalo Koto, telah menghuni unit hunsela miliknya sejak diresmikan pada Senin pekan lalu.
Bagi Endrawati, pindah ke hunian sementara bukan sekadar berpindah tempat tidur, melainkan upaya untuk berdamai dengan kenyataan pahit yang menimpanya.
"Kami mulai menata hidup di sini, berangsur-angsur mencoba mencari kedamaian dengan keadaan yang ada," ujar Endrawati.
Baca juga: Warga Kapalo Koto Keluhkan Minimnya WC dan Listrik Usai Huni Hunsela, 10 Unit MCK Segera Rampung
Ia mengaku jauh lebih tenang tinggal di bangunan hunsela, dibandingkan harus terus dihantui ketakutan saat berada di rumah lamanya yang terdampak bencana.
Meski kini telah memiliki tempat bernaung yang baru, ikatan emosional dengan rumah lama belum sepenuhnya putus.
Sesekali, Endrawati masih menyempatkan diri untuk menengok dan membersihkan sisa-sisa kenangan di rumahnya yang lama, meskipun ia tahu tempat itu tak lagi aman untuk ditinggali secara menetap.
Trauma akibat banjir bandang akhir tahun lalu memang meninggalkan luka yang dalam secara psikologis.
Bayang-bayang air bah yang meluap masih kerap muncul, terutama saat langit Padang mulai mendung dan rintik hujan turun membasahi bumi.
Masalah ekonomi juga menjadi tantangan besar pascabencana. Lahan sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga kini telah berubah wajah secara drastis.
Hamparan hijau itu telah berganti menjadi aliran sungai yang dipenuhi batuan dan material sisa banjir.
"Sawah sudah tidak bisa ditanami lagi, sekarang sudah jadi seperti sungai. Kami dipaksa memutar otak, mencari cara lain agar dapur tetap mengepul dan hidup tetap berlanjut," kata Endrawati.
Baca juga: Akses Jalan Belum Diperbaiki Pasca Ambles, Warga Gotong Royong Buka Jalur Baru di Agam
Secara teknis, Hunsela yang dibangun pemerintah ini memberikan rasa aman yang lebih baik.
Saat hujan deras mengguyur, warga tidak lagi khawatir air akan masuk ke dalam ruangan.
Kehadiran fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang sedang dalam proses pengerjaan juga memberikan optimisme akan terjaganya kualitas kesehatan lingkungan.
Kisah pilu lainnya datang dari Nurhayati, warga yang rumahnya hilang tersapu arus hingga tak bersisa.
Senin siang, ia tampak sibuk menyiapkan makanan di dalam unit Hunsela yang kini ia huni bersama keluarganya.
Baginya, Hunsela adalah titik nol untuk memulai segalanya dari awal. Menghuni ruang yang terbatas di hunian sementara menuntut warga untuk pandai-pandai beradaptasi.
Nurhayati mengakui bahwa kenyamanan fisik mungkin tidak sebanding dengan rumah yang dulu ia miliki, namun keamanan nyawa adalah prioritas yang tak bisa ditawar.
Baca juga: Tanggul Jebol Picu Air Naik Mendadak di Pasar Lalang Padang, 3 Rumah Hancur Diterjang Batu dan Kayu
Namun, sisi traumatis tetap sulit dihilangkan sepenuhnya. Nurhayati menceritakan bagaimana memori kelam tentang bencana itu akan kembali menyerang pikiran setiap kali hujan turun.
Suara gemuruh air di masa lalu seolah menjadi hantu yang terus membayangi setiap kali cuaca memburuk.
Meskipun demikian, secara umum fasilitas dasar di lokasi Hunsela tersebut dinilai cukup memadai.
Kebutuhan air untuk mandi dan keperluan sanitasi lainnya hingga saat ini masih terpantau aman dan tercukupi bagi seluruh pengungsi.
Kini, warga Kapalo Koto tengah merajut kembali sisa-sisa hidup mereka.
Di antara tumpukan pasir dan batu untuk huntap, terselip doa agar bencana tak lagi menyapa, dan kehidupan yang lebih baik bisa segera terbangun di atas tanah yang baru.