FOMO Emas Digital, Investor China Rugi Miliaran Yuan Usai Tak Bisa Dicairkan
kumparanBISNIS February 03, 2026 09:57 AM
Lonjakan harga emas di China membuka sisi gelap maraknya aplikasi jual beli emas digital. Sejumlah platform investasi berbasis daring dilaporkan gagal mencairkan dana investor, memicu protes dan potensi kerugian hingga miliaran yuan.
Salah satu kasus terbesar menimpa aplikasi Jie Wo Rui, platform perdagangan emas berbasis di Shenzhen. Ratusan investor mendatangi kantor perusahaan tersebut untuk menuntut pengembalian dana dan emas yang mereka beli setelah platform itu disebut tak mampu memenuhi permintaan pencairan secara penuh.
Sebagian investor datang dari luar kota, bahkan membawa anak-anak. Menurut rekaman video yang dibagikan peserta protes, situasi sempat memanas dan terjadi gesekan dengan aparat. Banyak investor mengaku terkejut setelah mengetahui dana mereka tidak bisa ditarik, meski transaksi dilakukan melalui platform digital yang selama ini aktif mempromosikan keuntungan cepat dari reli emas.
Jie Wo Rui merupakan satu dari ratusan aplikasi investasi kecil-menengah di China yang memanfaatkan media sosial untuk menarik investor ritel yang takut ketinggalan atau FOMO (fear out missing out) atau agar ikut dalam tren kenaikan harga emas. Euforia tersebut didorong lonjakan harga logam mulia yang menghasilkan imbal hasil jauh lebih tinggi dibandingkan saham maupun aset kripto.
Perbesar
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock
Pemerintah Distrik Luohu di Shenzhen menyatakan telah membentuk satuan tugas khusus untuk memantau operasional Jie Wo Rui. Otoritas setempat menyebut pemilik dan manajemen inti perusahaan masih berada di tempat dan sedang berkomunikasi dengan investor, memverifikasi klaim, meninjau aset, serta mengupayakan proses pengembalian dana.
Namun, upaya menghubungi pihak perusahaan tidak membuahkan hasil. Panggilan ke kantor Jie Wo Rui tak dijawab, akun media sosial perusahaan telah dihapus, dan regulator setempat juga tidak memberikan respons.
“Ini adalah kasus terbesar yang pernah saya lihat,” kata Huang Jian, pengacara berbasis di Shenzhen yang menangani sengketa investasi emas dikutip dari Bloomberg, Selasa (3/2).
Ia menyebut beberapa platform emas digital lain mengalami masalah serupa dalam beberapa bulan terakhir, dengan total potensi kerugian mencapai 10 miliar yuan atau sekitar USD 1,4 miliar.
Menurut Huang, banyak platform kecil tidak memiliki mekanisme lindung nilai yang memadai untuk menghadapi lonjakan harga ekstrem. “Banyak pemilik platform kehilangan seluruh tabungan mereka dalam semalam karena harus menutup posisi saat harga emas melonjak,” ujarnya.
Meroketnya harga emas yang dimulai sejak 2023 memang semakin gila-gilaan naiknya pada akhir 2025 dan awal tahun ini. Arus dana ke ETF emas di China mencetak rekor, sementara aktivitas perdagangan logam mulia melonjak drastis. Namun, di balik euforia tersebut, kasus Jie Wo Rui menjadi peringatan bahwa spekulasi berlebihan di platform digital menyimpan risiko besar bagi investor ritel.