'Kami Mohon Maaf' Anak Suderajat Pedagang Es Gabus Buka Suara Setelah Ayahnya Dicap Pembohong
February 03, 2026 07:51 AM

TRIBUNJAKARTA.COM  - Keluarga pedagang es gabus bernama Suderajat (49), akhirnya buka suara terkait polemik yang menyeret nama ayahnya sehingga memicu reaksi keras publik.

Sang anak, Andi, meluruskan tuduhan yang menyebut Suderajat memberikan keterangan tidak jujur saat diwawancarai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi di YouTube-nya. 

Andi menegaskan, pernyataan ayahnya yang dinilai tidak sesuai fakta bukan karena menipu. 

"Kami mewakili bapak, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Terima kasih kepada seluruh donatur yang sudah menyisihkan rezeki untuk bapak saya. Semoga Allah membalas kebaikan, saya hanya bisa berdoa," kata Andi, anak Suderajat, kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

Ia meluruskan bahwa sang ayah saat ini terindikasi mengalami gangguan kejiwaan pascatrauma. 

Kondisi tersebut muncul setelah Suderajat sempat dituduh menjual es gabus berbahan spons yang kemudian viral. 

Mental Suderajat pun tertekan. 

Hasil diagnosis sementara itu didasarkan pada tinjauan awal pihak Kecamatan Bojonggede. 

Soal Rumah

Ia meluruskan ucapan Suderajat kepada Dedi Mulyadi soal rumah yang dinilai kebohongan. 

Suderajat kala itu menjelaskan bahwa dirinya dan keluarga tinggal mengontrak bukan memiliki rumah pribadi. 

Andi menjelaskan bahwa Suderajat dan keluarga saat ini menempati rumah kontrakan sejak Desember 2025 karena rumah pribadi mereka sedang direnovasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Pemerintah Kabupaten Bogor.

"Beliau memang punya rumah tapi sedang proses perbaikan atau renovasi melalui program RTLH. Proses renovasi sudah berjalan sejak Desember 2025," ungkap Andi.

Selain itu, kondisi kejiwaan tersebut juga berdampak pada kemampuan komunikasi Suderajat.

"(Kondisi gangguan tadi) menyebabkan komunikasi secara verbal terhadap yang bersangkutan menjadi terbatas dan ada kesulitan," jelas Andi.

"Sebagai anak, kami mewakili bapak kami sangat mohon maaf apabila kalian semua sangat kecewa," lanjut dia.

Senada dengan pihak kecamatan

Pihak Kecamatan Bojonggede, wilayah tempat tinggal Suderajat pun juga mengatakan hal yang sama. 

Pihak Kecamatan Bojonggede mengungkapkan pembelaannya di balik ketidakjujuran Suderajat. 

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan mengenai fakta hasil asesmen lintas instansi yang menyebut adanya indikasi disabilitas mental terhadap diri Suderajat dan istrinya. 

Perilaku Suderajat yang kerap memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya, termasuk saat berbincang dengan Dedi Mulyadi, bukan semata-mata karena bohong. 

Menurut pihak kecamatan, ada dugaan gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istri. 

"Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya seperti dikutip dari Kompas.com Jumat (30/1/2026). 

Kondisi tersebut membuat Suderajat kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten. 

Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama. 

Kemudian kondisi itu diperparah dari tekanan setelah peristiwa yang menimpanya. 

"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," ungkapnya.

Tenny melanjutkan keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat. 

Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya, lalu diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral.

"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya. 

Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.

"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)," bebernya.

Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.

Awal mula viral

Suderajat pun menceritakan kronologi kejadian sebelum dirinya mendapatkan intimidasi.

Saat itu, ada seorang anak perempuan yang membeli dagangannya.

Menurut Suderajat, anak itu baru pertama kali membeli es kue jualannya.

"Anaknya polisi cewek beli, terus dibejek-bejek, kata dia dari spons bedak," tutur Suderajat.

Padahal Suderajat sudah meyakinkan sang anak bahwa itu es asli, bukan palsu.

Kemudian setelah itu, kata dia, datanglah beberapa oknum aparat dan langsung menginterogasi dirinya.

"Datang 10 orang, saya ditonjok, 'ngaku gak lu, ngaku gak lu'. Saya udah ngomong, tapi budek dia," katanya kesal.

Padahal menurut Suderajat, dirinya sudah berjualan di sekolah tersebut selama 10 tahun.

Selama ini, kata dia, tidak ada anak sekolahan yang komplain dengan dagangannya.

"Sudah jualan di tempat itu 10 tahun, anaknya itu baru pertama kali beli," kata dia.

Setelah itu, Suderajat pun dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut.

Tak hanya itu, es kue dagangannya juga turut diperiksa.

"Dibawa ke kantor polisi, baru dipulangin jam 3 subuh. Es nya dites, ternyata asli. Terus pada minta maaf ke saya, sampe suduj di kaki," tuturnya.

Sehari-hari, kata Suderajat, dirinya bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu sebagai keuntungan.

"Harga es Rp 2.000 dari sananya (modal) Rp 500, habis 150 buah. Setor Rp 75 ribu, bisa bawa pulang Rp 300 ribu sehari," ungkap dia lagi.

Namun hingga saat ini Suderajat mengaku masih belum berani berjualan lagi.

"Belum jualan lagi, takut diincer, takut dibunuh," katanya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.