TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Dampak dari lokasi syuting Lisa BLACKPINK, setidaknya 60 pedagang tak berjualan selama proses produksi film.
Lisa sedang menjalani proses syuting film Extraction: Tygo di kawasan Kota Tua Jakarta.
Wilayah bersejarah itu, dijadikan lokasi syuting namun berdampak pada pedagang kecil yang ada di sana.
Puluhan pedagang yang setiap harinya berjualan menggantungkan nafkah, justru harus rehat sejenak.
Mulai dari tanggal 1 Februari hingga 7 Februari 2026, mereka tak berjualan.
Gegara tak berjualan, para pedagang lantas menuntut ganti rugi atau uang kompensasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diberikan secara merata.
Walaupun adapula yang masih berjualan, namun pendapatannya pun terbatas.
Baca juga: Sinopsis Tygo, Film Korea Terbaru Ma Dong Seok, Lee Jin Uk, Lisa BLACKPINK, Kapan Tayang di Netflix?
Dikutip Tribunnews.com, sebelumnya, proses syuting juga telah digelar pada 28 dan 29 Januari 2026 di Jalan Kunir yang masih berada di kawasan Kota Tua.
Salah satu pedagang warung kelontong di Jalan Cengkeh, Sunarjo, mengaku omzet usahanya menurun drastis akibat penutupan arus lalu lintas selama syuting berlangsung.
“Jelas terasa banget dampaknya. Ini kan enggak ada yang lewat. Yang beli juga bisa kehitung berapa orang sekarang,” ujar Sunarjo saat ditemui di Jalan Cengkeh, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, walaupun lokasi syuting tak berada di dekat dagangannya, namun ia juga terkena imbas gegara penutupan jalan.
Sehingga, dirinya pun berharap mendapat uang kompensasi di lokasi binaan (Lokbin) Kota Intan maupun sejumlah pedagang kaki lima (PKL) lainnya di kawasan Kota Tua.
“Kemarin emang udah didata sama pemerintah katanya mau buat kompensasi. Tapi enggak tahu kapan cairnya. Harusnya sih kompensasinya jelas dan rata. Karena kan ini kaitannya sama urusan ekonomi,” tuturnya.
Masih dikutip dari Tribunnews.com, para pedagang terpal yang berada di lokasi syuting belum menerima kompensasi.
Mereka menyebut masih bernegosiasi tentang hal tersebut.
“Sampai sekarang masih diobrolin. Semoga ada titik temu,” ujar salah satu pedagang terpal yang enggan disebutkan namanya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Barat memastikan adanya kompensasi bagi pedagang yang berjualan di Lokbin Kota Intan yang terdampak penutupan lokasi akibat syuting film tersebut.
“Tentunya Pemprov DKI tetap memperhatikan kesejahteraan pedagang dengan memberikan kompensasi atas kegiatan tersebut,” kata Kepala Suku Dinas PPKUKM Jakarta Barat, Iqbal Idham Ramid, saat dikonfirmasi.
Berdasarkan data Suku Dinas PPKUKM Jakarta Barat, terdapat sebanyak 60 pedagang di Lokbin Kota Intan yang tidak dapat berjualan selama proses syuting berlangsung.
“Total ada 60 pedagang per 31 Januari sampai 1 Februari (tentatif),” jelas Iqbal.
Ia menambahkan, penutupan kawasan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil rapat yang digelar pada 15 Januari 2026 dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan terkait.
“Pada rapat tersebut, pihak JXB memaparkan rencana pelaksanaan shooting yang akan dilakukan di beberapa titik kawasan Kota Tua,” ucapnya. Menurut Iqbal, pihak JXB juga menyampaikan arahan dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menargetkan Jakarta sebagai Kota Cinema, dengan Kota Tua menjadi salah satu lokasi utama pengambilan gambar film berskala internasional.
Kawasan Kota Tua Jakarta tengah jadi perbincangan lantaran dijadikan lokasi syuting film terbaru yang dibintangi Lisa BLACKPINK berjudul Extraction Tygo.
Setelah di Jalan Kunir yang syutingnya digelar pada akhir Januari 2026, kali ini syuting di kawasan Kota Tua diadakan di Jalan Cengkeh yang berlangsung sejak 1 sampai 7 Februari 2026.
Selama proses syuting berlangsung, arus lalu lintas di kawasan tersebut ditutup dan steril dari kendaraan yang melintas.
Pantauan TribunJakarta.com di Jalan Cengkeh pada Senin (2/2/2026) siang, tampak jalanan di lokasi tersebut dibuat seakan menjadi lokasi kerusuhan besar.
Pemandangan jalanan pun kini dipenuhi oleh tumpukan karung pasir dan tong besi yang disusun menyerupai barikade pertahanan di tengah jalan.
Tak hanya itu, beberapa unit kendaraan mulai dari mobil, kendaraan bak terbuka, hingga bus diletakkan di tengah jalan dalam kondisi ringsek dan miring, seolah baru saja diamuk massa atau terkena ledakan.
Yang paling mencolok tulisan "Save Myanmar" yang terpampang di sejumlah titik lokasi syuting.
Selain itu, ada pula tulisan "STOP THE WAR", dan "WE WANT DEMOCRACY" yang mengisyaratkan bahwa latar belakang cerita film ini kemungkinan besar mengangkat isu konflik politik di Myanmar.
Coretan grafiti bertuliskan "ANTI VIOLENCE" pun menghiasi bodi mobil yang penyok, menambah kesan dramatis kerusuhan di lokasi tersebut.
Sedangkan Lokbin Kota Intan Kota Tua yang berada di set syuting pun kini ditutup sementara dan steril dari aktivitas jual beli.
Meski proses syuting utama belum dimulai, aktivitas di lokasi sudah terlihat sangat sibuk dengan pembuatan set yang masih berlangsung.
Sejumlah petugas Satpol PP hingga petugas keamanan produksi pun terlihat berjaga di sekitar area untuk mengamankan lokasi.
Para kru film tampak hilir mudik melakukan setting akhir, menata puing-puing, menyebar ban bekas, bahkan memindahkan mobil yang telah menjadi rongsok.
Adanya proses syuting film internasional di kawasan Kota Tua Jakarta ditanggapi beragam oleh warga dan para pedagang di kawasan tersebut.
Mereka mengaku baru kali ini melihat langsung jalannya syuting film meskipun hanya menyaksikan dari kejauhan.
"Pas syuting ini harus steril. Kita gabisa ngedeket ke lokasi. Cuma dari jauh aja lihatnya tapi emang ga keliatan pemainnya siapa aja, termasuk apa ada Lisa BLACKPINK atau enggak, saya juga gatau," ujar Irma (31) karyawan toko yang berada di Jalan Cengkeh.
Namun komentar berbeda disampaikan oleh Yoga (34) yang kebetulan sedang berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta.
Ia menyayangkan jika lokasi syuting digambarkan sebagai negara Myanmar.
"Harusnya kan kalau emang syutingnya di Jakarta, ya suasananya Jakarta aja biar sekaligus promosiin Jakarta kan.
Tapi kalau dibuat seolah-olah ini di Myanmar, ya kenapa syutingnya jauh-jauh ke sini. Kan mungkin bisa di studio aja nanti pakai bantuan teknologi kan udah canggih itu tanpa harus ke Jakarta," paparnya.
(TribunJakarta)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)